oleh

Mudassir Khianati PKB dan PPP

– Gagal Jadi Kepala Daerah, Malah Gabung Golkar

BARRU, RAKYATSULSEL.CO – Salah satu calon Bupati Barru, Mudassir Hasri Gani yang berpasangan dengan Aksah Kasim diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 lalu.

Saat itu, suara Mudassir Hasri Gani-Aksah Kasim tak mampu mengalahkan psangan calon (Paslon) nomor urut 02 Suardi Saleh-Aska Mappe dengan perolehan 49.064 suara.

Sementara paslon nomor urut 03 HM Malkan Amin-A Salahuddin Rum dengan perolehan 35.964 suara. Sedangkan paslon nomor urut 01 Mudassir Hasri Gani-Aksa Kasim hanya memperoleh 20.941 suara.

Setelah pesta demokrasi itu selesai, anak dari Sekertaris Provinsi Sulsel, Abdul Hayat Gani itu lebih memilih meninggalkan partai pengusungnya pada 2020 lalu dan memilih bergabung ke Partai Golkar.

Dimana partai berlambang pohon beringin ini akan melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda) ke-X dan DPD II Golkar Barru telah melakukan penjaringan.
Saat ini ada tiga nama yang telah mengambil formulir pendaftaran, mulai dari Wakil Ketua DPRD Barru Kamil Ruddin, Ketua Fraksi Golkar DPRD Barru Syamsuddin Muhiddin dan Mudassir Hasri Gani.

“Usai pengambilan formulir, kita berikan waktu tiga hari dari tanggal 3 sampai 5 untuk pengembalian berkas,” kata Ketua Steering Committee, Muh Tahir Ali.

Wakil Ketua DPD II Golkar Barru ini menjelaskan, setelah panitia menerima berkas para bakal calon, selanjutnya panitia menggelar verifikasi berkas pada 6 sampai 7 Agustus 2021.

“Tanggal 9 baru kita tetapkan dan umumkan berkas para bakal calon yang lolos. Setelah itu kita tunggu waktu DPD I untuk fit and proper test. Begitupun jadwal musda kita tunggu petunjuk Ketua DPD I Golkar Sulsel Bapak Taufan Pawe,” bebernya.

Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Barru ini berharap, penjaringan calon ketua Golkar Barru ini akan menghasilkan ketua sesuai harapan seluruh kader, yakni mampu mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Barru.

“Dengan sistem seperti ini, maka terlihat bahwa partai Golkar partai terbuka, partai modern, membuka kesempatan para kader dan non kader. Maka berkompetisilah secara sehat untuk membesarkan dan mengembalikan kejayaan Partai Golkar. Sebagaimana beberapa tahun yang lalu,” jelas Tahir Ali.

Sementara itu, Mudassir Hasri Gani memilih partai Golkar karena dia anggap partai berlambang pohon beringin ini memiliki pengalaman cukup lama dan salah satu partai tertua di Indonesia.

“Golkar partai yang memiliki pengalaman dan terakhir di Barru Golkar berjaya tahun 2015. Jadi saya ingin mengembalikan kejayan Golkar di tahun 2024 nanti,” beber Mudassir.

Disinggung mengapa dirinya memilih partai Golkar padahal PKB salah satu Parpol yang cukup berprestasi di kabupaten Barru Dimana dari Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 lalu PKB tidak memiliki walaupun satu kursi.

Namun pada saat kontestasi Politik PKB mampu meraih 5 kursi sekaligus mendudukan kadernya di setiap Daerah Pemilihan (Dapil). Semetara Partai Golkar kursinya stagnan atau tidak mengalami peningkatan pada Pileg 2019 lalu dan tetap memperoleh 5 kursi saja.

Ia hanya menyebutkan PKB tidak melaksaan Musda dan dia anggap ketua PKB Aksah Kasim seperti saudara sehingga tidak ingin mengganggu jabatan Aksah Kasim sebagai ketua PKB Barru.

“Jadi kebetulan di Golkar mau melakukan Musda dan kebetulan tidak ketuanya jadi lebih baik disini (Golkar),” tutup Mudassir.

Sekertaris PKB Sulsel, Muhammad Haikal mengemukakan, sampai saat ini belum melihat Kartu Anggota (KTA) tapi memang Mudassir pernah menyatakan akan bergabung dengan PKB saat dirinya akan maju di Pilkada Barru.

“Saya belum tau apakah sudah ada KTA-nya keluar atau belum. Tapi pada saat Pilkada dia sampaikan akan menjadi kader,” kata Haikal.

Disinggung mengenai kepindahannya. Haikal tidak bisa menghalanginya karena itu hak politik setiap orang. “Kita tidak bisa melarang orang pindah kan itu haknya,” singkatnya. (***)