oleh

PTM di Makassar, Disdik Ngotot Pakai GeNose

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Dinas Pendidikan Kota Makassar tetap ngotot menggunakan Gadjah Mada Electronic Nose (GeNose) untuk siswa yang mengikuti simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Rencana itu, tetap ditolak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar.

Sekretaris Dinas Pendidikan Amalia Malik mengatakan, GeNose digunakan untuk memeriksa kesehatan paru-paru siswa dalam evaluasi simulasi PTM terbatas.

“Kami tidak gunakan untuk periksa orang reaktif atau nonreaktif. GeNose hanya untuk melihat paru-paru anak-anak, bersih atau tidak. Mungkin ada anak yang kena gejala di paru-paru,” kata Amalia, Senin (11/10/2021).

Ketua IDI Makassar, Siswanto Wahab mengatakan, alat GeNose maupun polymerase chain reaction atau PCR tidak diperuntukkan dalam pemeriksaan paru-paru. “Kalau mau pemeriksaan paru-paru, yah, pakai CT toraks,” kata Siswanto.

Menurut dia, pihaknya telah merekomendasikan penggunaan PCR untuk testing Covid-19 sebagai bentuk evaluasi pelaksanaan simulasi PTM terbatas.

Pengamat pemerintahan Universitas Bosowa Arif Wicaksono menyebut, Pemkot Makassar terkesan memaksakan penggunaan GeNose. Pasalnya, anggaran telanjur digelontorkan untuk pembelian alat yang belakangan validitas alat tersebut justru diragukan.

“Jika dipakai hanya karena telanjur terbeli, untuk apa? Itu berarti bisa merugikan negara juga. GeNose tidak terpakai tiba-tiba digunakan untuk tes sekolah, itu mubazir saja,” ucap Arif.

Menurut dia, pemaksaan penggunaan GeNose itu hanya karena telanjur dibeli. Arif menilai, kebijakan wali kota dalam pengadaan GeNose tersebut tidak dikaji dengan baik dan terkesan membesar-besarkan program yang efektif dan efisien tanpa mempertimbangkan kualitas yang dicapai.

“Harusnya dulu sekalian pengadaan detektor dan PCR. Tapi karena mau membesar-besarkan program akhirnya GeNose yang digunakan. Buang-buang uang saja itu,” ujar dia.

Menurut Arif, bila penggunaan GeNose tetap dipaksakan, maka besar peluang berisiko terhadap pelajar. Terlebih, kata dia, alat tersebut sudah cukup lama disimpan.

“Bisa saja kualitasnya sudah kurang bagus. Kasihan siswa jadi korban dengan alat yang tidak berkualitas,” imbuh Arif. (cr1)