oleh

Pengambilan Paksa Jenazah Covid-19 Marak, Ashabul Kahfi Minta Pemprov Tambah Laboratorium Specimen

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul Kahfi menyatakan keprihatinannya terkait maraknya kejadian pengambilan paksa jenazah yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dari sejumlah Rumah Sakit belakangan ini.

Menurutnya, tentu ada alasan yang menjadi pemicu sehingga pihak keluarga melakukan pengambilan paksa jenazah keluarganya yang meninggal tersebut.

Ia menyebut salah satu penyebabnya bisa jadi karena hasil pemeriksaan tes swab lamban keluar untuk mengetahui apakah pasien tersebut positif atau negatif Covid-19.

“Bagi saya perlu ada pemberian prioritas pemeriksaan di Laboratorium bagi pasien yang sedang dalam perawatan di Rumah Sakit. Jangan dicampur dengan hasil pemeriksaan orang yang tidak dalam perawatan,” kata Anggota Fraksi PAN DPR RI ini, Rabu (28/7).

Dirinya pun mengaku, di Komisi IX DPR mendesak Pemerintah untuk terus menambah alat dan laboratorium yang bisa melakukan pemeriksaan swab secara cepat dan akurat.

“Kita juga minta pemerintah provinsi dan satgas untuk menambah alat dan laboratorium untuk bisa memeriksa secara cepat dan akurat specimen per hari. Kalau sekarang saya belum tahu berapa pemeriksaan swab per hari di Sulsel, kalau perlu ditingkatkan,” ujar Kahfi.

Akibat keterlambatan tersebut, lanjut Kahfi, bisa membuat keluarga pasien dalam ketidakpastian. Dalam sejumlah kasus, keluarga pasien meyakini bahwa pasien meninggal karena penyakit lain.

“Sementara di sisi lain, tenaga kesehatan tidak ingin mengambil resiko terjadinya potensi penularan yang lebih luas. Sebab jika pasien meninggal dalam kondisi PDP, dan hasil tes swab belum keluar, tentu sangat beresiko jika diserahkan ke keluarga. Bagaimana jika beberapa hari kemudian, hasilnya positif?” ujarnya.

Sekadar diketahui, di Makassar, kasus pengambilan paksa jenazah sempat terjadi pada Juni lalu, di sejumlah RS antara lain di RSKD Dadi, Rumah Sakit Labuang Baji dan RS Daya.