oleh

Puspaga PeduliTa Kolaborasi TP PKK Parepare ‘On The Road’ Masifkan Sosialisasi Pencegahan Stunting di 4 Kecamatan

PAREPARE, RAKSUL- Pusat Pembelajaran Keluarga dan Layanan Konseling Keluarga Terintegrasi (Puspaga PeduliTa’) berkolaborasi Tim Penggerak (TP) PKK Parepare ‘on the road’ di empat kecamatan.

On the road yang dilakukan di tingkat PKK Kelurahan, Kecamatan, PKK Remaja, Sabtu, (20/11/2021) sebagai wujud dukungan Puspaga PeduliTa dalam program pemerintah dalam menekan angka stunting.

Tidak hanya sekedar ‘on the road’ semata, namun kegiatan yang dikomandoi Ketua Puspaga PeduliTa’, Sriyanti Ambar ini melibatkan beberapa penyuluh, di antaranya Sekretaris Puspaga PeduliTa, Ayu Dwi Putri untuk memasifkan sosialisasi pencegahan dan tunting. Penyuluh itu membawakan materi tentang Penyebab Stunting. Dalam penjelasannya, ada tiga faktor penyebab stunting di antaranya, kurang gizi (malnutrisi), faktor pola asuh atau kondisi ibu yang terlalu muda atau jarak kehamilan terlalu dekat, dan ketiga rendahnya akses sanitasi yang bersih dan layak.

Penyuluh lainnya, Koordinator Peduli Lansia Ta’, Armayani Sfarm dengan materi pencegahan Stunting menggunakan ramuan sehat dari tanaman obat. Ke depannya akan dibentuk kelompok masyarakat lansia untuk meramu tanaman obat.

Ketua Puspaga Peduli Ta’ Kota Parepare, Sriyanti Ambar, mengatakan, Puspaga Peduli Ta ‘on the road’ merupakan program kerja tetap dan kali ini mengangkat tema Dukung Pemerintah Cegah Stunting.

Ia menyebutkan, angka stunting di kota Parepare berdasarkan data dari Dinkes, mencapai angka 30 persen. Sehingga, Puspaga Peduli Ta’ mengambil peran dalam mengupayakan penurunan angka stunting melalui edukasi dan pembelajaran yang dimulai dari keluarga

“Selain itu, kami juga ingin memperkenalkan Puspaga Peduli Ta’ ini di tingkat Kecamatan dan kelurahan supaya masyarakat Kota Parepare bisa memanfaatkan layanan yang tersedia. Salah satunya konseling secara gratis. Sangat disayangkan ketika layanan yang bermanfaat ini tidak dimanfaatkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Salah satu hasil dari ‘on the road’ yang didapatkan, kata Sriyanti, ada satu wilayah kecamatan yang telah melakukan pengukuran dan didapatkan perbedaan panjang badan yang kurang dari pengukuran sebelumnya.

“Hal ini terjadi dimungkinkan karena faktor ketersediaan sarana dan prasarana termasuk alat pengukuran yg telah terstandar. Selain itu juga merujuk pada edaran bapak gubernur Sulsel dan TP PKK Sulsel dalam waktu dekat ini DP3A bersama PKK Kota Parepare akan menyelenggarakan Bimtek untuk para kader dengan menghadirkan narasumber dari Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Sulsel yang salah satu materinya adalah teknik pengukuran dan standarisasi Alat Ukur,” terangnya.

Ia pun berharap kepada Kader PKK dan PKK Remaja agar dapat memaksimalkan dan menjadi penyambung agar menyampaikan informasi tersebut hingga tingkat terbawah.

“Termasuk diupayakan kader-kader posyandu bisa mampu mengajak warga di wilayah sekitar ia bertugas agar mau secara mandiri dan sadar untuk membawa anak balitanya ke Posyandu. Termasuk diharapkan kepada bapak-bapak agar menemani istrinya ketika mengantarkan anaknya ke posyandu supaya mereka juga bisa tahu tentang perkembangan kesehatan anaknya,” harapnya. (*)