oleh

Dua RS di Sulsel Hampir Penuh

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Tingginya angka terkonfirmasi Covid-19 di Sulawesi Selatan membuat Bed Occoupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit di Bone dan Rumah Sakit Labuang Baji Makassar hampir penuh.

Menanggapi hal tersebut Koordinator Posko Satgas Covid Provinsi Sulsel, dr Arman Bausat mengatakan, dirinya telah mendapat perintah dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman untuk mencari solusi terkait Rumah Sakit Labuang Baji Makassar dan Rumah Sakit di Bone yang BOR-nya hampir penuh tersebut.

“Tadi pagi pagi Pak Gubernur perintahkan sama saya, untuk mengambil langkah mengatasi permasalan di RS Labuang Baji dan RS di Bone. Di dua RS ini BOR-nya sudah hampir penuh 90 persen,” saat dikonfirmasi via telepon, Jumat(29/7).

Ia pun mengaku jika permasalahan ini dapat diatasi, contohnya seperti di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi, BOR untuk di rumah sakit ini tidak pernah melebih 50 persen.

“Jadi saya sampaikan ke Pak Gubernur, mengenai bagaimana solusi agar BOR di RS tidak penuh. Saya mencontohkan di RS Dadi yang tidak pernah BOR-nya melebihi 50 persen untuk pasien isolasi,” jelas dr Arman yang juga Direktur RSKD Dadi ini.

Hal tersebut, lanjutnya, karena semua tempat tidur yang digunakan di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Makassar diperuntukkan untuk para pasien Covid-19 dan tidak menerima pasien umum kecuali pasien jiwa.

“Kenapa BOR di RS Dadi tidak pernah lebih 50 persen? karena semua tempat tidur saya gunakan untuk pasien covid. Ada 220 tempat tidur saya gunakan untuk covid tidak ada saya terima pasien umum, kecuali jiwa,” lanjutnya.

Ia pun mengimbau, jika Rumah Sakit Labuang Baji memanfaatkan semua BOR yang dimilikinya untuk pasien Covid pasti BOR nya rendah.

“Di RS Labuang Baji dia cuma sediakan 50 tempat tidurnya untuk pasien covid. Jadi kalo pasien sudah masuk 45 orang, otomatis 45 per 50 kali 100 pasti 90 persen lebih. Coba kalo dia tolak semua tempat tidurnya pasien umum, dimanfaatkan semua 300 untuk pasien covid, otomatis pasiennya 40 per 300 kali 100 persen otomotis BOR-nya akan rendah sekali,” bebernya.

Sehingga sebagai solusi terbaik, tegas dr Arman, adalah mengkonversi semua BOR yang dimiliki Rumah Sakit untuk pasien Covid-19.

“Solusi terbaik ada mengkonversi semua tempat tidur ke covid. Jadi semua tempat tidur untuk pasien umum di konversi untuk pasien covid, konversi RS Labuang Baji, konversi RS Haji, kalau RS Dadi kan sudah semua dikonversikan,” pungkasnya.

Saat ini, berdasarkan data keterisian tempat tidur Covid-19 di sejumlah rumah sakit Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan per Jumat, 30 Juli 2021 yakni, untuk RSKD Dadi Makassar untuk keterisian 33,3 persen, Rumah Sakit Labuang Baji Makassar 52,9 persen, Rumah Sakìt Sayang Rakyat 5,0 persen dan Rumah Sakit Haji Makassar 45,0 persen.

Menanggapi usulan Koordinator Posko Satgas Covid Provinsi Sulsel yang mengusulkan agar RS tak menerima pasien umum dan mengkonversikan seluruh tempat tidur hanya untuk pasien covid, Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Ismail Bachtiar mengatakan, jika sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi dari sejumlah rumah sakit milik pemerintah tersebut.

“Saat ini kita belum menerima laporan di rumah sakit mana saja yang BORnya sudah hampir penuh. Secara nasional kan kita (Sulsel) masih aman, meskipun kita baru masuk zona merah, setidaknya sudah harus ada langkah-langkah yang bisa diambil oleh pemerintah jika pasien,” katanya.

Menurutnya, BOR RS di Sulsel seharusnya sangat rendah, sebab saat ini sudah ada tiga tempat isolasi pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan, misalnya Pemerintah Kota Makassar yang menyiapkan Kapal Umsini jadi tempat isolasi, Pemprov juga telah menyiapkan Asrama Haji Sudiang, kemudian juga ada Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar di Antang yang disiapkan Tim Bantuan Medis Calcaneus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas).

“Jadi rumah sakit tidak akan penuh kalau hanya menampung kasus-kasus yang memang harus dibawa ke rumah sakit. Jadi bagi orang terpapar tanpa gejala, lebih baiknya mengikuti isolasi mandiri. Kan saat ini sudah disiapkan Asrama Haji Sudiang dan di atas kapal Umsini,” ujarnya.

Terpisah, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto menyampaikan, jika saat ini fasilitas Isolasi Apung yang menggunakan Kapal KM Umsini, ditunda untuk difungsikan.

Pasalnya, kata Danny, penyerahan dan penggunaan Kapal KM Umsini untuk dijadikan tempat perawatan untuk pasien isolasi harus melalui MoU bersama Kementerian Perhubungan.

“Betul hari ini sudah saya mau jalankan (Fungsikan), tapi ada permintaan dari pusat bagusnya kita MoU dulu, kan ada penyerahan kapal, MoU diminta hari Senin,” ujar Danny saat ditemui di kediamannya, Jumat (30/7).

Lanjutnya, untuk langkah awal Danny memperkirakan ada 100 orang yang bakal melakukan isolasi. Karena pasien isolasi yang sudah mendaftar untuk naik hari ini, terpaksa harus didata ulang.

“Kita tunggu dulu, menyesuaikan karena ini ditunda, otomatis suda ada yang sembuh, nah baru lagi kita cari, ini mau di tes ulang lagi,” terangnya

“Jadi saya kira tidak sampai 500 launcing pertama yang naik, harus bertahap, paling tidak 100 adalah. Tapi saya berharap 500 naik sekaligus, supaya hemat kan,” tutupnya.

Sebelumnya, juru bicara pemerintah dalam Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menekankan, bahwa edukasi terhadap penularan COVID-19 di masyarakat perlu terus dilakukan. Sebab tidak sedikit warga yang belum tahu harus berbuat apa saat terkonfirmasi positif Corona. Terutama yang mengalami gejala sedang dan berat.

“Untuk masyarakat bila mengalami gejala sedang, berat. Utamanya di atas usia 45 tahun, punya komorbid dan tidak punya tempat memadai untuk isoman (isolasi mandiri), kami mohon untuk tidak isoman,” imbau Wiku, di Jakarta, Kamis (29/7) kemarin.

Dia meminta agar masyarakat dengan kondisi tersebut memanfaatkan tempat isolasi terpusat yang disediakan pemerintah.

“Perawatan di tempat itu dipantau langsung tenaga kesehatan dan tanda vital, pola, gejala dan obat-obatan. Sehingga bila terjadi apa-apa bisa langsung ditangani dengan cepat,” jelas Wiku.

Mereka yang dapat melakukan isoman adalah pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) atau bergejala ringan, berusia kurang dari 45 tahun. Selain itu, tidak memiliki komorbid dan punya tempat isoman memadai. Sehingga bisa mengurangi daya tampung ruang perawatan RS dan mengurangi kontak dengan anggota keluarga di rumah.

“Pastikan selama isoman untuk makan makanan bergizi, minum obat dan cek temperatur dan saturasi oksigen,” papar Wiku. (*)