oleh

Jelang Musda, Demokrat Kabupaten dan Kota Terbelah

Editor : Armansyah-Berita, Partai, Politik, Tokoh/Figur Politik-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Sikap Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Demokrat kabupaten/kota terbelah menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Demokrat Sulsel. Rivalitas Ni’matullah (Ulla) Vs Ilham Arief Sirajuddin (IAS) tak terhindarkan, selain potensi figur alternatif sebagai kuda hitam, semisal Andi Irwan Hamid.

Dominan DPC diisukan merapat ke IAS, sementara Nimatullah diunggulkan 6 DPC. Meskipun jadwal pelaksanaan Musda belum ditentukan oleh DPP, namun IAS mendapatkan dukungan dari 14 dari 24 DPC Demokrat kabupaten/kota di Sulsel.

Hal itu ditandai ketika IAS melakukan pertemuan dengan 12 DPC, di salah satu hotel di Kota Makassar. Pada pertemuan itu 12 DPC hadir, dua diantaranya virtual.
Adapun 14 DPC yang hadir yaitu, Maros, Pinrang, Parepare, Soppeng, Wajo, Luwu, Bulukumba, Sinjai, Barru, Toraja Utara, Jeneponto, Bantaeng, Luwu Utara dan Palopo.

Ketua DPC Demokrat Toraja Utara, Hatsen Bangri mengatakan, IAS dan Ni’matullah merupakan kader Demokrat yang terbaik.

“Pak IAS pernah memimpin Demokrat sebelumnya begitu pula pak Ni’matullah sekarang. Tapi yang lebih pas pak Ilham untuk memimpin Demokrat Sulsel,” ujarnya.

Ia mengaku sering berkomunikasi dengan IAS ketimbang wakil ketua DPRD Sulsel (Ni’matullah). “Pak IAS selalu menelfon, kalau pak ketua sekarang (Ni’matullah) belum pernah hubungi saya,” sebutnya.

Hatsen Bangri membeberkan alasannya memilih IAS. “Saat pertemuan dengan 14 DPC lalu, Pak IAS sampaikan ingin membesarkan partai dan dia sudah siap maju pada Pilgub Sulsel mendatang jika beliau memimpin Demokrat Sulsel. Kalau disebelah (Ni’matullah) belum saya dengar ingin maju Pilgub,” bebernya.

“Keinginan IAS maju Pilgub sehingga kami berniat memberikan dukungan kepada pak IAS,” lanjutnya.

Ia juga mengklaim 14 DPC yang hadir memberikan sinyal dukungan ke IAS. “Sepertinya (memberikan dukungan ke IAS) karena kami intens komunikasi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Makassar, Rasyid Ali (ARA) mengaku belum mau bersikap soal arah dukungan di Musda Demokrat Sulsel. “DPC Partai Demokrat Kota Makassar belum mau bicara soal dukungan di Musda,” jelasnya, Kamis (8/7).

ARA beralasan, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat belum mengeluarkan jadwal Musyawarah Daerah. Sehingga sangat tidak logis membicarakan arah dukungan.

“Jadi selama belum ada jadwal Musda dari DPP, maka belum ada gambaran dukungan. Nanti kita lihat ke depan,” tutur Wakil ketua DPRD Makassar itu.

ARA mengatakan tidak mudah untuk mengemban amanah jabatan Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan. Dia menilai ambisi merebut posisi ketua DPD tidak boleh didasari kepentingan pilkada semata.

“Menurut saya Partai Demokrat Sulsel harus dirawat dengan baik. Tidak segampang itu jadi ketua Demokrat. Jangan hanya untuk kepentingan pilkada. Partai ini partai besar, partai ini harus dirawat, harus dirawat dengan baik,” tegas ARA.

Ketua DPC Demokrat Maros, Amirullah Nur, menegaskan meskipun arah dukungan dikaitkan calon tertentu. Namun, semua yang ingin mencalonkan diri maju ketua di Musda Demokrat Sulsel harus mampu mengukur kemampuan dirinya.

“Apakah dia sudah berhasil? Kalau berhasil, silahkan maju. Tapi kalau tidak, jangan maju. Pada intinya semua kader berpeluang,” kata Amirullah saat dikonfirmasi.

Di antara nama-nama calon ketua yang telah muncul, Amirullah mengaku belum mau bersikap, atau sekadar memberi penilaian. Kata dia, tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi figur lain yang ingin memimpin Demokrat Sulsel.

“Bagi saya, Demokrat Sulsel membutuhkan sosok ketua yang bisa menjadi pemersatu di partai. Saya kira kalau figur itu semua pasti kita butuh yang pemersatu. Pemersatu itu yang bisa menyambungkan Ketua DPC dengan DPD, juga dengan DPP,” ungkapnya.

Sedangkan, Ketua DPC Partai Demokrat Bone, Rustam Sello juga belum menentukan arah dukungannya. “Tentu masih melihat perkembangan. Kita belum ada dukungan,” katanya.

Menanggapi Musda tersebut, Sekertaris DPD Demokrat Sulsel, Andi Irma Azizah Wahyudianti mempersilakan siapa pun yang ingin maju di musda. Pihaknya juga mengaku belum menerima aturan musda dari DPP.

“Tidak ada masalah, terbuka bagi siapa saja yang mendaftar. Belum ada juga mekanisme,” ungkapnya.

Kendati demikian, legislator DPRD Sulsel ini berharap agar Musda Demokrat berjalan tanpa ketegangan. “Semoga bisa musyawarah mufakat, janganmi ribut-ribut, karena pada intinya semua ingin membesarkan Demokrat,” sambung dia.

Sebelumnya, DPC Luwu Timur memilih mendukung Ni’matullah.”Saya tetap di Pak Ulla (Ketua DPD Demokrat Sulsel),” kata Ketua DPC Demokrat Luwu Timur, Abdul Fattah, tanpa merinci alasannya. “Pak IAS juga keluarga, tidak enak. Saya hanya ingin sampaikan dukungansaya ke Pak Ni’matullah,” katanya singkat.

Terpisah, Direktur Eksekutif Indeks Politica Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir menilai Ullah dan IAS memiliki peluang yang sama.

“Saya melihat kedua-nya (Ullah memiki peluang cukup berimbang, karena keduanya memiliki keunggulan masing-masing,” ujarnya.

Menurutnya, Ulla punya keunggulannya memiliki loyalitas kuat AHY dan selalu digaris terdepan membela AHY saat di ganggu kistru internal maupun esternal.

“Artinya Ulla merawat betul komunikasi politiknya ke DPP,” jelasnya.

Sedangkan, IAS kata Suwadi dia ini sosok petarung, jika Demokrat dipimpin IAS maka Demokrat akan mampu bersaing dengan parpol besar lainnya.

Karena IAS memiliki loyalis dam finansial cukup kuat untuk Demokrat. Artinya keunggulan IAS di Loyalis dan Finansia lebih kuat dari Ulla. “Namun idealnya kedua tokoh ini duduk bersama memikirkan yang terbaik untuk Demokrat, agar Domokrat makin kuat bukan terpecah,” terangnya. (*)