oleh

IMMIM Gelar Diskusi Virtual, Bahas Larangan Menista Agama Lain

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – IMMIM menggelar diskusi virtual dengan membahas larangan menista agama lain, Sabtu (11/9). Narasumber kegiatan ini yakni Sekjen IMMIM Ishaq Shamad.

Selain itu, ada narasumber Prof La Ode Husen dan Prof M.Ghalib. Hadir dalam kegiatan tersebut yakni Ketua Umum DPP IMMIM Prof Ahmad M.Sewang, Rektor UIN Alauddin Prof Hamdan Juhannis.

Ketua Umum DPP IMMIM Prof Ahmad M.Sewang dalam pengantar diskusi menyampaikan apresiasi kepada PPs UIN Alauddin atas kerjasamanya dengan IMMIM dalam pelaksanaan acara diskusi ini.

Demikian pula apresiasi kepada kedua Narasumber yang menyiapkan waktu dan ilmunya.

“Tema diskusi kali ini penting agar umat jangan memaki maki agama lainnya, sehinga penting untuk saling menghargai satu sama lainnya,” ujar Prof Ahmad Sewang.

Sementara, Rektor UIN Alauddin Prof Hamdan Juhannis juga mengapresiasi IMMIM dan PPs UIN Alauddin atas inisiatif ini. Diskusi ini sebagai wadah ideologi menumbuh kembangkan keyakinan tentang kesucian dan kebenaran.

“Kenapa agama sebagai simbol, apakah itu simbol kebenaran, atau kesucian?

Penganut agama yang konsisten, pasti berada pada simbolistik yang konsisten. Jika melihat orang tertentu, kadang bertanya, apa agamanya, Islamji itu? Kita berada dalam menyirami keyakinan kita,” ungkap Prof Hamdan.

Karena, sambung Prof Hamdan, nilai agama melahirkan moral, nilai kebenaran, dan nilai keyakinan.
Dari sini menilai bahwa agama itu sejatinya mengandung nilai universalitas. Tentunya dalam agama terjadi rivalitas dari dua sisi yang sering balapan. Nilai universalitas dan nilai partikularitas.

Orang yang ingin kebersamaan akan mengembangkan nilai universalitas. Namun nilai partikularitas dikembangkan bagi para penista agama. Sebab konflik adalah keniscayaan.

“Oleh karena itu, dalam forum kerukunan, penting bagi para penganut agama berziarah ke jantung penganut agama lainnya untuk mengembangkan nilai universalitas,” harapnya.

Sementara, Narasumber Kegiatan Prof Laode Husen dalam pemaparannya menyampaikan bahwa kegiatan zoom seperti ini sebagai fenomena akhir zaman. Di dalam Alquran Surah Lukman, dikisahkan seorang anak dengan orang tuanya di Syurga dan anak di Neraka.

Mereka bisa saling melihat tapi tidak bisa saling berjabat tangan.Apa yang kita lakukan disini bisa terbaca dengan orang lain, jelasnya.

Dikatakan negara Indonesia berdasarkan Pacasila dengan Ketuhanan yang Maha Esa sebagai sila pertama. Namun Indonesia bukan negara agama, bukan juga negara Teokrasi yang dipimpin langsung oleh Tuhan, seperti di Vatikan.

Dasar negara Indonesia ini menentukan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ada jaminan kebebasan dalam beragama, dan menjadi bagian dari hak asasi manusia.