oleh

Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI, Perlukah?

Oleh : DR.Abbas Selong, SE.MSi.
(Wartawan Teropong Bulusaraung dan Mantan Kepala Perpustakaan Pusat UMI)

MAKASSAR, RAKYAT SULSEL.CO –
Secara geografis, gedung perpustakaan pusat kampus II UMI letaknya sangat strategis, berada di tengah area kampus yang dikelilingi oleh gedung perkuliahan sejumlah Fakultas, termasuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMI.

Kalau takarannya adalah waktu senggang mahasiswa saat dikampus dan waktu tempuh dari gedung FEB UMI dengan berjalan kaki, maka jaraknya terasa relatif jauh dan hal itu membuat mahasiswa dan dosen FEB UMI kurang berminat berkunjung ke perpustakaan yang cukup besar itu. Walaupun diketahui tata kelolanya sudah moderen.

Atas pertimbangan tersebut maka pada tahun 1996, saat penulis menjabat sebagai Kepala perpustakaan pusat UMI, saya aktif mendorong dimungkinkannya berdiri perpustakaan Fakultas Ekonomi untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dan dosen dalam menunjang proses belajar mengajar.

Diakui sepenuhnya bahwa kini perpustakaan pusat UMI semakin maju dan berkembang. Pustakawan yang dimiliki cukup banyak dengan kapasitas dan kompetensinya memadai untuk membantu dan memandu berdirinya perpustakaan FEB UMI.

Seiring waktu berjalan tanpa henti menggerus usia, kini sudah menjelang tahun 2022. Sarana dan prasarana vital penunjang proses belajar mengajar bagi mahasiswa dan dosen itu belum juga terwujud.

Pada saat yang sama semua mata memandang, dinding tembok dan lantai keramik mewah diarea FEB UMI sudah berkali kali dibobol dan dibongkar untuk sekedar mencaritemukan tempat yang dianggap tepat ditempati aktifitas kantin, tentu dengan anggaran yang tidak sedikit.

Disadari pula bahwa kantin juga memang penting tapi perpustakaan dalam dimensinya mendorong budaya literasi mahasiswa dan dosen yaitu budaya membaca dan menulis jauh lebih penting dan bagi komunitas perguruan tinggi pasti faham itu, tapi mengapa ya ?, terkesan diabaikan pendiriannya.

Bagi dosen dan mahasiswa, Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI, perlukah?
Mari kita lihat :
Menurut Undang Undang Dasar Republik Indonesia No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan, pada Bab 1 pasal 1 menyatakan bahwa perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara husus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.

Artinya adalah bahwa perpustakaan dapat diartikan sebagai tempat mengakses informasi dalam format apapun untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar mengajar.
Makna sederhananya bahwa dengan melihat fungsi dan peran perpustakaan tersebut diatas maka mendirikan perpustakaan FEB UMI harus dipandang perlu.

Perlu, karena perpustakaan FEB UMI pada saatnya nanti diharapkan akan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menjadi manusia yang memiliki literasi informasi, mampu mengidentifikasi kebutuhan informasinya terutama dalam mendorong tumbuh kembangnya budaya literasi yaitu “Budaya membaca dan menulis”.

Alhamdulillah, kemungkinan berdirinya perpustakaan FEB UMI, tanda tandanya telah terlihat pada program kerja dari salah satu kandidat Dekan FEB UMI Prof. DR. Mursalim Laekkeng, ASEAN,.CPA., jika Allah SWT.

Jika nanti terpilih sebagai Dekan FEB UMI periode 2022 – 2025 maka niatnya yang selama ini ingin mendorong budaya literasi bagi dosen dan mahasiswa melalui pengadaan perpustakaan FEB UMI akan diwujudkan.

Terkait budaya literasi yang dimaksudkan diatas, izinkan saya menceritakan sedikit saja dari sekian banyak pengalaman berharga yang pernah saya alami saat bekerja sebagai wakil rakyat di DPRD Sulsel.

Pada tahun 2009, waktu saya menjabat sebagai pimpinan Komisi C DPRD Sulsel, pernah sejumlah anggota komisi C berkunjung keluar negeri. Empat orang diantaranya yang masih saya ingat yaitu, sahabatku Ir. H.Bohari Kahar Muzakkar, MM (mantan Sekretaris DPD Partai PAN Sulsel), H Ni’matullah, SE (Wakil Ketua DPRD Sulsel) yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel, H Jamaluddin Djafar, SE.,MM (mantan Ketua DPD REI Sulsel) dan saya sendiri Abbas Selong.

Kami dalam satu rombongan kecil, hanya delapan orang berkunjung ke sejumlah negara dan beberapa kota maju dibenua Eropa, Hongkong, Shenzhen, hingga Beijing China.

Kami terbang dari bandara Soekarno-Hatta Jakarta menuju Bandara Schiphol Amsterdam, Belanda. Terlebih dahulu transit di Dubai untuk keperluan menambah bahan bakar dan mengambil tambahan penumpang untuk diangkut ke Belanda.

Pesawat Boing 777, Emirates Airbus berbadan lebar, asal Uni Emirat Arab (UEA) itu kami pilih untuk terbang bersama pilotnya yang tinggi semampai berkulit putih kemerahan.

Emirates terbang tinggi melintasi awan hitam pekat dari Dubai hingga Schiphol Amsterdam Belanda dengan waktu tempuh sembilan jam lebih sedikit.

Sepanjang perjalanan dari Dubai ke Schiphol, diatas pesawat perhatian saya banyak tertuju kepada pramugari Emirates cantik berambut pirang yang dipadu dengan peci warna orange, lalu lalang bergantian ngecek keperluan penumpang.

Rasa ingin tahu saya juga tidak dapat saya tutupi dengan sesekali melepaskan pandangan kearah penumpang yang nampak didepan dan belakang saya. Dikiri dan kanan saya, semua terlihat menggenggam buku berukuran tebal dan membacanya sambil nikmati cemilan suguhan sang pramugari.

Saya tidak kefikiran menghitung berapa waktu yang mereka pakai membaca dan menulis diatas pesawat. Kuat dugaan waktu yang mereka pakai lebih dari separuh waktu tempuh yang menyentuh angka sekitar sembilan jam terbang diangkasa.

Bocoran yang kami peroleh, mereka yang asyik membaca dan menulis diatas pesawat itu adalah warga negara dari sejumlah negara dibenua Eropa yang berstatus mahasiswa sedang kuliah di sejumlah perguruan tinggi yang ada di Dubai dan Abu Dhabi.

Mereka pulang kampung berlibur setelah event semesterannya usai dan hari hari liburnya tidak dapat memasung budaya literasinya. Kursi pesawatpun dimanfaatkannya seperti sedang duduk diperpustakaan memburu informasi yang tak bertepi.

Konon budaya literasi anak muda disejumlah negara maju di Eropa sukses mengantar bangsanya menjadi bangsa yang sejahtera dan makmur.

Ya sudahlah, mereka sudah lama dan sudah jauh melangkah. Jika masih ada sisa rasa peduli kita untuk mendirikan perpustakaan di FEB UMI, cobalah, karena kita tidak akan pernah melakukan sesuatu jika kita tidak mau mencobanya.

Awali dengan terlebih dahulu mempersiapkan terpenuhinya kriteria minimal sarana dan prasarana perpustakaan menurut Standar Nasional Pendidikan (SNP) yaitu :
Gedung/Ruangan
Luas 56M²: bila 1-6 rombongan belajar.
Luas 84M²: bila 7-12 rombongan belajar.
Luas 112M²: bila 13-24 rombongan belajar.

Lebar ruangan Perpustakaan minimal 5M²

Area

Gedung / Ruangan Perpustakaan meliputi :
1. Area Koleksi
2. Area Baca
3. Area Kerja

Sarana dan Prasarana

1. Rak buku (5 buah)
2. Rak surat kabar (1 buah)
3. Rak majalah (1 buah)
4. Kursi baca (25 buah)
5. Kursi kerja (2 buah)
6. Lemari katalog (1 buah)
7. Meja baca (2 buah)
8. Papan
pengumuman (1 buah)
9. Meja Sirkulasi (1 buah)
10. Majalah dinding (1 buah)
11. Rak buku
referensi (1 buah)
12. Perangkat
komputer untuk
administrasi (1 buah)
13. TV (1 buah)
14. Pemutar VCD/DVD (1 buah)
15. Tempat sampah
(1 buah)
16. Jam dinding (1 buah)

Lokasi Perpustakaan

Lokasi perpustakaan, berada di pusat pembelajaran yang mudah dilihat dan dijangkau oleh mahasiswa dan Dosen FEB UMI.

Semoga Insya Allah, Allah SWT berkenan memberikan pertolongannya, memudahkan terwujudnya pengadaan perpustakaan FEB UMI sebagai “Jendela dunia” melalui “Tangan dingin” Prof. Mursalim Laekkeng, ASEAN.,CPA. untuk dapat dipakai melihat dan mengetahui banyak hal yang mungkin belum diketahui sebelumnya. Insya Allah. Amin. (*)