oleh

Angka Perceraian di Gowa Tinggi, Ini Kata Fungsional Kesehatan Ahli Muda

GOWA, RAKYATSULSEL.CO – Pemerintah Kabupaten Gowa saat ini tengah fokus penanganan Covid-19. Namun pandemi membuat angka perceraian justru makin naik.

Info terbaru, pada bulan Januari hingga Oktober 2021, ada 934 kasus perceraian yang dicatat Pengadilan Agama Negeri Sungguminasa. Hingga dari 934 kasus, ada 734 kasus istri yang menggugat cerai suaminya.

Terkait hal itu, Fungsional Kesehatan Ahli Muda, A. Latif Lira, mengatakan bahwa perceraian adalah hal sakral dalam pendekatan sistem religi, dibolehkan agama namun dibenci oleh sang pencipta. Perceraian ini selain sebagai solusi terakhir juga sebagai solusi darurat jika sebuah ikatan suami-istri sudah sulit dipertahankan.

“Realita tingginya angka perceraian di Kabupaten Gowa selama pandemi memang menjadi hal yang mengundang rasa prihatin kita. Baik Dalam pendekatan perubahan sosial, maupun dengan seiring kemajuan jaman dimana terjadi nya perubahan tafsir dan pergeseran nilai serta tafsir sebuah perkawinan, perkawinan terkadang hanya sebagai sebuah proses akad, yang terkadang begitu meriah dan penuh rasa bahagia,” ujar Latif, Jumat 15 Oktober 2021.

Menurut Latif, banyak ruang penyebab selain dari kondisi pandemi baik suami maupun sang istri yang terkadang terbuka maupun over akting bagi orang lain khususnya melalui media sosial seperti, Facebook, Instagram dan WhatsApp ,yang menjadi media terbaik buat menelusuri ruang percakapan mereka.

“Komitmen bersama menjalani berbagai tekanan kehidupan termasuk tekanan ekonomi tak begitu kuat sehingga terjangan efek pandemi membuatnya rapuh dan runtuh dalam mempertahankan perjanjian yang pernah terucap disaat akad bahkan terlepas tsecara total yang kemudian berakhir pada perceraian,” tutur putra asal dataran tinggi Kec. Biringbulu Kab Gowa ini.

Namun, kata Latif perlu juga ditelusuri lebih mendalam kondisi real penyebab perceraian tersebut. Masyarakat Gowa itu adalah orang-orang yang menjunjung tinggi nilai kesakralan sebuah pernikahan. Maka tak salah jika kita mempertanyakan apakah yang bercerai ini adalah masyarakat asli Gowa atau hanya kebetulan berdomisili di Gowa.

“Ini tentu berefek pada stigma perempuan-perempuan dari Kabupaten Gowa, sekaligus menjadi pelajaran berharga tentunya. Efek pasca perceraian ini juga akan sangat memprihatinkan pada generasi mendatang, mengingat dari setiap pasangan tersebut tentu memiliki anak-anak yang akan sangat terganggu psikologisnya bahkan bisa bisa sampai Gangguan Mental Emosional (GME) dalam jangka panjang kemudian perlu juga didata anak-anaknya untuk di edukasi sehingga tidak berujung juga dalam keputusasaan dalam proses meraih cita citanya,” tutupnya. (*)