oleh

Cikal Bakal Nakhoda FEB UMI Mulai Terdeteksi

Oleh : Abbas Selong (Mantan PD III FE UMI)

MAKASSAR, RAKYAT SULSEL.CO –
Tahun 2021, usia FEB UMI telah genap 59 tahun. Sejumlah sumberdaya manusia terbaiknyapun telah selih berganti, datang dan pergi di singgasana ‘Dekan’ yang menakhodainya. Tentu dengan karakter dan gaya kepemimpinannya masing masing.

Semua tercatat sebagai pelaku sejarah yang telah mempersembahkan karya
terbaiknya di zamannya, sudah memberikan kontribusi positif bagi eksistensi FEB UMI yang diusianya ke 59 tahun tetap menjadi penyangga atau penopang utama bagi tegak berdirinya UMI sebagai perguruan tinggi yang merupakan cagar alam intelektualitas yang harus independen melahirkan pemikir-pemikir bebas.

Tahun 2022 adalah masa dimana yang menakhodai saat ini akan berakhir periode pengabdiannya.

Disetiap akhir periode pengabdian pemangku amanah termasuk yang menjabat Dekan Fakultas, akan ditindaklanjuti dengan menggelar pesta demokrasi yang rencananya akan digelar di Oktober tahun ini.

Hal ini lazim disebut suksesi kepemimpinan atau pergantian/peralihan kepemimpinan untuk menjamin keberlangsungan (kontinuitas) manajemen pendidikan tinggi.

Jika didekati dengan pendekatan dalam perspektif konsep atau gagasan kampus merdeka oleh pemerintah, maka yang diperlukan adalah figur nakhoda yang kompeten, multitalenta dan berkapasitas keahlian mengatur (managerial skill) yang memadai.

Soal figur seperti yang dimaksud diatas, bagi FEB UMI tidak dalam krisis, stock yang tersediapun jumlahnya tidak sedikit.

Professor yang potensial menjadi cikal bakal nakhoda di fakultas favorit ini rata rata memiliki kompetensi dan kapasitas yang cukup untuk menjadi komandan di FEB UMI.

Satu diantaranya Prof. DR. Mursalim, ASEAN.,CPA. (Ketua Program Study Magister Akuntansi Pascasarjana UMI) yang baru saja mendapat kepercayaan sebagai Ketua Persatuan Guru Besar/Professor Indonesia (PERGUBI) Wilayah Sulawesi dan Kalimantan, periode 2021 – 2026.

Figur muda yang satu ini selain dikenal perangainya santun, orangnya ‘matanre siri’, jauh dari kategori kursi mebel (Kurangssiri’ Mega Belle), penampilannya sederhana, bertabiat (baca : watak dasar) bagus, tegas dan berani, rendah hati dan penolong, juga memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya digelari Professor multitalenta.

Mursalim, setelah direstui keluarganya dan mendapat restu dari petinggi UMI, kini hati dan fikirannya telah bulat dan mantap melangkah menuju kosong satu FEB UMI bukan dengan tangan kosong dan propaganda murahan yang tidak ilmiah.

Tokoh intelek ini disakunya ada segudang rencana pengembangan FEB UMI yang dia akan wujudkan jika nanti Allah SWT mentakdirkannya menakhodai FEB UMI.

Program kerja unggulan itu kini sedang dipersiapkan yang dapat mengakselerasi capaian FEB UMI sebagai institusi pendidikan tinggi.

Beri mereka jalan untuk menata peta jalan menuju terwujudnya kampus merdeka dan merdeka belajar.

Bagi Professor kita yang saat ini masih sedang menjabat sebagai Dekan FEB UMI, ruang dan kesempatan baginya masih terbuka lebar untuk kembali bertarung memperebutkan ruang dan kesempatan berkreasi untuk mewujudkan amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Cita cita luhur itu hanya akan bisa dicapai jika diperjuangkan tentu dengan cara cara yang bermartabat, konstitusional (senafas statuta UMI yang berlaku).

Semua pihak saling menghargai bukan saling melukai, tidak saling memukul tapi saling merangkul, tidak saling pandang enteng tapi saling membentengi, tidak saling menendang tapi sama sama berdendang, tidak saling menyisihkan namun saling mengizinkan, tidak saling memperselisihkan tapi saling mempersilahkan, tidak saling membidik tapi saling mendidik.

Sungguh, seperti itulah nilai nilai Ukhuwah Islamiah yang harusnya diwujudkan, Ukhuwah Islamiah jangan hanya menjadi penghias bibir dan pemanis rasa, BERDOSA KITA.

Untuk itu, seyogianya semua pihak berkenan meletakkan kepentingan institusi (UMI) diatas kepentingan pribadi dan kelompok. Kini zaman sudah berubah banyak dan perubahan itu menuntut semua pihak memiliki kemampuan kolaboratif yaitu kesediaan berkolaborasi positif (baca : sinerjisitas).

Memanggul nilai nilai suci demokrasi dalam pengertian partisipasi dan toleransi adalah keniscayaan karena nilai nilai demokrasi mengajarkan individu untuk saling menghormati satu sama lain.

Menjadi pemimpin (baca : Nakhoda) di FEB UMI yg memikul missi Tridarma Perguruan Tinggi yaitu : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat adalah tanggung jawab yang akan dipertanggung jawabkan.

Islam ingatkan : “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an ra’iyyatihi” yang artinya, setiap kalian adalah pemimpin (nakhoda) dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya.

Insya Allah, FEB UMI dan semua yg menggantungkan harapan baik padanya akan selalu dalam pertolongan Allah SWT. Amin.