oleh

Soal PTM, Dewan Pendidikan Makassar Minta Saran Epidemiolog

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Pro-kontra terkait Pembelajaran Tatap Muka di Kota Makassar di tengah pandemi terus bergulir. Menyikapi hal tersebut, Dewan Pendidikan Kota Makassar pun membuka Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas dan mengkaji polemik diselenggarakannya pembelajaran tatap muka di tengah pandemi.

“Kami Dewan Pendidikan Makassar sudah menggelar lomba cerdas cermat yang disiarkan langsung, berdasarkan laporan penanggung jawab ada kemunduran dari sisi kualitas,” ujar Ketua Dewan Pendidikan Kota Makassar, Rudianto Lallo, dalam FGD yang mengangkat tema “Kualitas Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19”, yang digelar di di Kantor Dewan Pendidikan Kota Makassar, Kamis (2/9).

Sementara Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar, Abd Wahab Tahir juga mengaku, melihat adanya kemunduran kualitas pendidikan semenjak digelarnya belajar daring (online).

“Banyak kendala dan kekurangan yang kami terima di DPRD. Dari dasar itu, lahir inisiasi kami membuat perlindungan tenaga pendidik, sebab kami juga tahu susahnya jadi guru. Sebab jika kualitas pendidikan ‘down’ (menurun) para guru inilah yang disalahkan, padahal kendalanya pada sistem pembelajaran online saat ini,” beber Wahab.

Melalui FGD ini, Dewan Pendidikan menghadirkan Ahli Epidemiologi Sulsel, Prof Ansariadi, PGRI Kota Makassar dan Dinas Pendidikan Kota Makassar.

Ahli Epidemiologi, Prof Ansariadi pun mengemukakan, jika berdasarkan pertimbangan dari sisi kesehatan sebaiknya Kota Makassar melaksanakan pembelajaran tatap muka dimulai dari jenjang pendidikan SMP dan SMA. Pasalnya, program vaksinasi saat ini baru menyasar usia di atas 12 tahun.

“Data vaksinasi saat ini menyasar usia 12-18 tahun, jadi yang boleh SMP dan SMA saja, tapi tetap kita harus dipastikan jumlah yang sudah divaksin apakah sudah cukup tinggi atau belum? Sementara dari data yang saya dapatkan, guru telah divaksinasi seluruhnya,” tuturnya.

Dirinya menambahkan, berdasarkan studi yang didapat oleh pihaknya, penularan terjadi di rumah dan bukan disekolah.

“Tentu, ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” pungkasnya. (*)