oleh

Covid-19 Melandai, Pemulihan Ekonomi Dinilai Mulai Bergerak

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk mengurangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian.

Selain penanganan krisis kesehatan, Pemerintah juga menjalankan program PEN sebagai respon atas penurunan aktivitas masyarakat yang berdampak pada ekonomi, khususnya sektor informal atau UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah).

Program ini bertujuan melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya selama pandemi Covid-19. Untuk UMKM, program PEN diharapkan dapat memperpanjang nafas dan meningkatkan kinerja UMKM yang berkontribusi pada perekonomian Indonesia.

Menilik data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia Sulawesi Selatan (Sulsel), perekonomian Sulsel pada triwulan III 2021 tumbuh 3,24 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional yang tumbuh 3.51 persen (yoy).

Selain itu, juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya yang mencapai 7,66 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Causa Iman Karana menyebut, pelemahan ekonomi pada triwulan ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 3,51 persen setelah sebelumnya mencapai 7,07 persen.

Penyebab utamanya, kata dia, berasal dari permintaan domestik yang tumbuh melambat seiring kebijakan pembatasan mobilitas di berbagai wilayah untuk mengatasi varian Delta Covid-19.

“Dampak dari PPKM mengakibatkan penurunan pada beberapa kelompok pengeluaran seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 1,03 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,96 persen (yoy),” ucap Iman belum lama ini.

Terpisah, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar, Abdul Muthalib mengatakan, momen saat ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi, apalagi kasus Covid-19 sudah mulai melandai.

Khusus di Sulsel, kata dia, pemerintah provinsi hendaknya bergerak cepat melakukan pemetaan terhadap potensi ekspor yang dimiliki setiap wilayah untuk didorong ke pasar global.

“Ekspor ini sudah mulai berjalan bagus, karena itu, jangan dibuang kesempatan ini. Misal, wilayah selatan Sulsel itu kan banyak hasil laut. Ini harus dikelola lebih baik lagi,” ucapnya.

Potensi pariwisata, kata dia, juga harus mulai kembali dikelola. Dengan pengaktifan kembali destinasi wisata, banyak subsektor pendukung yang bakal ikut bergeliat, salah satunya UMKM.

“Objek pariwisata kan sudah ada, tinggal Pemda menggelontorkan dana untuk merecovery sektor pariwisata agar bisa kembali berjalan. Karena ketika pariwisata bergerak, ada kegiatan pendukung yang ikut di dalamnya, salah satunya UMKM,” bebernya.

Kemudian, UMKM harus didorong ke arah digitalisasi. Menurutnya, UMKM tidak boleh terus-terusan nyaman dengan sistem konvensional. Peran pemerintah pun sangat dibutuhkan untuk mewujudkan hal ini.

“UMKM harus diberdayakan kembali. Jadi mereka tidak hanya bergerak di dalam negeri, tapi juga didorong ke pasar internasional,” jelas dia.

Untuk skala lebih luas, sambung dia, dalam mempercepat pemulihan ekonomi, pemerintah mesti membuka pintu bagi investor asing untuk berinvestasi. Namun, pemerintah harus berhati-hati. Meski investasi yang masuk berasal dari luar negeri, pelibatan masyarakat lokal juga harus dilakukan.

“Sehingga investasi yang masuk jangan keseluruhan. Jangan dari modal kerja, sampai tenaga kerja itu dari luar semua. Kalau begitu kan hasilnya tidak ada yang tinggal di negara kita,” urainya.

“Investasi boleh dibuka, tapi paling tidak 50-60 persen tenaga kerja lokal harus dipakai. Kemudian melibatkan UMKM atau pengusaha lokal untuk mensupplai untuk kebutuhan yang sifatnya tidak perlu diimpor,” tandas Abdul Muthalib.

Sementara itu, di Kota Makassar sendiri, pemerintah daerah setempat sudah mulai mendorong pemulihan ekonomi melalui sejumlah program.

Bahkan, di tahun 2022, Pemerintah Kota Makassar bakal fokus dalam pemulihan ekonomi setelah berhasil dalam peningkatan imunitas kesehatan dan adaptasi sosial yang tertuang dalam program Makassar Recover.

“Tahun 2022 kita akan konsentrasi di pemulihan ekonomi dan kebangkitan ekonomi,” ungkap Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto.

Dalam momen Hari Ulang Tahun Kota Makassar pada 9 November lalu, sejumlah program memang sudah mulai dicanangkan oleh Danny Pomanto.

Di antaranya, program lorong wisata sebagai kebangkitan ekonomi baru, program smart incubator center yang akan menjadi pembina sekaligus offtaker semua produk UMKM, dan program Marvec (Makassar Virtual Economic Center) sebagai pusat monitoring semua komoditi berbasis aplikasi.

Ada juga program Tettere’, yakni motor listrik yang bakal digunakan oleh pelaku UMKM untuk memasarkan produknya dari lorong ke lorong. Program ini diklaim akan memudahkan distribusi produk UMKM ke masyarakat selaku konsumen, serta membuka akses pasar dan rantai pasokan barang menjadi lebih efisien, efektif, dan ekonomis. (*)