oleh

Koperasi Dampingan UMI Makassar Lolos Program Desa Berinovasi BRIN 2021

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali mengambil bagian untuk memberikan inovasi dalam program Desa Berinovasi yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2021.

Ini terlihat saat salah satu desa mitra dan dampingan UMI di kecamatan Lanrisang, Pinrang dinyatakan lolos dan mendapat pembiayaan dalam program Desa berinovasi tersebut.

Bersama UMI, desa ini mengelola sebuah Koperasi yang dinamakan Koperasi Syariah BMT Gapoktan Lanrisang. Atas berbagai inovasi yang dihadirkan, koperasi tersebut didaulat memiliki inovasi yang bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan ekonomi desa dan daerah umumnya.

Koordinator Pengusul Prof Dr Ir Hattah Fattah, M.S menyebutkan, Desa Berinovasi nasional oleh BRIN bertujuan untuk menciptakan desa-desa tangguh dengan inovasi terutama berbasis keunggulan lokal.

Di setiap pengusul diminta mengusulkan usulan yang bisa memperlihatkan potensi suatu daerah dan diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, sosial, dan menciptakan desa tangguh di Indonesia.

“Program ini diikuti oleh desa dari berbagai daerah di Sabang sampai dengan Papua. Dari semua pengusul itu tidak bisa diterima Karena persaingannnya yang cukup ketat dan persyaratannya juga sangat tinggi. Kebetulan saya menjadi salah satu koordinator pengusul,” jelas Prof Hattah Fattah, di ruang kerjannya, Senin (20/9/2021).

Wakil Rektor V UMI ini menyebutkan, UMI bermitra dan mendampingi 1011.6 hektar tambak dan 733 petani/pembudidaya, kemudian 1 koperasi sedang dibina dan dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan.

“Jadi ini yang kita dorong untuk menghadirkan inovasi. Namannya koperasi Saariah, BMT Gapoktan Lanrisang di Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang. Koperasi ini bergerak dalam berbagai bidang baik dalam usaha pertanian, usaha perikanan, peternakan, penyedia pakan dan penyedia sarana produksi,” jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Promosi dan Kerjasama UMI ini menjelaskan, penguatan yang diberikan untuk koperasi tersebut seperti tata kelola koperasi, pengembangan usaha, dan ketiga adalah memberikan kekuatan terhadap adopsi teknologi baru yang kita kenal sebagai inovasi.

“Jadi untuk meningkatkan produksinya dan kapasitas sumber daya manusiannya, kita dampingi dalam penerapan teknologi mutahkhir. Itu sebabnya bisa maju dan berkembang dan bisa menghasilkan beberapa produk dan produk itu yang bisa kita klaim sebagai produk bersama antara UMI dengan Koperasi Sariah Gapoktan Lanrisang,” tuturnya.

“Terkait dalam usulan ini, kita berikan inovasi bagaimana mengembangakan usaha Udang Windu berbasis kepada kerifan lokal dan potensi lokal,” beber Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan itu.

Ia menjelaskan, budidaya Udang Windu di Pinrang memiliki kelaziman yang berbeda dari daerah lain dengan hanya satu kali persiapan.

“Umumnya, petani pembudidaya udang melakukan persiapan kalau yang lazim itu kan satu siklus budidaya kan tiga bulan. Setelah 3 bulan itu persiapan lahan lagi. Nah disana itu, hanya satu kali persiapan untuk budidaya sepanjang tahun,” imbuh Prof Hattah Fattah.

“Secara teknologi, ada sisi yang riskan, model ini jika tidak dibina atau diampingi dengan teknologi akan rawan menimbulkan munculnya masalah daya dukung lahan karena hanya satu kali persiapan yang berpeluang munculnya penyakit. Inovasi yang kita berikan adalah, kita berikan desain tambak baru yang tetap bisa mengadaptasi kebiasaan itu karena berdampak secara ekonomi dan bisa memaksimalkan produksi. Sehingga kita kendalikan kualitas airnnya,” tutupnya.  (*)