oleh

Cabor Dayung Sulsel Tanpa Emas

JAYAPURA, RAKYATSULSEL.CO – Target medali emas gagal dipenuhi cabang olahraga (cabor) dayung Sulsel di ajang PON XX Papua 2021.

Medali emas yang diharapkan tim dayung Sulsel pada nomor dragon boat gagal terpenuhi usai finis di posisi terakhir pada final yang gelar di Teluk Youtefa Kota Jayapura, Minggu, (10/10).

Tim dayung dragon boat Sulsel hanya finis di posisi keenam dengan mencatatkan waktu 02:11.957, beda tujuh detik dari peraih medali emas yang finis di posisi pertama yakni Jawa Barat dengan waktu 02:04.249.

Sementara di posisi kedua ada tim dayung dragon boat Kalimantan Tengah yang meraih medali perak, dengan catatan waktu 02:05.427. Dan di posisi ketiga ditempati oleh Papua Barat dengan skor 02:05.909.

Pelatih Tim Dayung Sulsel, Dimon mengatakan, pada nomor dragon boat, para atletnya sudah memberikan yang terbaik.

“Anak-anak sudah bagus starnya. Dilintasan itu dangkal sehingga sulit untuk mendayung,” katanya.

Pada PON XX kali ini, tim dayung Sulsel hanya mampu membawa tiga medali, dua perak dan satu perunggu. Untuk rowing medali terakhir didapatkan dari nomor M1X 2.000 meter oleh Sulfianto setelah mencapai waktu 07:15,034 menit, Jumat, 8 Oktober. Medali emas diraih wakil Maluku yaitu Memo usai mencatat waktu 07:04,681.

Pada nomor ini sebetulnya jadi target emas Sulsel. Sulfianto yang memiliki jalur terbaik pada awal race harus mengakui keunggulan rekannya itu pada pelatihan nasional (pelatnas).
Pelatih Dayung Rowing Sulsel, Suting Jafar mengatakan, hasil tersebut merupakan hasil terbaik.

“Perkembangan atlet baik, memang lawan juga lebih siap dibantu dengan alat terbaik,” ujarnya.

Ajang Balaz Dendam

Petinju asal Sulawesi Selatan (Sulsel) Yosua Holy Masihor, berhasil lolos ke semifinal Pekan Olahraga Nasional (PON) XX setelah mengalahkan wakil dari Bangka Belitung kelas 52 kg.

Pada laga di semifinal yang digelar hari ini, Holy akan berhadapan dengan Ingatan Illahi dari Provinsi Riau. Pertemuan ini bukan yang pertama kali. Sebab, Holy pernah bertemu dengan Ingatan Illahi pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Manado, Sulawesi Utara tahun 2019 lalu. Sehingga, PON di Papua sebagai ajang balas dendam lantaran saat itu Holy kalah dari pemain pelatnas tersebut.

“Saat itu saya masih berusia 17 tahun dan main di kelas 49 kg. Lawan saya (Ingatan Illahi,red) saat itu sedang menjalani pelatnas. Saya kira ini kesempatan bagi saya untuk balas dendam atas kekalahan yang pernah saya alami,” kata Holy.

Melihat gaya bermain calon lawannya, Holy mengaku optimis bisa menghentikan langkah Ingatan Ilahi ke partai final kelas 52 kg cabor tinju PON XX Papua 2021.

“Sekali lagi mohon doa seluruh masyarakat Sulsel. Semoga di pertandingan kedua nanti hasilnya bisa seperti ini,” harap Holy. (Fahrullah)