oleh

HANI 2021, BNN Provinsi Sulsel Gaungkan Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba

Editor : Armansyah-Berita, Megapolitan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) yang diperingati setiap tanggal 26 Juni merupakan bentuk keprihatinan dunia terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika yang berdampak buruk terhadap kesehatan, perkembangan sosial ekonomi, serta kemanan dan kedamaian dunia.

Tentu banyak harapan dari masyarakat agar Kinerja BNN Sulsel menjadi “senjata” untuk melakukan pencegahan dan tindakan nyata terhadap kasus-kasus peredaran narkoba di Sulsel.

Apa program atau langkah preventif BNN Provinsi Sulsel untuk mengedukasi masyarakat umum serta pelajar agar menjauhi barang haram, baik narkoba, narkotika atau obat terlarang lainnya?.

Kepala BNN Provinsi Sulsel, Brigjen Pol Ghiri Prawijaya menyampaikan pihaknya akan terus memaksimalkan upaya pencegahan dan pendidikan terhadap peredaran narkoba di Sulsel setiap tahun.

Menurutnya, hal ini bukan hanya kaitan momentum HANI setiap tahun. Akan tetapi sudah menjadi kewajiban untuk dilakukan upaya agar meminimalisir peredaran dan konsumsi narkoba di Sulsel.

“Waspada terhadap bahaya narkoba, bukan ulang tahunnya BNN. Tapi BNN itu sendiri ada karena bahaya narkotika. Dulu kita bertahun-tahun hanya melakukan pemberantasan, dengan pencegahan waktu dulu juga sudah ada tetapi belum terfokus secara khusus pemberantasan narkoba,” kata Ghiri Kamis (24/6).

Dikatakan, setelah di era-era modern yang sekarang ini, pihaknya sebagai penindakan di BNN mencoba melakukan pencegahan dan pemberdayaan.

Lanjut dia, jikalau berbicara tentang narkoba itu bukan hanya tugas pokok dari BNN saja tapi semua instansi, sehingga pihaknya terus menerus bekerjasama bersinergi dengan instansi lainnya di Sulsel.

“Hampir 80 persen pekerjaan saya adalah mengunjungi instansi-instansi untuk menjalin komunikasi dalam artian berkunjung itu bisa secara fisik, surat, audio atau WA sekarang sudah banyak medianya,” jelasnya.

Sekarang, salah satu yang paling dilakukan bersama instansi lain adalah bahwa tentang adanya Intruksi Presiden (Inpres 02), yaitu perintah presiden untuk bersama-sama bersinergi membangun melakukan pencegahan dan pemberdayaan terhadap bahaya narkoba.

Poin utama itu dengan membuat semacam surat edaran kemudian membuat tim terpadu dan kemudian deteksi dini, tes urine dan sosialisasi itu ditargetkan sampai tahun 2024.

Tak hanya itu, tugas pokok yang diemban saat ini untuk memerangi narkoba. Pihaknya mendapat dukungan dari Pemprov Sulsel serta instansi terkait yakni pihak kepolisian.

“Dan Alhamdulillah bapak Plt Gubernur Sulsel juga menyetujui dan bahkan waktu saya ketemu dengan beliau memyampaikan bahwa mendukung nanti kedepan akan membuat suatu Perda dimana kalau orang mau menikah itu diharuskan untuk ada surat bebas narkoba,” terangnya.

Dengan demikian, dia berharap bahwa pemakai narkoba dan obat terlarang lainya itu tidak bertambah bahkan berkurang. Itu dari sisi pencegahan dan pemberdayaan. Sedangkan dari sisi rehabilitasi pihaknya terus bekerja sama dengan instansi terkait juga walikota dan bupati untuk membuat IBM (Interpensi Berbasis Masyarakat).

Karena permasalahannya adalah pihaknya menganggap bahwa semua orang yang pemakai itu adalah orang sakit dalam istilah (bukan pengedar atau bandar), tentunya pihak BNN Sulsel dalam menentukan bahwa ini orang sakit atau bukan, maka membentuk tim terpadu di dalam ada kajian hukum dan medis.

“Kajian hukum itu diawali oleh kami kemudian penyidik dari Polda dan dari kejaksaan, medis itu tentu dari dokter kami. Dan apabila putusan dari tim terpadu dinyatakan bahwa ini betul-betul hanya pemakai maka kami merekomendasikan untuk dilakukan rehabilitasi,” ungkapnya. (*)