oleh

WALANAE-TEMPE-CENRANA (Sejarah, Masalah dan Solusinya)

Penulis :Fadly Ibrahim al-Buni

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Siang itu rinai menyambut jama’ah jum’at. Volumenya tak kian redah, selepas isya derasnya memuncak sampai pagi. Gelisah mulai menggagu tidur penduduk di sepanjang Sungai Cenrana dan sekitar Danau Tempe. Mereka harus bersiap dengan ritual tahunan, diawali dengan meninggikan barang, dan diakhiri dengan mengepel. Bertahun mereka melakukannya, hingga faham betul tertib setiap proses. Bagi orang dewasa ritual tersebut melelahkan, tapi bagi anak-anak ini adalah momen fakansi gratis sekampung,

Sebelum saya lanjutkan tentang banjir, mari kita mendayung sampan di Danau Tempe dan Sungai Cenrana seabad lalu. _______ Sepanjang tepi sungai cenrana ditumbuhi buah-buah2an, ada pisang, mangga, kelapa, kakao, jeruk, dll. Batas air dan darat menyajikan taman yang sempurna, demikian narasi James Brooke seorang raja berkebangsaan Inggris saat melakukan ekspedisi di Sulawesi pada tahun 1840. Mustafa Rumi dan Jamal Efendi, 2 orang missionaris agama Baha’i juga menceritakan pengalamannya saat naik perahu dari Pallime ke Pammana pada tahun 1889. Sungai Cenrana menjadi surga ikan air tawar, banyak pilihan sumber protein masyarakat. DR Frazzen ilmuwan Belanda mengkatalog temuannya saat melakukan ekspedisi sains di danau tempe, sungai cenrana, dan gua mampu pada tahun 1930. Tak ayal panorama Sungai Cenrana tersebut, dijadikan latar kisah oleh novelis Belanda bernama Mini Van Den Iessel (1937).

Sungai Cenrana merupakan jalur penting untuk menguasai kerajaan Bone dan kerajaan sekitarnya. Desember 1859, masyarakat disepanjang pesisir menyaksikan 11 batalyon infatri Belanda bergerak dengan perahu dari Bone menuju Pompanua. September 1905, Belanda kembali memanfaakan jalur Sungai Cenrana mengirim pasukan untuk menguasai Dulung Ajangale. Setelah rumpa’na Bone, perusahaan pelayaran Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) ikut memanfaatkan dominasi Hindia Belanda dengan membangun kawasan pergudangan di pesisir Sungai Cenrana. Tahun 1921 tercatat 146.631 pikul beras yang diekspor KPM melalui Sungai Cenrana. Kapal-kapal berlayar dari Pallime ke Gowa, Buton, Ternate, Maluku, Surabaya, bahkan sebagian langsung ke Singapura. Kawasan ekonomi yang dikelola oleh KPM tumbuh berkembang, dan menjadi magnet bagi pendatang.. Fase strengthening ekonomi ini, merupakan gelombang kedua yang mendorong diaspora Hadramaut Yaman migrasi ke Bone.

Jauh sebelum belanda melakukan ekspansi, kerajaan di wilayah TellumpoccoE juga memanfaatkan Sungai Cenrana untuk membangun interaksi wilayah. Bahkan Raja Wajo era Arung Matoa memilih danau Lampulung hulu Sungai Cenrana sebagai pusat pemerintahan. Kedatuan Pammana menetapkan Lagosi di pesisir Sungai Cenrana sebagai sentral aktivitas. Pompanua yang berada di tepian Sungai Cenrana dipilih oleh Raja Bone sebagai ibukota Dulung Ajangale, pun Lapatau Matanna Tikka Raja Bone memusatkan aktifitasnya di Nagauleng Cenrana. Sungai Cenrana menjadi infrastruktur purba yang membantuk relasi spasial, kultural, dan politikal di Sulawesi. Eksistensinya menjadi saksi bangunan peradaban setiap fase kekuasaan.

Seabad lalu, kisah romatika, heroik, dan geliat ekonomi menjadi tema masyarakat pesisir. Namun kini berubah menjadi kegelisahan, bahkan beberapa tahun terkahir harus berujung nestapa akibat banjir berulang “meminta” korban. Selama tahun 2021, setidaknya sudah 3 kali terjadi banjir dengan cakupan dampak cukup luas. Kondisi ini akan terus mengancam masyarakat di sekitar Danau Tempe dan pesisir Sungai Cenrana. Perubahan iklim dan penurunan daya tampung menjadi penyebab terjadinya banjir.

Untuk mengenali problemnya kita harus awali analisa pada elevasi tertinggi di sekitar Danau Tempe, disisi barat merupakan pegunungan Soppeng, Bone, Maros, dll. Luas cekungan yang menangkap hujan pada daerah ini mencapai 3,190 km2, kemudian dialirkan kepada 30 anak sungai yang selanjutnya ditampung oleh Sungai WalanaE. Kawasan ini disitilahkan dengan DAS Walanae yang muaranya di Danau Tempe. Debit air hujan yang mengalir di Sungai Walanae membawa sedimen ke Danau Tempe sebesar 786.066 m3/tahun.

Pada sisi utara danau terdapat juga pegunungan di Kabupaten Wajo, Sidrap, Enrekang, dll. Luas cekungan yang menangkap hujan pada daerah ini mencapai 1.155 km2, kemudian dialirkan kepada 4 anak sungai. Kawasan ini dinamakan dengan DAS Bila yang bermuara pual di Danau Tempe. Debit air hujan yang mengalir dari Sungai Bila juga membawa sedimen ke Danau Tempe sebesar 192.542 m3/tahun.

Selain 2 sungai besar tersebut, terdapat 8 anak sungai yang lagsung bermuara ke danau Tempe dengan sedimen bawaan mencapai 90.491 m3/tahun. Disamping itu adapula 2 danau yang bermuara di Danau Tempe, yakni danau Labuaja yang menampung aliran dari 1 anak sungai. Kemudian danau Sidenrang yang menampung 3 anak sungai. Total sedimen yang ditampung oleh Danau Tempe dari beberapa anak sungai mencapai 1.069 juta m3/tahun atau setara 152 ribu truk timbunan. Dari jumlah sedimen tersebut, sebanyak 518 ribu m3/tahun dibuang ke Sungai Cenrana. Situasi ini yang menyebabkan menurunnya kapasitas tampungan Danau Tempe dan Sungai Cenrana sehingga meluap di kawasan permukiman, kondisi tersebut diperparah oleh aglomerasi kawasan permukiman di pesisir dan tingginya populasi enceng gondok. Pedangkalan di danau tempe rata-rata 0,37 cm/tahun, angka ini berkategori kritis karena >2% dari kedalaman rata-rata.

Tahun 2016 telah dilakukan pengerukan sekaligus menambah daya tampung sebanyak 7,23 juta m3, hal ini setara dengan akumulasi sedimen selama 7 tahun yang masuk di Danau Tempe. Disamping dredging tersebut, terdapat wacana untuk membangun tanggul sepanjang 92 km sebagai upaya meningkatkan kapasitas tampungan. Selain bukan solusi ekonomis saat ini juga tidak menyelesaikan akar masalah di hulu. Anggaran tanggul dapat didsitribusi dengan melakukan treatment di hulu. Namun demikian opsi parallel hulu-hilir dapat dilakukan bersamaan bila kapasitas pendanaan memungkinkan.

Apa yang terjadi di Hulu???_____ Nippon Koe mempublikasi luas lahan kritis di DAS Bila – WalanaE mencapai 30% dari luas DAS. Sementara Bappenas (2015) melaporkan bahwa 24,31% lahan hutan terkonversi menjadi lahan pertanian dan perkebunan, sebagian hutan yang tersisa juga mengalami degradasi. Sekalipun terdapat pebedaan angka namun angka tersebut tentu lebih kecil dibandingkan data aktual tahun ini. Untuk mengkomfirmasi angka tersebut, dapat disandingkan dengan data peningkatan luas tanam jagung di DAS Bila-WalanaE. Luas tanam di Kabupaten soppeng meningkat 20% setiap tahun, Kabupaten Maros juga memberi kontribusi rata-rata peningkatan luas tanam sekitar 4,2%. Kasus illegal logging dilaporkan mengalami peningkatan pula selama masa pandemi. Dengan berubahnya tutupan lahan, maka tanah entisol bertekstur halus yang dominan di DAS berpotensi tererosi sekitar 6-7 mm/tahun. Fenomena inilah yang membawa sedimen setara 152 ribu truk/ tahun.

Upaya konservasi lahan (forestasi) dengan memperbaiki lahan-lahan kritis merupakan agenda mendesak yang perlu dilakukan. Lahan tidak produktif yang tidak bervegetasi harus diforestasi kembali. Program penghijaun dapat dilakukan dengan mendorong keterlibatan seluruh elemen, termasuk mengoptimalisasi potensi kearifan lokal, dimana setiap anak yang “menre tojang” harus ditanamkan satu pohon.. Disamping upaya pelestarian tersebut, pendekatan struktural perlu pula menjadi perhatian dengan mendistribusi pembangunan embung, bendungan, checkdam, sabo, dan sand pocket pada daerah DAS Bila-WallanaE.

Kedepan peningkatan produktifitas pertanian tidak lagi fokus pada ekstensifikasi, tapi lebih dominan pada intensifikasi berbasis teknologi pertanian. Usaha penguatan struktur ekonomi regional, pun tidak perlu mendefortasi lahan secara massif karena masih tersedia opsi sektor yang bisa dikembangkan. Hanya pada titik keseimbangan relasi manusia-lingkungan-ekonomi kita bisa membangun peradaban secara berkelanjutan. Wallahu a’lam bissawab

Pompanua, Tepian Sungai Cenrana, 28/08/2021