oleh

Dua Pelaku Pemerkosa Mahasiswi Bantaeng Terancam 12 Tahun Penjara

BANTAENG, RAKYATSULSEL.CO – Kasus pemerkosaan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang dilakukan oleh oknum LSM sekaligus wartawan telah ditetapkan menjadi tersangka.

 

Pelaku berinisial RD (35) dan RJ (31) harus mendekam di jeruji besi Polres Bantaeng setelah melakukan rangkaian pemeriksaan dari pihak kepolisian Reskrim Polres Bantaeng.

 

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus asusila pada bulan Juli 2020 lalu, yang mengakibatkan salah seorang mahasiswi AF (21) menjadi korban.

 

Sebelumnya, dikabarkan bahwa RD (35) dan AF (21) telah lama menjalin asmara sejak kenal ditahun 2018.

 

AKP Burhan, Kasat Reskrim Polres Bantaeng mengungkapkan, saat ini telah ditetapkan menjadi tersangka, berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan, ada beberapa keterangan saksi dan ada bukti petunjuk lainnya.

 

“Laporan itu baru dilakukan setelah tidak bisa menahan rasa ancaman itu, sehingga melakukan pelaporan (korban),” beber AKP Burhan.

 

Para pelaku diterapkan hukuman pelecehan dan pemerkosaan dengan Pasal 285 KUHP juncto 289 dengan hukuman penjara 12 tahun.

 

Salah satu aktivis perempuan dari Fatayat NU, Risdawati Majid, mengecam keras, mengutuk dan tidak dapat mentolerir segala bentuk kekerasan yang dilakukan oknum inisial RD dan RJ. Tindakan tersebut sangat jelas mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

 

“Saya mendorong Polres Bantaeng mengusut tuntas, melakukan langkah-langkah serius menindaklanjuti kasus tersebut. Aparat penegak hukum dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada korban perkosaan seyogyanya dilandasi oleh rasa kemanusiaan, tidak hanya menggunakan landasan KUHP saja, melainkan juga menggunakan UU diluar KUHP (Tidak menggunakan sangkaan pasal tunggal),” kata Risda.

 

Dia sangat menyayangkan, oknum pemerkosaan rupanya aktif melakukan advokasi kasus serupa yang juga merusak nama lembaga swadaya masyarakat.

 

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Tulolonna HPMB-Raya, Sulfiana menyatakan, prihatin dan menyayangkan atas kejadian atas tindakan pencabulan yang terjadi di Kabupaten Bantaeng oleh oknum LSM dan wartawan kepada salah satu mahasiswi di Kabupaten Bantaeng

 

Menurut Sulfiana, kejadian yang melibatkan oknum LSM dan wartawan yang berinisial RD dan RJ tersebut merupakan tindakan yang sangat amoral dan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

 

“Hal ini harus ditindak tegas oleh aparat penegak hukum di Bantaeng sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” katanya. (*)

 

 

 

Penulis : Firmansah