oleh

Edy Rahmat Terima Uang dari Agung Sucipto, Saksi: Tidak Ada Nama NA Disebut

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Pengadilan Tipikor Makassar kembali menggelar sidang lanjutan kasus suap proyek infrastruktur di lingkup Pemprov Sulsel, dengan terdakwa Gubernur Sulsel non aktif Nurdin Abdullah, Kamis (9/9/2021).

Pada sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua saksi, yakni Nuryadi selaku sopir terpidana kasus suap Agung Sucipto dan Irfandi yang merupakan orang dekat mantan Sekretaris Dinas PUTR Pemprov Sulsel Edy Rahmat.

Dalam keterangan keduanya, terungkap kalau tidak ada keterlibatan NA dalam proses penyerahan uang dari Agung Sucipto kepada Edy Rahmat. Bahkan dalam keterangan para saksi, tak sekalipun nama NA disebut.

Di hadapan majelis hakim, Irfandi mengakui mengantar Edy Rahmat saat menerima uang dari Agung Sucipto sebelum dilakukan penangkapan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Tapi uang itu saya tidak tau untuk siapa,” tutur Irfandi.

Saat penasehat hukum Nurdin Abdullah mencecar Irfandi terkait apakah nama Nurdin Abdullah disebut saat dirinya menemani Edy Rahmat menerima uang diduga suap dari Edy Rahmat pada Jumat (26/2/2021) malam beberapa waktu lalu, Irfandi mengaku tidak pernah menedengar nama Nurdin Abdullah disebut.

“Tidak (tidak pernah mendengar nama NA disebut saat Edy Rahmat menerima uang suap dari Agung Sucipto),” terabg Irfandi.

Pasca menerima uang di Taman Macan, Irfabdi mengaku sempat ke kawasan Lego Lego dan Masjid Terapung di Pantai Losari. Tapi hanya sebentar dan kemudian pulang ke rumah dinas Edy Rahmat. Setelah tiba di rumah dinas, Irfandi mengaku membawa masuk koper ke dalam rumah dan disimpan dalam kamar.

“Pak Edi kasih tahu saya kalau dalam koper itu ada uang Tapi tidak disampaikan jumlahnya,” tutur Irfandi yang pernah menjadi tenaga honoror di Pemkab Bantaeng saat Edy Rahmat menjabat sebagai Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Bantaeng.

Sementara itu, Nuryadi yang merupakan sopir dari Agung Sucipto menceritakan kronologi penberian uang ke Edy Rahmat pada malam sebelum dilakukan penangkapam oleh KPK.

Menurut Nuryadi, Agung Sucipto menyuruh dirinya menaikkan koper hijau dari rumah pribadi ke sebuah mobil merm BMW. Setelah itu, dirinya diarahkan untuk menuju ke Kafe FireFlies di bilangan Jalan Pattimura Makassar.

“Sekitar jam 7 atau jam 8 malam itu ada orang yang datang menemui Pak Agung. Setelah itu ada yang mendatangi saya bertanya apakah saya sopir Pak Agung. Saya jawab iya, kemudian dikasih uang yang disimpan dalam dua kantong plastik hitam. Saya dikasih tahu kalau isinya 1 M (Rp1 miliar),” ungkapnya.

Setelah itu, beberapa waktu kemudian Nuryadi menyebutkan, Agung Sucipto keluar dari Kafe Fire Flies dan mengajak ketemu Edi Rahnat di Rumah Makan Nelayan sekitar pukul 21.00 Wita.

“Setelah itu kami mengarah ke Taman Macan, saya disuruh kasih turun koper dan tas ransel. Saat saya lihat di mobil, kantong plastik tadi itu sudah kosong.

“Setelah menyerahkan uang ke Pak Edy Rahmat kami pulang ke Bulukumba malam itu juga, tapi sekitar jam 11-12 (23.00-24.00) malam, di perbatasan Jeneponto-Takalar kami ditahan KPK,” terang Nuryadi.

Kendati mengaku melihat pemberian uang kepada Edy Rahmat, saksi Nuryadi menyebutkan tak pernah mendengar nama Nurdin Abdullah disebut. Dia juga menegaskan kalau tidak pernah melihat Agung Sucipto membawa uang ke Rujab Gubernur Sulsel. (*)