oleh

Agung Sucipto Akui Serahkan Uang ke NA

Editor : Armansyah , Penulis :Sugihartono-Berita, Hukum, Kasus Korupsi-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Terdakwa kasus suap infrastruktur di Sulsel, Agung Sucipto (AS) mengaku pernah menyerahkan uang ke Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah (NA) sebesar 150 ribu dollar singapura di rumah jabatannya.

Hal ini diungkap Agung saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa secara virtual, di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Kamis (1/7).

Agung pun mengatakan, jika dirinya pernah bertemu pada tahun 2019 lalu. Pertemuan ini setelah dirinya diberitahu oleh mantan Sekertaris PUTR Sulsel, Edy Rahmat jika NA meminta bantuan untuk dana Pilkada di Bulukumba.

“Sekitar tahun 2019 Edy menyampaikan kepada saya, jika NA meminta bantuan untuk kebutuhan Pilkada. Untuk membuktikan jika permintaan itu dari NA, maka saya minta dipertemukan secara langsung kepada pak Gub,” jelas Agung.

Lanjut Agung, saat pertemuan tersebut, ia menyerahkan uang sebesar 150 ribu Dollar Singapura kepada NA secara langsung. “Setelah menyerahkan uang itu, NA langsung menyampaikan kepada saya jika ada yang ingin dibantu atau dibicarakan silahkan melalui Edy dan ajudannya. Begitu pula ketika ada pesan dari NA akan melalui mereka,” ungkapnya.

Pada pertemuan itu, Agung Sucipto mengatakan tidak meminta proyek kepada Nurdin Abdullah. Hanya saja ia berharap dengan adanya uang itu ia bisa diperhatikan oleh Nurdin.

“Waktu itu saya sama sekali tidak mendapatkan proyek pak, jadi harapan kami seperti itu, supaya kami diperhatikan saja. Tapi itu hanya harapan, tidak saya sampaikan secara langsung,” kata Agung.

Tak hanya itu, Agung Sucipto juga mengaku jika Nurdin Abdullah pernah meminta bantuan saat hendak mencalonkan diri di Pemilihan Gubernur Sulsel. Tak tanggung-tanggung uang yang dikeluarkan mencapai Rp4 miliar.

“Pak Nurdin tanya apakah saya siap membantu, jadi saya jawab kalau saya mampu Insya Allah saya akan bantu,” ujar Agung.

“Waktu beliau nyalon sebagai gubernur, ada bantuan dana dari saya sekitar Rp4 miliar. Ini untuk bantuan baju, spanduk, baliho, dan sewa mobil. Untuk sewa mobilnya itu saya transfer uang Rp125 juta per bulan, selama satu tahun ke pemilik penyewaan mobil,” lanjutnya.

Bantuan tersebut kebanyakan diserahkan ke saudara kandung Nurdin Abdullah, bernama Karaeng Nawang. “Kalau sisanya, itu tidak melalui pemilik, tapi melalui Karaeng Nawang,” jelasnya.

Sidang lanjutan Agung sendiri kembali digelar di ruang Harifin Tumpa Pengadilan Negeri Makassar, Kamis, 1 Juli 2021. Pada kesempatan tersebut, Agung Sucipto tidak mengajukan saksi meringankan dan saksi ahli.

Penasihat Hukum Agung Sucipto, Wahyudi Kasrul mengatakan, tak ada alasan bagi kliennya untuk mengajukan saksi ahli atau saksi meringankan lagi. Semua sudah terungkap pada saksi kunci di persidangan sebelumnya.

“Tidak kami ajukan. Dari awal klien kami sudah kooperatif dari penyelidikan dan penyidikan. Kita ingin masuk ke pemeriksaan terdakwa saja,” ujar Wahyudi.

Kata Wahyudi, karena Agung kooperatif, permohonan saksi mahkota atau justice collaborator diharap bisa dikabulkan secepatnya. Kliennya juga sudah membantu penegak hukum mengungkap kasus yang menyeret nama Gubernur Sulsel non aktif, Nurdin Abdullah.

“Dari awal kami sudah komitmen untuk membantu penegak hukum mengungkap kasus ini. Makanya sudah kami ajukan JC dari beberapa pekan lalu,” tambahnya.

Ia mengatakan dari keterangan para saksi di persidangan. Sudah mengungkap fakta yang bisa meringankan kliennya. Termasuk mengikuti proses tender pada pengerjaan proyek di Pemprov Sulsel sesuai dengan prosedur.

“Keterangan para saksi sebelumnya bisa meringankan kita. Kita ikut tender, menang, dan kerjakan. Bahkan Pak Gub (Nurdin Abdullah) sendiri mengakui kualitas hasil kerja kita,” jelasnya.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum KPK Asri Irwan mengatakan mengatakan Agung Sucipto didakwa melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a UU Tipikor atau Pasal 5 ayat (1) huruf b. Kemudian dilapis atau dialternatifkan dengan pasal 13 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Jaksa juga menyebut Agung menyuap Nurdin Abdullah dua kali. Ia memberi uang ke Nurdin sejak tahun 2019 hingga 2021. Pertama, 150 ribu dolar Singapura sebagai suap pertama di Rumah Nurdin Abdullah di Makassar. Kemudian, Rp2,5 miliar pada operasi tangkap tangan bulan Februari 2021.

Uang itu, katanya, digunakan agar Agung Sucipto bisa mendapatkan pengerjaan proyek dengan mudah. Terakhir soal proyek di Kabupaten Bulukumba – Sinjai. (*)