oleh

Darul Istiqamah Usung 3 Poin Kemajuan

Namun itu tak membuat impian yayasan untuk berdikari secara ekonomi diletakkan begitu saja. Beberapa program ekonomi tetap dibuat. Pertimbangannya adalah visi menjadi pusat pendidikan islami yang modern dan berkualitas, membutuhkan daya dorong. Kemandirian ekonomi juga bisa melepaskan citra pesantren hanya bisa “hidup” dari sumbangan umat.

Muzayyin menjelaskan, rencana unit-unit bisnis yayasan sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu pihak yayasan melakukannya, namun diakuinya masih sangat konvensional. Misalnya melepas beberapa bagian lahan pesantren untuk dibanguni Perumahan Haji Banca. Pesantren juga membuat tanah kavling, dijual kepada masyarakat, dan hasilnya digunakan untuk operasional pesantren.

Sebagai bagian dari generasi pelanjut Darul Istiqamah, Muzayyin yang sampai saat ini masih di posisi dewan pembina yayasan (berdua dengan KH Arif Marzuki), coba membuat sentuhan yang lebih kekinian. Aspek lain yang juga sangat dia perhatikan adalah legalitas.

Sejak menjadi dewan pembina, aspek tersebut yang terus dia rapikan. Dia ingin segala aktivitas bergerak atas nama lembaga. Bukan pribadi. Bukan atas nama kiai. Alasannya, yayasan adalah badan hukum butuh legal standing. Sebab kolaborasi atau kerja sama apapun yang dilakukan dengan pihak luar, harus beres dari sisi legalitas.

“Pegangan kami dalam bertindak adalah dua poin itu. Restu orang tua sebagai pelanjut pesantren dari kakek. Kedua, kekuatan hukumnya,” ucap mantan Direktur Sekolah Insan Cendekia, Serpong, sekolah modern yang dibangun tokoh nasional Tamsil Linrung itu. (*)