oleh

Begini Penjelasan Kades Soal Dugaan Korupsi Dana CSR di Galut

TAKALAR, RAKYATSULSEL.CO – Polda Sulsel telah melakukan pemeriksaan terhadap lima kepala desa (kades) Desa Aeng Batu-Batu, Desa Aeng Towa, Desa Sampulungan, Desa Tamalate dan Desa Tamasaju di Kecamatan Galesong Utara (Galut) terkait dugaan korupsi dana CSR.

Terkait itu, Kades Aeng Towa, Junaid Dg Ruppa angkat bicara persoalan dugaan korupsi dana CSR di Galut. Kata dia, semua anggaran tersebut digunakan sesuai dengan peruntukkannya. Bahkan, sebelum dimanfaatkan terlebih dahulu dilakukan musyawarah.

“Dana CSR itu kami gunakan sesuai dengan peruntukanya. Sebelum kami gunakan terlebih dahulu dilakukan musyawarah di Desa yang dihadiri Badan Permusyawaratan Desa,” kata Junaid, Kamis (11/11).

Ia membeberkan jumlah dana CSR tahun 2020 yakni kurang lebih Rp113 juta. Rinciannya, digunakan untuk penyerahan bantuan uang tunai sebesar Rp50 juta ke Masjid Nurul Muhajirin.

Kemudian, vaksin untuk pembelian disinfektan dan lain-lain sebesar Rp30 juta, pelatihan produk undang-undang Rp10 juta, pembelian perahu balap Viber Rp21 juta lebih. Itu, semua tertuang dalam APBDes tahun 2020, itu bisa dibuktikan di rekening koran dana yang masuk.

“Menurut saya tidak ada masalah karena kami gunakan dana CSR sesuai dengan hasil musyawarah yang telah di sepakati dan ada semua Laporan Pertanggungjawan (LPJ),” jelasnya.

Terpisah, Panitia Masjid Nurul Muhajirin, Songke membenarkan adanya aliran dana CSR ke Masjid Nurul Muhajirin.

“Kami pernah mendapatkan bantuan uang tunai sebesar Rp50 juta dari dana CSR yang diserahkan oleh Kepala Desa,” ujar Songke.

Menurutnya, dana CSR di Galesong sangat bagus karena bisa di nikmati oleh masyarakat. Apalagi, rumah ibadah ini tengah dilakukan renovasi.