oleh

Bebas Bertanggung Jawab Dalam Berekspresi di Dunia Digital

Editor : Lukman-Humaniora-

BAUBAU, RAKYATSULSEL.CO – Rangkaian Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 16 Juni 2021. Kolaborasi ketiga Lembaga ini, khusus pada penyelenggaraan Literasi Digital pada wilayah Sulawesi. Kegiatan kali ini dipandu oleh Penyiar TV, Desmona Chandra. Berlokasi di Babau, Sulawesi Tenggara, webinar ini menghadirkan beberapa narasumber di antaranya, Pegiat Literasi dan Peneliti Sastra, Syaifuddin Gani; Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Palu, Muhammad Iqbal; Penulis dan Pegiat Literasi, M. Ridwan Alimuddin; dan Pegiat Budaya, Imelda Adhyanty, dengan tema “Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial”. Pada episode kali ini diikuti oleh 262 peserta dari berbagai kalangan.

Kegiatan diawali dengan menampilkan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri, jadi saat jaringan internet sudah tersedia harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” jelas Joko Widodo. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan memperkenalkan narasumber oleh moderator kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Narasumber pertama yang menyampaikan materinya ialah Syaifuddin Gani dengan tema “Digital Skill: Positif, Kreatif dan Aman di Internet”. Pengelola Blog D Kabanti ini mengawali pemaparannya tentang pengertian media sosial yang merupakan media atau tempat bersosialisasi dalam jaringan yang memungkinkan manusia berinteraksi tanpa terbatas ruang dan waktu. Karena sifatnya yang maya, penggunanya mesti lebih sadar akan pentingnya kontrol diri, penerapan etika, dan menjaga privasi untuk menghindari potensi negatif dapat ditimbulkan dari aktivitas digital.

Banyak warganet yang keliru dalam beraktifitas di dunia maya, seperti hanya mengejar viral atau keuntungan, menganggap selebgram atau pemengaruh segala-galanya, mengira media sosial adalah arena gratisan, selalu terbawa arus mengikuti trending topic, dan sikap sikap lain yang kurang baik. Padahal internet bisa menjadi arena perayaan atau orkestrasi bagi orang-orang kreatif dan medan eksplorasif untuk ide. Laku kreatif dalam dunia maya bisa menjadi jembatan yang indah untuk meningkatkan keterampilan digital yang positif, sebuah kerja aman dalam dunia digital yang dapat menghasilkan apresiasi tak terduga.

Narasumber kedua yang menyampaikan materi ialah M. Iqbal dengan pembahasan “Digital Ethics: Bebas Terbatas di Sosial Media”. Iqbal memulai pemaparannya dengan menjelaskan bahwa karakteristik sosial media yang sangat aktual, informasinya yang hanya di permukaan, tak terbatas ruang, dan menjadi penghubung untuk semua informasi di dunia nyata. Rata-rata penggunanya adalah digital native (lahir dan besar di era digital), bukan digital urban (pernah dibesarkan di era media cetak lalu pindah ke era digital). Mereka hanya membaca informasi di dunia maya secara sekilas dan tidak membacanya secara utuh.

Sementara itu, Imelda selaku narasumber ketiga memaparkan materi tentang “Digital Culture: Menggunakan Bahasa yang Baik dan Benar di Dunia Digital”. Imelda menjelaskan bahwa bahasa Indonesia telah disepakati sebagai bahasa nasional sejak Sumpah Pemuda. Konstitusi dan Undang-Undang Indonesia juga memuat peraturan tentang bahasa ini. Dalam perjalan kehidupan berbangsa, bahasa pun berkembang seiring zaman. Di era digital ini, perkembangan bahasa banyak dipengaruhi oleh perkembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang melahirkan banyak kosakata baru.

Ada kalanya perkembangan ini membawa pengaruh buruk bagi masyarakat dewasa ini. Salah satu lembaga survei internasional bahkan mengungkapkan bahwa warganet Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Hilangnya penghargaan terhadap budaya lokal dan tergerusnya nilai-nilai sosial adalah hal negatif lain yang mengikuti perkembangan dunia digital kita. Menjadi kewajiban kita untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai norma kemasyarakatan dan kaidah yang berlaku untuk mengikis pengaruh-pengaruh buruk tersebut.

Sebagai penutup, narasumber terakhir M. Ridwan menyampaikan materi dengan tema “Digital Safety: Aman di Dunia Maya”. Ia menjelaskan bahwa konektivitas yang cepat menjadi gaya hidup di era digital. Media sosial muncul sebagai standar untuk terhubung dan tetap berhubungan dengan teman, keluarga, dan relasi-relasi. Interaksi dalam media sosial mendorong komunikasi dua arah dalam bersosialisasi, melamar pekerjaan, berbisnis, maupun aktivitas lainnya. Pada saat yang sama masyarakat harus berhati-hati dan melindungi privasi terhadap ancaman kejahatan siber yang mengintai.