oleh

DPP PDIP Launching Sistem Peringatan Dini Bencana, Dokter Fadli Ananda: Partai Pertama yang Lakukan Mitigasi Bencana

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) DPP PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Pelatihan Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami, yang dilaksanakan secara virtual, Rabu, 4 Agustus 2021. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan launching Sistem Peringatan Dini Multi Bahaya Geo-Hidrometeorologi.

Kepala Baguna Sulsel, Dokter Fadli Ananda, turut hadir mengikuti acara tersebut. Ia menjelaskan, Sistem Peringatan Dini Multi Bahaya Geo-Hidrometeorologi tersebut terintegrasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Sistem ini terintegrasi dengan BMKG, dan seluruh daerah se Indonesia, termasuk Sulsel tentunya,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, melalui sistem tersebut, Baguna bisa lebih awal melakukan berbagai persiapan jika terjadi bencana. Bahkan menyampaikan kepada masyarakat dengan lebih cepat, jika akan terjadi gempa bumi ataupun tsunami.

“Jika bencana alam dan tsunami bisa dideteksi lebih awal, lebih cepat diketahui, masyarakat di lokasi tentu bisa bersiap-siap, dan tidak terjadi kepanikan. Mitigasi bencana bisa meminimalisir jatuhnya korban jiwa,” terangnya.

Dokter Fadli Ananda mengungkapkan, PDIP merupakan partai pertama di Indonesia yang memiliki sistem mitigasi bencana. Bahkan memiliki batalyon khusus, yang selalu siaga turun ke lapangan jika terjadi bencana.

“Baguna Sulsel akan menjadi yang terdepan, dan senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat ketika terjadi bencana,” pungkasnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, beserta jajaran DPP PDIP lainnya. Hadir pula Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dan Kepala BNPP Marsekal Madya Henri Alfiandi.

Dalam acara tersebut, Megawati menyampaikan, kesadaran soal bencana dan mitigasinya harus dipersiapkan. Itulah salah satu alasan mengapa PDIP menggelar launching sistem peringatan dini ini. Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi pusat dan daerah dalam mitigasi bencana.

“Kepala daerah tak bisa bergerak sendiri. Koneksitasnya harus sama pusat,” kata Mega. (*)