oleh

Pembangunan Masjid di Lahan Milik NA Dikelola Panitia dan Pakai Proposal

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Sidang lanjutan kasus dugaan suap dan gratifikasi proyek infrastruktur dengan terdakwa Gubernur Sulsel non aktif Nurdin Abdullah kembali digelar di Pengadilan Tipikor Makassar, Rabu (6/10/2021).

Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ini memunculkan fakta terkait dengan pembelian tanah di kawasan Pucak, Kabupaten Maros oleh Nurdin Abdullah. Termasuk pembangunan masjid yang biayanya menggunakan proposal dari panitia pembangunan.

Saksi Abdul Samad pemilik tanah di Desa Arra yang dibeli oleh Nurdin Abdullah di kawasan Pucak mengaku bertemu dengan Nurdin Abdullah, tapi tidak berbicara soal tanah atapun proses tawar menawar sekitar bulan Agustus 2020.

“Awalnya itu kami dihubungi Hasmin Badoa, tanyakan apakah tanah itu mau dijual. Disampaikan ke saya yang sebenarnya yang mau membeli ini Pak Nurdin Abdullah secara pribadi. Waktu tawar menawar, istri Pak Hasmin Badoa dan ibu Mega,” terang Abdul Samad.

Dia mengaku luas tanah yang diajual ke Nurdin Abdullah sekitar 13 hektare dan bersertifikat. Ada enam sertifikat dan satu surat keterangan tanah. Harga yang disepakati Rp2, 2 miliar. Sudah dilunasi dan diterima secara tunai di rumah Hasmin Badoa.

“Saya pernah mendengar tanah yang saya jual ada di bangun masjid. Penyerahan uang dibayarkan di rumah Hasmin Badoa, ada akte jual yang saya tandatangani, ada enam akta jual beli. Waktu itu pak Nurdin Abdullah tidak ada, yang saya tahu ada nama Nurdin Abdullah dalam AJB itu sebagai pembeli,” urainya.

Sementara itu, saksi Amiruddin selaku ASN di UPTD Kebun Raya Pucak menyebutkan, adanya pembelian tanah oleh Nurdin Abdullah di kawasan Pucak baru dia ketahui saat panitia pembangunan masjid menghubunginya sekitar bulan November 2020.

“Saya dipanggil Pak Wandi, yang saya tahu tukang jaga Kebun Pak Nurdin. Pak Wandi menyampaikan kepada saya ada pembangunan masjid, pak Wandi juga tidak bilang siapa yang suruh,” tuturnya.

Amiruddin menyebutkan, Nurdin Abdullah pada bulan September 2020 melakukan kunjungan di kawasan Kebun Raya Pucak. Setelah kunjungan NA selesai, disampaikan untuk membentuk kepanitiaan pembangunan masjid.

“Saya yang bikin proposal dan saya serahkan ke BPD (Bank Sulselbar). Proposal saya kirim ke BPD saya berikan aslinya. Jadi saya print ulang dan serahkan ke Pak Wandi proposal itu,” urainya.

Amiruddin mengakui tidak tahu selain Bank Sulselbar siapa pihak lain lagi yang menyumbang. “Pak Wandi hanya menyampaikan ke saya kalau ada uang yang masuk di rekening masjid, tapi dia tidak bilang dari mana, saya juga tidak menanyakan,” terangnya.

Diketahui sumbangan pembangunan masjid dari Bank Sulselbar ini mendekati Rp1 miliar setelah pihak panitia pembangunan masjid memasukkan proposal. (*)