oleh

Gelar Workshop Pengembangan Bahan Ajar BD, LPPM Unhas Hadirkan Guru Besar UNY

MAKASSAR, RAKSUL – Tim Peneliti Lembaga Peneiltian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menggelar workshop bertajuk “Pengembangan Bahan Ajar Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Daerah Integrasi Teknologi Informasi”.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 2 hingga 3 Oktober di Hotel Ibis, Jalan Maipa, Kota Makassar ini menyasar Guru Mulok Bahasa Daerah (BD) tingkat SLTP, khususnya penutur Bugis di Provinsi Sulawesi Selatan.

Ketua Panitia LPPM Unhas, Prof. Dr. Gusnawaty, M.Hum., mengatakan, kegiatan workshop itu dilaksanakan sebagai solusi atas keluhan para guru Mulok terkait kurangnya bahan ajar yang menarik dan disukai siswa.

“Ketika kami melakukan penelitian di Pinrang dan Barru satu tahun lalu, banyak keluhan dari guru bahwa sangat minim sekali bahan ajar yang dapat merangsang minat belajar siswa terhadap bahasa daerah Bugis,” ujar Prof Gusna, sapaan karib wanita berdarah Bugis, Kabupaten Soppeng ini.

Melalui workshop itu, para peserta yang berjumlah 15 orang ini diberi bekal dalam mengembangkan bahan ajar berbasis IT (informasi teknologi) dalam mendongkrak minat dan hasil belajar siswa.

“Kami berharap guru-guru ini memiliki wawasan dan keterampilan dalam pengembangan bahan ajar muatan lokal integrasi IT sehingga bahasa daerah Bugis tidak lagi dilihat dalam pelajaran bahasa kuno, tetapi akan menjadi pembelajaran yang menyenangkan,” Gusna, detail.

Pelatihan yang diikuti antusias oleh peserta di berbagai kabupaten/kota di Sulsel ini, menghadirkan narasumber utama, mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. “Beliau ini adalah pakar Budaya, Bahasa dan Sastra serta Filsafat Jawa,” sambung Gusna.

Selain Sutrisna, ada juga Prof. Dr. Lukman, M.S (guru besar Fakultas Ilmu Budaya Unhas) dan Prof. Dr. Gusnawaty, M.Hum., yang menyajikan materi secara interaktif.

“Para peserta juga akan dibagikan secara gratis buku kekinian yang di dalamnya terdapat teknik pengembangan materi akar dalam membangun gairah dan semangat anak-anak belajar bahasa daerah dengan tidak menghilangkan nilai budaya berbasis IT,” lugas dia.

“Diharapkan buku yang merupakan luaran penelitian Tahun 2021 ini dapat menjadi model yang sistematis dan praktis bagi guru muatan lokal bahasa daerah dalam menyusun bahan ajar bhs daerah Bugis integrasi teknologi informasi,” tandasnya. (*)