oleh

BAZNAS Makassar Sasar Uang Panaik Jadi Objek Infak

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar mulai menyasar uang panaik sebagai objek infak. Uang panaik merupakan tradisi mahar yang di kenal dalam adat pernikahan Bugis-Makassar.

Ketua BAZNAS Makassar, M. Ashar Tamanggong mengatakan, sasaran uang panaik sebagai objek infak dimaksudkan agar masyarakat muslim dapat melatih dan membiasakan diri untuk berinfak. Selain itu, juga untuk mengoptimalkan potensi penerimaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk kemudian disalurkan kembali kepada yang berhak.

“Orang dengan gaji Rp4 jutaan saja keluar zakatnya, masa uang panaik yang sampai ratusan juta tidak keluar infaknya?” ucap Ashar, saat menggelar Coffe Morning Baznas Makassar bersama media, di Cafe Upnormal, Kamis (28/10/2021).

Dia mengatakan, saat ini, pihaknya dalam tahap sosialisasi ihwal hal tersebut. “Kalau uang panaiknya Rp100 juta, keluarkan 2,5 juta ke BAZNAS. Nanti kita salurkan lagi ke dhuafa,” jelasnya.

Kata dia, bila calon pasangan pengantin hendak bahagia dalam membina rumah tangga, seyogyanya hendaklah mengeluarkan infak mahar. Pasalnya, lanjut Ashar, setiap infaq yang dikeluarkan akan dibalas pahala sebanyak 700 kali lipat.

“Belum pernah kejadian di seluruh dunia, ada orang miskin karena rutin mengeluarkan zakat, infak, sedekah. Karena dalam setiap rezeki yang kita dapat, ada hak orang lain di situ,” jelasnya.

Sepanjang periode Januari hingga September 2021, BAZNAS Makassar sudah menyalurkan bantuan sebesar Rp27 miliar. Dirinya menargetkan, hingga akhir tahun penyaluran bantuan kepada mustahik bisa mencapai Rp30 miliar.

“Untuk target pengumpulannya sendiri tidak jauh dari target penyaluran. Kalau target penyaluran Rp30 miliar, berarti target pengumpulan sedikit di atasnya. Karena prinsip di BAZNAS itu, paling lama 5 hari setelah uang masuk, harus langsung tersalurkan,” jelas Ashar.

Sejauh ini, BAZNAS menyalurkan bantuan dalam dua bentuk. Yakni dalam bentuk uang selesai dan pemberdayaan.

“Uang selesai itu uang yang dipakai oleh fakir dhuafa untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara bantuan pemberdayaan itu bisa berupa modal kerja atau dalam bentuk barang misalnya mesin jahit, mesin kompresor, dan alat lain,” beber Ashar.

Sementara, Ketua III BAZNAS Makassar, Waspada Santing menambahkan, potensi ZIS di Kota Makassar cukup tinggi, sayangnya, belum bisa dioptimalkan dengan baik.

Tingginya potensi tersebut dapat diukur dari jumlah penduduk muslim Kota Makassar yang dikalkulasi mencapai 1,3 juta jiwa.

“Jika setiap orang bisa menyumbang Rp10.000 perbulan, itu bisa terkumpul sampai Rp1 milliar. Tapi fakta saat ini cuma Rp200 sampai Rp300 juta. Potensi ini masih jauh dan masih perlu digali,” pungkasnya. (Cr1)