Wawancara Khusus dengan Kepala BNN, Komjen Pol. Gories Mere

oleh
Kepala BNN, Komjen Pol. Gories Mere

RAKYAT SULSEL . Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) tahun 2012 kali ini dipusatkan di Makassar. Badan Narkotika Nasional (BNN) tentunya telah memiliki sejumlah agenda dan program yang akan disampaikan bertepatan dengan pelaksanaan HANI hari ini. Apa saja substansi penting akan disampaikan BNN ? Berikut petikan wawancara dengan Kepala BNN, yang juga mantan President International Drug Enforcement Conference (IDEC) Komjen Pol Gories Mere, saat diwawancarai wartawan Rakyat Sulsel, Sili Suli, di warkop Tong San Makassar, Senin (25/6) kemarin:

 

“2015, INDONESIA HARUS DRUG FREE ”

 

-  Apa saja isyu penting dan substansi utama pada Hari Anti Narkoba Internasional tahun ini ?

+ Sebenarnya PBB menetapkan tanggal 26 Juni ini sebagai remark, atau untuk mengingatkan kembali kepada seluruh masyarakat dunia akan bahaya narkoba yang bisa mengancam generasi bangsa di seluruh dunia. Jadi PBB ingin  agar masyarakat dunia waspada akan ancaman narkoba, baik terhadap bahaya ilegal traficking atau perdagangan gelap narkoba dan sindikat narkoba ini yang memang harus dihancurkan. Kedua, terkait dengan masalah pencegahan bahaya narkoba. Nah, untuk masalah pencegahan ini, akan berbagai sektor lagi. Ada sektor kampanye, ada sektor pemberdayaan masyarakat agar masyarakat bisa menolak narkoba dan bisa jadi imun, serta ada sektor rehabilitasi. Untuk sektor rehabilitasi ini, diupayakan agar bagaimana para korban narkoba yang merupakan user ini bisa pulih kembali dan tidak mengunakan narkoba lagi. Kalau user narkoba ini bisa mencapai zero ground maka secara otomatis akan memutuskan tali suplai narkoba dari tangan pedagang, pengedar dan bandar narkoba yang selama ini menjaga mata rantai peredaran narkoba kepada para pecandu. Kalau pemakai narkoba sudah tidak ada, maka demand-nya juga akan hilang. Itu kuncinya.

 

– Dari ketiga sektor ini, mana yang merupakan prioritas utama BNN ?

+ Ada dua hal yang merupakan prioritas BNN dan juga PBB. Pertama, harus ada keseimbangan untuk menangani suplai dan demand. Yang kedua, harus sustainable. Tidak boleh hanya dikerjakan sekarang saja, kemudian berhenti. Contohnya, soal keseimbangan tadi, tidak bisa kita hanya fokus untuk memberantas  pengedarnya saja, tapi mengabaikan pemakainya. Kita terus menghantam sindikat, sementara di sisi lain user ini membengkak. Kalau user narkoba ini meningkat, sama saja kita mengundang sindikat narkoba dari seluruh dunia datang ke Indonesia. Demikian juga kalau kita hanya menangani demand dari user, dan memulihkan mereka dari pengaruh narkoba, tapi kita tidak memutuskan jaringan perdagangan narkoba, itu juga tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi masalah narkoba ini harus ditangani secara seimbang. Yang kedua, harus sustainable. Kita ada program namanya Drug Free ASEAN. Ada juga Drug Free Indonesia 2015. Ini suatu slogan dimana di situ ada suatu kriteria yang ingin dicapai secara bertahap di  masing-masing bidang tadi. Di bidang pencegahan. kampanye besar-besaran agar masyarakat bisa berdaya menolak narkoba dan bisa imun. Kita mengajak keluarga-keluarga yang sudah tercandu narkoba atau mengalami ketergantungan narkoba, untuk mengikuti program rehabilitasi agar bisa pulih. Semua program ini memiliki target capaian tiap tahun atau bench mark yang terukur prosentasinya. Dari titik awal kita sebut base-line dan ada bench mark di tahun 2015 yang harus kita capai.  Jadi setiap tahun kita ukur mana program bidang pencegahan yang sudah tercapai, mana program pemberdayaan masyarakat yang sudah dilaksanakan dan mana program rehabilitasi yang sudah berhasil dijalankan.  2015, itu kita jadikan tahap pertama untuk mencoba dan berusaha bersama-sama seluruh komponen bangsa dan masyarakat, serta pemerintah di depan, menuju slogan Drug Free Indonesia. Selanjutnya nanti dari situ kita melangkah ke bench mark berikutnya yaitu Drug Free ASEAN yang mana slogan ini akan dikerjakan secara serius oleh seluruh pemimpin negara-negara di ASEAN. PBB juga sangat memperhatikan masalah ini dan meminta perhatian serius para pemimpin dunia akan hal ini.

 

– Bagaimana progres yang sudah dicapai BNN di bidang pemberantasan narkoba ?

+ Kita harus putuskan dan hancurkan semua mata rantai jaringan narkoba ini. Kemarin, Indonesia mendapatkan kepercayaan dunia untuk melaksanakan sidang tahunan yang bernama International Drug Enforcement Conference (IDEC) yang ke-29. Sidang ini  diikuti oleh para pimpinan penegak hukum dari 120 negara. Badan penegak hukum masalah narkoba ini berbeda-beda di tiap negara. Ada yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri, dan ada juga yang hanya dipimpin oleh Deputi Menteri Dalam Negeri. Kalau di Indonesia, ada BNN yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Selama 28 kali, sidang IDEC ini hanya dilaksanakan di Amerika Utara, Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Eropa. Dan hanya merekalah yang berganti-ganti menjadi President IDEC. Baru kemudian dua tahun lalu, Indonesia secara aklamasi mendapatkan kepercayaan menjadi President IDEC periode 2011-2012 lalu. Dan ini untuk pertama kalinya President IDEC dipegang oleh negara di luar benua Amerika dan Eropa. Jadi kita sempat memimpin IDEC ini dan terakhir pada sidang IDEC di Bali beberapa waktu lalu, kita menyusun mapping, bagaimana target untuk mengejar sindikat-sindikat narkoba dunia pada level global dan regional. Di sini kita bentuk working grouworking group. Jadi untuk regional Asia Timur Jauh, Indonesia juga yang memimpin working groupnya. Jadi kita bersama-sama dengan negara-negara Asia Timur Jauh ini, juga telah menetapkan mana target-target yang harus kita capai pada tahun ini dan tahun berikutnya. Untuk President IDEC ke-30 ini, dipimpin oleh seorang Jenderal Bintang Empat dari Rusia. Jadi Rusia sekarang yang memimpin drug enforcement dunia. Dan nantinya kita bersama-sama dengan negara-negara lain akan merapatkan barisan untuk menentukan mana target yang harus dicapai secara global dan mana yang di tingkat regional.

 

– Tahun ini BNN beberapa kali berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba. Apakah ini berarti Indonesia merupakan salah satu pasar utama sindikat narkoba internasional ?

+ Apa yang dikerjakan oleh para kartel dan sindikat internasional sama saja, yaitu bagaimana mereka dengan segala cara mengupayakan agar masyarakat suatu negara itu bisa terbius dan bergantung kepada narkoba. Jadi bukan hanya di Indonesia saja.  Mereka bergerak tanpa mengenal batas-batas negara dan mereka memiliki jejaring di setiap negara. Sebab itu kita seluruh para penegak hukum dari seluruh dunia harus bergandengan tangan dan membentuk jejaring di seluruh dunia untuk melawan sindikat dan kartel narkoba internasional ini. Kalau kita berjalan sendiri-sendiri, kita akan lengah dan mereka tahu dimana dan bagaimana cara memasukkan narkoba ke suatu negara. Makanya, kita selalu rapat  bersama setiap tahun, ini agar bisa menguruangi batas-batas negara dan memuluskan pengejaran sindikat ke negara lain. Ada kewenangan khusus yang diberikan oleh PBB kepada penegak hukum untuk memberantas sindikat narkoba ini, seperti control delevery (Pengawasan Terselubung) atau undercover buy (Pembelian Tersamar) untuk memancing keluarnya sindikat. Kalau di Indonesia, undercover  buy ini memang tidak diperkenankan secara hukum acara. Tetapi karena untuk membongkar suatu sindikat narkoba ini susahnya bukan main, maka oleh PBB diberikan suatu kewenangan khusus untuk melakukan undercover buy, agar memudahkan identifikasi sindikat narkoba yang beroperasi. Untuk Control Delivery, itu juga sangat membantu penegak hukum suatu negara untuk mengetahui darimana suatu barang akan masuk, dan siapa penerimanya. Sehingga kita bisa mengirim agen untuk membuntuti siapa pengirim dan penerimanya, sehingga kita bisa cegat dan putuskan. Jadi kita bisa tahu oh, ada narkoba yang mau masuk dari Kamboja. Oh, ada narkoba yang mau masuk dari Afghanistan atau dari China. Kita juga bekerjasama untuk mengetahui bagaimana uang mereka yang mungkin tidak ada serinya itu dicuci. Uang mereka itu harus dihancurkan agar mereka tidak bisa leluasa beroperasi. Sindikat narkoba itu harus dibuat semiskin-miskinnya dan harus dibuat nol. Sebab kalau mereka masih punya uang yang bermilyar-milyar, maka mereka masih bisa bergerak bahkan mengendalikan perdagangan narkoba dari balik penjara. Jadi salah satu target penting dalam pemberantasan narkoba ini adalah bagaimana menghancurkan jaringan keuangan mereka.

 

 

– Apa yang diharapkan BNN  maupun IDEC dari masyarakat Indonesia pada momentum Hari Anti Narkoba Internasional kali ini ?

+ Kita kemarin sudah melaksanakan sidang IDEC, itu  khusus di bidang drug enforcement. Untuk PBB sendiri lebih kepada Think Health atau bagaimana masyarakat bisa berpikir sehat. Nah, tahun ini kita memang ingin agar para user ini bisa kembali sehat. Nah, di Jakarta kita sudah punya Panti Rehabilitasi Narkoba. Makanya sekarang di Makassar, kita buka panti yang sama untuk bisa membantu masyarakat di Indonesia Timur.  Makanya kita anjurkan, sesuai Undang-Undang, agar keluarga-keluarga yang sudah terkena ketergantungan narkoba, wajib untuk membawa anggota keluarganya ke Panti Rehabilitasi Narkoba di Baddoka ini, agar mereka bisa disembuhkan dan direhabilitasi sampai pulih. Kalau para pecandu narkoba dibiarkan saja di luar sana, tanpa perawatan, tanpa pendampingan, kasihan mereka. Keadaannya akan bisa makin parah dan akan terus bergantung kepada narkoba. Hidup dan masa depannya akan semakin hancur. Oleh karena itu mari kita secara sadar dan sukarela, kita ajak warga masyarakat yang sudah tercandu narkoba, untuk ke Panti Rehabilitasi Narkoba. Dari hasil penelitian BNN, ternyata pemakai narkoba ini hampir 60-70% berasal dari kelompok umur 25-40 atau kelompok pekerja (kelompok dewasa). Menyusul kemudian dari kelompok pelajar, antara umur 15-28 tahun. Jadi fokus kita tidak muluk-muluk lagi. Harus kita tajamkan.  Kita ajak semua pekerja, PNS, pegawai swasta, wiraswasta, untuk bergandeng tangan menolak narkoba. Kita masuk ke kampus dan sekolah, untuk memberikan penyadaran akan bahaya narkoba dan menolak narkoba masuk kampus. (*****)

Komentar