oleh

Ujian Taufan Pawe

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Langkah Taufan Pawe (TP) memimpin Golkar Sulsel tak mulus-mulus amat. Ujian soliditas kader di daerah jadi Pekerjaan Rumah (PR) utama. Jika tiket Pilgub tak ingin jatuh ke tangan orang lain.

Dinamika yang terjadi selama pelaksanaan musyawarah daerah (Musda) juga menjadi catatan bagi Taufan Pawe. Dimana empat Musda Partai Golkar kabupaten diwarnai aksi ribut-ribut kader.

Pertama, Musda DPD II Golkar Sinjai yang telah terlaksana pada Sabtu (26/6) lalu. Saat itu, Andi Kartini Ottong yang kini menjabat
Wakil Bupati Sinjai terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD II Golkar Sinjai. Namun, belakangan pemilihan secara aklamasi itu ditentang sejumlah pengurus yang kemudian menolak hasil Musda itu.

Selanjutnya Musda Partai Golkar Tana Toraja, Sabtu (28/8/2021). Sehari berselang sejumlah massa berbaju kuning sempat berupaya mendatangi arena Musda X Partai Golkar Tana Toraja di Hotel Novotel. Mereka sempat menggelar aksi unjuk rasa di depan Monumen Mandala Jl Jenderal Sudirman tak jauh dari arena musda.

Kehadiran mereka untuk meminta agar pelaksanaan musda Tana Toraja ditunda lalu dikembalikan ke Bumi Lakipadada. “Kita jauh-jauh dari Toraja ke Makassar untuk menolak pelaksanaan musda di Kota Makassar, kami meminta agar seluruh Pincam yang diberhentikan untuk dikembalikan ke posisi masing-masing,” kata Herman Panke.

Belum sempat masuk arena musda, kedatangan sejumlah kader Golkar Tana itu langsung berhadapan dengan pengurus AMPG Sulsel di depan hotel arena musda. Kedua kubu sempat saling dorong dan tarik menarik spanduk yang dibawa kader Partai Tana Toraja. Beruntung aksi tersebut cepat dilerai oleh aparat kepolisian yang berjaga di arena musda.

Kemudian, Minggu (29/8/2021), aksi unjuk rasa juga terjadi di Kantor DPD II Partai Golkar Bulukumba di Jl Jend Sudirman, Kecamatan Ujung Bulu. Jarak lokasi musda dengan Kantor DPD II Golkar Bulukumba sekitar 35 kilometer. Aksi itu berujung penyegelan kantor DPD II Partai Golkar Bulukumba.

Terbaru, Musda DPD II Partai Golkar Luwu Timur (Lutim) terpaksa ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Seyogyanya, Musda yang akan memilih pucuk pimpinan DPD II Golkar Lutim akan diikuti dua legislator Partai Golkar Lutim, yakni Aripin dan Mahading. Namun karena adanya kericuhan, panitia Musda akhirnya memutuskan ditunda.

Situasi langsung memanas ketika Musda dibuka Ketua DPD I Golkar Sulsel, Taufan Pawe selesai. Seluruh pengurus DPD II Golkar Lutim merangsek masuk ke ruang Musda karena menganggap itu adalah hak mereka untuk mengikuti jalannya Musda.

Eks Sekretaris Golkar Lutim, Andi Zulkarnain keberatan ketika dilarang masuk ke arena Musda. Tak lama berselang, kader lainnya juga keberatan dilarang masuk.

Wakil Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Zulham Arief mengatakan, riak-riak yang terjadi pada Musda DPD II Golkar pada sejumlah kabupaten merupakan dinamika biasa yang terjadi pada organisasi.

Bahkan Sekretaris AMPG Sulsel ini menilai, penggiringan opini agar Golkar terlihat tidak kompak, merupakan cerminan jika kader tersebut sesungguhnya bukan kader Golkar. Karena faktanya setiap musda di 22 daerah sudah berjalan lancar.

“Kader itu harus menjaga marwah partai. Untuk 22 daerah sudah Musda, jelas katakan solid membesarkan Golkar, apalagi sebagian sudah merampungkan struktur di tingkat kecamatan sampai desa,” jelas Zulham, Senin (27/9/2021).

Zulham menjelaskan, penyebab riak-riak di beberapa daerah sebelum Musda sudah menjadi rahasia umum di internal Golkar. Dirinya menambahkan, keputusan dan kebijakan yang dilakukan Ketua DPD I Golkar Sulsel Taufan Pawe tidak pernah lepas dari koordinasi para petinggi DPP Partai Golkar.

Bagi dia, tidak ada masalah riak-riak sebelum musda. Menurutnya, ini bagian wujud kepedulian kader untuk membesarkan partai. Itu adalah bagian dari kedewasaan berpartai.

“Sehingga riak sebelum dan sesudah Musda DPD II Golkar tentu hal biasa dalam organisasi. Saya kira tak ada masalah, pada intinya pak TP selesaikan Musda semua. Pasca musda kita fokus konsolidasi dan besarkan partai,” tuturnya.

Ia menegaskan, seluruh kader DPD II yang telah menggelar Musda siap bekerja membesarkan partai menghadapi Pemilu 2024.
Zulham menjelaskan, Taufan Pawe bekerja di partai dengan misi paradigma baru membesarkan Golkar di Sulsel. Dengan paradigma baru menghadapi Pemilu 2024 maka kader sebagai subjek, secara otomatis bekerja sama untuk kepentingan partai ke depan.

“Pada intinya pak TP punya niat membawa paradigma baru menjadikan kader sebagai subjek. Semua kader yang menjadi ketua DPD II tak ada bayar-bayar,” terangnya.

Zulham menegaskan seluruh kader tetap solid. Terbukti, hasil Musda DPD II tak pernah sampai ke Mahkamah Partai. “Seluruh kader kembali solid. Sebelum Musda ada protes, tapi setelah terpilih ketua tak ada lagi riak-riak,” tegasnya.

Ketua DPD II Golkar Bone, A Fahsar M Padjalangi optimis Golkar Sulsel semakin besar dan berjaya di tangan TP. Hal itu ia yakini setelah melihat kinerja TP setahun ini berjalan positif.

“Kita lihat kinerjanya (Taufan Pawe) selama ini berjalan dengan baik. Kalau pun ada polemik itu biasa terjadi di Golkar, usai ada keputusan atau hasil musda, semuanya akan kembali solid,” kata A Fashar.

Bupati Bone dua periode itu mengapresiasi visi misi TP dengan paradigma barunya. Menjadikan kader sebagai pemilik partai. Tak ada lagi eskspolitasi kader demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Menurutnya, hal tersebut membuat kader menjadi nyaman bekerja dalam membesarkan Partai Golkar. Sehingga, pemimpin yang memiliki komitmen dan visi misi yang jelas seperti Taufan Pawe dibutuhkan Golkar untuk menghadapi event politik 2024 mendatang.

“Ini yang paling bagus (hilangkan eksploitasi kader) dan semua kader pasti setuju. Karena ini yang selalu kita lakukan sehingga Golkar Bone besar. Apalagi kita akan menghadapi konstelasi politik 2024 mendatang, jadi ini (Kepemimpinan TP) yang sangat kita butuhkan,” katanya.

Sementara Ketua DPD II Golkar Jeneponto, Iksan Iskandar meyakini, TP mampu membesarkan Partai Golkar. Ia menilai figur TP seperti magnet. Satu per satu para eks Golkar kembali bergabung.

Tak hanya itu, TP mampu menarik kader partai lain yang menjabat kepala daerah. Sebut saja Bupati Toraja Utara Yohanis Bassang (Ombas) dan Wakil Bupati Maros Suhartina Bohari.

“Tentunya kita apresiasi (sosok TP) banyaknya tokoh-tokoh kini bergabung. Dengan pengalaman pemerintahan dan kegolkarannya, saya yakin Pak TP mampu mengendalikan dan membesarkan Partai Golkar Sulsel,” katanya.

Bupati Jeneponto dua periode ini turut menanggapi kepemimpinan TP yang disorot negatif sejumlah pihak. Dirinya menegaskan, perbedaan pendapat biasa terjadi di Partai Golkar. Konsekuensi partai besar. Namun dirinya menegaskan, kepemipinan TP di Golkar Sulsel sudah on the track.

“Semua orang bisa berpendapat. Tapi pendapanya itu apakah mendasar atau tidak. Saya belum melihat seperti itu (Kegagalan TP). Kita berikan dulu kesempatan. Apalagi Pak TP kinerjanya berjalan baik,” jelasnya.

Sementara Ketua DPD II Golkar Maros, Suharti Bohari mengapresiasi kinerja Taufan Pawe di Golkar Sulsel. Dirinya menilai, TP merupakan sosok yang penuh komitmen dan berintegritas. Sehingga dirinya meyakini, Golkar Sulsel akan kembali berjaya.

“Saya rasakan sendiri memang Pak TP ini sosok yang positif. Itu terlihat dari program dan cara-cara beliau yang ingin besarkan Golkar,” tuturnya.

Sebelumnya Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang alias Ombas mengapresiasi sosok Ketua DPD I Taufan Pawe. Bagaimana tidak, sosok TP yang membuat dirinya hijrah ke partai berlambang pohon beringin itu.

“Karena visionernya beliau (Taufan Pawe ) saya tidak ragu masuk Golkar. Dengan paradigma baru Golkar, pak ketua merubah pola pikir kita semua dalam bergolkar. Khususnya mengilangkan kebiasaan bayar-bayaran partai,” kata Ombas.

“Biar lagi satu sen pun uangnya tak keluar tidak ada (soal diskresi). Justru harus apresiasi Taufan, Golkar memiliki kader seperti ini. Beliau sangat tulus membesarkan Partai Golkar. Beliau tidak mengenal barang seperti itu (bayar-bayaran). Saya sangat bangga dengan ketua saya,” tegas Ombas.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Lukman Irwan mengatakan, apa yang dilakukan TP menjadi tanda positif untuk Partai Golkar bangkit pada Pileg dan Pilkada 2024 nanti.

“Pelaksanaan Musda secara aklamasi itu bertanda positif karena konsolidasi internal antara partai bisa berjalan dengan baik dan harmonis dan ini tanda positif untuk mensolidkan kader internal,” katanya.

Hal ini akan menjadi kekuatan baru di Sulsel. Apalagi kader yang menjabat ketua berjanji untuk solid. “Saya yakin solid. Ini menjadi nilai plus bagi Partai Golkar dengan menjadikan kekuatan Pilgub 2024,” tutupnya.