oleh

Dewan Pendidikan Pantau Kesiapan PTM di Sekolah-sekolah

PAREPARE, RAKSUL — Ketua Dewan Pendidikan Kota (DPK) Parepare Dr Muh Nashir dan Tenaga Ahli Pendidikan Pemkot Parepare HM Nur Azis turun langsung memantau beberapa sekolah untuk memastikan kesiapan pembelajaran tatap muka (PTM). Keduanya turun bersama Kepala Bidang Dikdas Disdikbud Parepare Johansyah dan pemerhati pendidikan Parepare sekaligus Ketua Komite SDN 3 Parepare H Bakhtiar Syarifuddin (HBS).

Ada dua sekolah yang dikunjungi untuk menjadi sampel yakni SDN 3 Parepare dan SMPN 2 Parepare, Senin, 30 Agustus 2021.

Kedua sekolah ini mempunyai jumlah siswa yang cukup besar sehingga tepat dijadikan percontohan atau pilot project PTM terbatas di masa pandemi Covid-19.

Di SDN 3, Nashir dan Nur Azis meninjau sarana prasarana hingga ruang kelas, dan mendengar penjelasan langsung dari Kepala SDN 3 Amrihim dan Ketua Komite Bakhtiar Syarifuddin, terkait strategi formulasi PTM terbatas.

Hasilnya, keduanya menyatakan sudah layak PTM terbatas di SDN 3. “Jadi SDN 3 merancang pembelajaran tatap muka terbatas untuk kelas 1, 2, dan 3 dulu. Yang masuk dibatasi 50 persen dari jumlah siswa per kelas. Jadi kalau 28 per kelas, yang masuk 14 orang dulu, dan diatur per shift. Misalnya shift pertama mulai pukul 07.00 sampai pukul 09.30, dan shift kedua pukul 10.00 sampai 12.30,” terang Nashir.

Sementara kelas 4, 5, 6, untuk sementara belajar Daring (online), sambil dirancang strategi yang tepat untuk PTM terbatas bagi siswa kelas 4, 5, 6. “Kalau sarana prasarana, saya pikir tidak ada masalah. Wadah cuci tangan dan sabunnya ada dua di gerbang masuk, kemudian ada hand sanitizer di setiap kelas. Nanti juga akan dibuatkan tenda di halaman sekolah untuk siswa transit menunggu shift masuk belajarnya. Jadi SDN 3 siap untuk PTM terbatas,” ungkap Nashir.

Di SMPN 2, Nashir, Nur Azis, Johansyah, dan Bakhtiar Syarifuddin yang merupakan alumni SMPN 2, juga mendengar langsung paparan Kepala SMPN 2 Dra Hj Sri Enyludfiah MPd, terkait rancangan strategi formulasi PTM terbatas.

“Kalau sarana dan prasarana serta penunjang pendukung protokol kesehatan di SMPN 2, kami bisa katakan sangat-sangat layak. Dan kami diskusikan strategi apa yang tepat untuk PTM terbatas di SMPN 2, karena jumlah siswanya besar mencapai 1000 anak,” papar Nashir yang juga Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Parepare.

Strategi sementara di SMPN 2, kata Nashir, digunakan format siswa per tingkatan kelas bergantian masuk per hari. Misalnya Senin, siswa kelas 7 yang masuk, kemudian Selasa kelas 8, Rabu kelas 9. Berikutnya lagi Kamis kelas 7, Jumat kelas 8, dan Sabtu kelas 9. Itupun siswa yang masuk tetap berjumlah 50 persen dari keseluruhan siswa per kelas, dan diatur per shift. “Jadi siswa per tingkatan kelas masuk bergantian. Misalnya shift pertama dari pukul berapa sampai pukul berapa, dan selanjutnya shift kedua dari pukul berapa sampai pukul berapa. Dan protokol kesehatan harus diterapkan secara ketat. Karena keamanan siswa yang utama,” ingat Nashir.

Kepala SMPN 2 Sri Enyludfiah menyatakan siap memulai PTM terbatas jika sudah dibolehkan. “Kami siap jika sudah dibolehkan. Wadah cuci tangan dan sabun ada di setiap titik, ada hand sanitizer per kelas, kemudian bangku kami buat berjarak, serta UKS kami sangat menunjang,” kata Sri Enyludfiah.

Nashir dan Nur Azis usai pemantauan menyatakan siap menemui Wali Kota Parepare Dr HM Taufan Pawe untuk melaporkan kondisi sekolah sekaligus mendiskusikan tentang PTM terbatas. “Segera kami menghadap Bapak Wali Kota untuk melaporkan hasil pemantauan kami. Sekaligus memberi masukan dan pertimbangan kepada Wali Kota tentang pembelajaran tatap muka terbatas ini,” tandas Nur Azis yang merupakan salah satu penggawa KAHMI Parepare. (*)