oleh

Muhammadiyah Siapkan 3 Ribu Dosis Vaksin untuk Warga Makassar

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam, Muhammadiyah menyiapkan 3 ribu dosis vaksin untuk warga Makassar.

Vaksin ini bakal dihabiskan dalam program Vaksinasi Mentari Muhammadiyah, yang diluncurkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Kampus Poltekkes Muhammadiyah Makassar, Senin (25/10).

Wakil Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah, dr. Slamet Budiarto mengatakan, program ini bertujuan untuk mendukung percepatan vaksinasi Covid-19 nasional melalui akses yang lebih merata bagi seluruh masyarakat di Indonesia.

Ia pun mengapresiasi Kota Makassar yang disebut telah melewati cakupan vaksinasi rata-rata nasional.

“Apresiasi kami kepada Kota Makassar yang telah melewati cakupan vaksinasi rata-rata nasional untuk dosis dua yang hanya 32 persen,” kata dr. Slamet.

Dia berharap vaksinasi yang digelar hingga 27 Oktober ini berjalan lancar dan dapat berkontribusi untuk mencegah terjadinya gelombang III Covid-19.

“Biasanya kan kita tiga bulan istirahat, lalu kasus meledak. Kalau September hingga November ini tidak meledak, saya kira tidak akan seperti sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan, dr. Nursaidah Sirajuddin mengapresiasi kontribusi Muhammadiyah dalam mendorong percepatan cakupan vaksinasi di Makassar.

“Keberhasilan kita mencapai vaksinasi dosis 1 sebanyak 70,50 persen dan dosis 2 sebanyak 50 persen itu tidak terlepas dari peran semua pihak yang mengadakan sentra vaksinasi seperti di Muhammadiyah kali ini,” katanya.

Ia berharap dengan dukungan semua pihak, terutama Muhammadiyah, Pemkot Makassar bisa mencapai target 90 persen cakupan vaksinasi pada November mendatang.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar, Nurdin Massi menambahkan, vaksinasi penting sebagai upaya konkret mencegah penyebaran virus Covid-19.

Meski banyak hoaks beredar terkait vaksin, kata dia, pimpinan dan warga persyarikatan Muhammadiyah tidak akan mudah termakan hoaks tersebut.

“Banyak hoaks tetang kematian dua tahun pasca vaksinasi. Namun Hoaks ini tidak berlaku di Muhammadiyah. Sebab, selain berlatar pendidikan yang tinggi, warga persyarikatan Muhammadiyah memang sudah terlatih mengenali dan menangkal informasi hoaks,” kata Nurdin.

Nurdin menyebut warga Muhammadiyah menyepadankan informasi hoaks seputar vaksinasi Covid-19 dengan perilaku takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC) yang diperangi Muhammadiyah sejak zaman dulu.

“Bagi warga persyarikatan, hoaks seperti ini sama dengan TBC zaman dulu yang tentunya Muhammadiyah sangat getol memerangi. Untuk saat ini upaya memerangi atau menangkal ya dengan turut divaksinasi,” pungkasnya. (Syamsi)