oleh

Siapa Aktor Dibalik Proyek Bermasalah di Bone

Editor : Ridwan Lallo-Daerah-

BONE, RAKYATSULSEL.CO – Dana puluhan miliar telah mengalir di Kabupaten Bone untuk membiayai sejumlah mega proyek.

Namun Mega proyek yang dimaksud, hingga saat ini masih mengalami beberapa masalah, hingga membuat anggota Komisi D DPRD Sulawesi Selatan turun tangan. Mereka  meninjau langsung proyek tersebut, minggu lalu.

Proyek bermasalah tersebut antara lain, pembangunan rumah sakit regional, jalan provinsi dan Islamic Centre yang kesemuanya berlokasi di Desa Ponra yang tak lain kampung halaman Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman.

Hal inipun lantas memicu reaksi sejumlah pihak yang diantaranya datang dari aktivis Peduli Pembangunan Sulsel, Arman Priatna. Dia bahkan menilai ada aktor dibalik mega proyek tersebut.

“Proyek inikan bermasalah dan kenapa terkesan dibiarkan. Apakah karena lokasinya di kampung halamannya Plt. Gubernur Sulsel. Ini yang harus kita cari tahu, siapa aktor dibalik masalah di mega proyek ini,” lontarnya.

Menurutnya, kenapa mesti ada mega proyek di bangun  di lokasi yang terkesan dipaksakan untuk dialihkan ke kampung halaman Plt Gubernur Sulsel.

“Apalagi anggota dewan menilai,  harusnya proyek di bangun di kota Bone, kenapa dialihkan ke kecamatan. Belum lagi ada bendungan yang dibangun di tengah hutan. Ini pasti ada aktornya,” cetusnya.

Anggota Komisi D DPRD Sulawesi Selatan, memang telah melakukan peninjauan atas sejumlah proyek yang ditengarai bermasalah di Kabupaten Bone, Sabtu, 3 Juli lalu.

Selain mengunjungi Islamic Center Ponra, kalangan DPRD Sulsel ini juga mengunjungi Bendum Waru Waru, Bendum Lalengrie dan jalan kawasan strategis propinsi, Palattae Bone. Hampir semua lokasi yang dikunjungi belum tuntas. Apalagi di Bendum Lalengrie, ternyata sampai sekarang penyelesaian pembebasan lahan belum tuntas.

Saat kunjungan, hanya beberapa pekerja di lokasi, tidak ada aktivitas berarti.

“Ini tidak mungkin selesai hingga jatuh tempo,” kata Ady Ansar, anggota Komisi D DPRD Sulsel.

Diapun kesal lantaran penanggungjawab yang mengerjakan proyek bendum senilai Rp 41 miliar itu,  disebut salah satu petugas keamanan proyek, jarang ke lokasi.

Terkait persoalan tersebut, Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman juga sempat merespon. “Islamic Centre itu sudah lama dibangun (sejak 2019). Kenapa baru sekarang dipertanyakan,” katanya kepada media di Hotel Claro Jl AP Pettarani Makassar, Senin 5 Juli.

Menurutnya, sorotan Komisi D DPRD Sulsel itu sah-sah saja. “Tak apa-apa, tugasnya DPRD memang untuk pengawasan. Terkait masalah lokasi, kita minta Komisi D menggunakan data dimana disebutkan kalau lokasi tersebut dibolehkan,” jelasnya. (*)