oleh

Gelar Seminar, Toraja Tourism Board Dorong Kembalikan Kedaulatan Kopi Toraja

TORAJA, RAKYATSULSEL.CO – Toraja Tourism Board bersama dengan Indonesia Coffee Academy dan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) menyelenggarakan Toraja Coffee Farmer Seminar yang juga merupakan bagian dari rangkaian Pesta Kesenian Toraja di Aula Kampus UKI Makale Toraja.

Kegiatan ini didasarkan keprihatinan selama ini kopi Toraja dikagumi rasa dan aroma, tetapi kita terkadang lupa pada siapa yang menghasilkan biji kopi tersebut. Sekaligus juga banyaknya lahan tidur yang tidak tergarap baik di Tana Toraja maupun Toraja Utara.

Seminar yang diadakan, Jumat, (22/10) lalu ini, lebih ditujukan kepada petani kopi sebagai penggiat di industri hulu kopi, untuk lebih mengenal industri hilir kopi dengan mendatangkan para pembicara yang merupakan ahli di hulu hingga hilir industri kopi.

Ketiga pembicara tersebut merupakan penggiat kopi di Indonesia, yaitu SCOPI, ICA, dan Anomali Coffee dan membawakan materi, soal bagaimana proses menanam kopi yang berkelanjutan yang berujung pada kesejahteraan petani.

Salah satu penggagas kegiatan, Gilang Manggala Hehanussa, mengatakan, dirinya terpanggil untuk mengembalikan kejayaan kopi Toraja di pentas lokal, nasional hingga internasional.

“Keterpanggilan saya untuk memulai kegiatan ini disebabkan perkenalan saya dengan pergumulan petani kopi oleh kakek saya Drs Ishak B Bitticaca. Perhatian almarhum terhadap petani menggugah saya untuk melanjutkan perjuangan beliau. Semoga kegiatan ini dapat memicu keberlanjutan industri kopi di Toraja,” ujar HR-BP Anomali Coffee Makassar dan Sekretaris Pandu Tani Provinsi Sulsel ini, Jumat (29/10).

Sementara, perwakilan SCOPI, Riniaty Liku Bulawan, menyampaikan isu-isu kopi sustainability saat ini di Indonesia. seperti kurangnya perawatan kebun, umur pohon kopi yang tidak terlalu produktif, kurangnya pengetahuan pengolahan, terbatasnya akses pemasaran, semuanya perlu diperhatikan untuk dampak industri kopi kedepannya.

Senada dengan itu, Co Founder Anomali Coffee Indonesia, Irvan Helmi, mengatakan, uji cita rasa untuk petani dibutuhkan untuk menyamakan bahasa antara petani, pedagang, toaster, dan konsumen, yaitu hasil uji cita rasa yang harusnya punya standar yang tertentu yang disetujui biasanya disebut dengan Q-Grader untuk Arabica atau R-Grader.