oleh

Ahli Epidemiologi Minta Pemkot Ikut Saran IDI Soal Penggunaan GeNose

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Ahli Epidemiologi Universitas Hasanuddin, Prof. Ridwan Amiruddin meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengikuti saran Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terkait penggunaan GeNose dalam evaluasi simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.
Menurut Prof. Ridwan, sikap IDI yang tak memberi rekomendasi penggunaan alat tersebut cukup beralasan. “Pemkot ini harus dengar IDI, ini pasti sudah melalui kajian-kajian yang mendalam,” ungkapnya.
Menurut dia, penggunaan alat tersebut dinilai tak lagi populer. Pertimbangannya adalah tidak adanya standarisasi dan pengakuan global soal efektivitasnya. Bahkan untuk sarana transportasi pun sudah dihapuskan dan diganti dengan sertifikat vaksin.
“Belum standarisasinya, bahkan tidak masuk dalam pemeriksaan yang diakui secara nasional, kan antigen dan PCR yang diterima sebagai syarat pemeriksaan,” urainya.
Prof. Ridwan menilai, Pemkot terkesan memaksakan penggunaan alat tersebut agar tak sia-sia akibat telanjur dibeli, apalagi peruntukannya sudah tidak sesuai dengan tujuan awalnya.
Seyogyanya, sambung dia, untuk menjamin pelaksanaan PTM berjalan dengan baik, Pemkot harusnya fokus menggunakan alat yang lebih baik, dan telah terjamin standarisasinya.
“Untuk GeNose, ada kemungkinan Pemkot sudah beli banyak, jadi ada stoknya banyak kemudian tidak tahu lagi mau dipakai di mana, makanya dia pakai untuk evaluasi PTM,” pungkasnya.
Sementara, Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, berdalih penggunaan alat buatan Universitas Gajah Mada itu hanya untuk skrining sebagai bagian dari kontrol kesehatan pelajar yang mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka (PTM), bukan untuk testing Covid-19.
“Jadi GeNose bukan untuk testing, tapi screening,” ujarnya.
Danny–sapaan akrabnya, beralasan, GeNose tetap bisa digunakan karena memiliki izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sehingga menurut dia, protes seharusnya dilayangkan ke Kementrian Kesehatan sebagai lembaga yang memiliki wewenang.
“Kalau ada komplain begitu, itu ke Kemenkes (Kementerian Kesehatan),” jelasnya.
Sebelumnya, alat GeNose disebut akan digunakan untuk memeriksa kesehatan paru-paru siswa yang mengikuti simulasi PTM terbatas. Namun, hal tersebut nyatanya tidak direkomendasikan oleh IDI.
“Itu tidak tepat, tidak ada hubungannya dengan paru-paru,” ujar Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar, Wahyudi Muchsin.
Meski begitu, kata dia, pihak IDI dan Pemkot Makassar bakal melakukan koordinasi lebih lanjut terkait penggunaan GeNose.
“Itu masih dirapatkan, tadi baru saya mau telpon wali kota, kan dari komentar itu terjadi rekonsiliasi dulu. Artinya Pemkot dan IDI tetap koordinasi,” pungkasnya. (Syamsi)