oleh

KPK Telusuri Aliran Uang di Pilkada Bulukumba

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Babak baru kasus dugaan suap yang menyeret Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA) bakal bergulir.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana akan menulusuri aliran uang sebanyak 15.000 Dollar Singapura yang diduga mengalir di Pilkada Bulukumba.

Rencana penelusuran dilakukan setelah Nurdin Abdullah mengakui pernah menerima uang dari terdakwa Agung Sucipto sebanyak 15.000 Dollar Singapura.

Hal tersebut diakui Nurdin saat hadir secara virtual sebagai saksi di persidangan Agung Sucipto alias Anggu di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Kamis (10/6) lalu.

NA mengatakan uang tersebut diberikan Agung Sucipto untuk pemenangan Pilkada Bulukumba. NA menyebutkan, khusus pelaksanaan Pilkada Bulukumba, dirinya bersama dengan Agung Sucipto bersepakat untuk mendukung salah satu pasangan calon.

Kesepakatan jatuh kepada kandidat Tommy Satria yang saat itu menjabat sebagai wakil bupati.

Jaksa KPK, Ronald Worotikan mengatakan, aliran uang yang disebutkan Nurdin Abdullah itu tidak menutup kemungkinan untuk ditelusuri.

“Menurut pengakuan beliau (NA) uang itu untuk mensuport pasangan calon di pilkada, kita akan tampung dulu, apakah nanti itu terbukti bahwa memang uang itu diserahkan kepada paslon atau tidak, nanti kita akan liat,” kata JPU Ronald Worotikan, Minggu (13/6/2021).

Hanya saja, Ronald memastikan tidak akan menghadirkan paslon yang disebut oleh Nurdin di persidangan, alasannya tidak bersinggungan dengan materi yang didakwaan kepada Agung Sucipto, hanya saja keterangan Nurdin itu akan dikembangkan oleh penyidik di KPK.

“Untuk dihadirkan di persidangan tidak, karena itu tidak langsung dengan dakwaan ini, tapi untuk perkembangan lebih lanjut bisa jadi, karena apa, karena itu akan ditelusuri apa benar uang itu masuk kesitu (Ke Paslon Pilkada), kalau enggak berarti kemana uang itu,” tuturnya.

Direktur Lembaga Anti Korupsi Sulawesi Selatan (Laksus), Muh Ansar mendukung penuh langkah KPK untuk membongkar aliran dana yang diterima Nurdin Abdullah.

Kata Laksus, hal itu penting dilakukan agar kasus ini bisa jadi terang benderang. “KPK harus serius dan profesional menyerat siapa pun yang ikut terlibat dalam kasus ini serta dalam menjalanka fungsinya sebagai lembaga anti rasua,” sebutnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan nonaktif Nurdin Abdullah yang menjadi saksi kasus suap untuk terdakwa Agung Sucipto mengakui telah menerima uang sebanyak 150 ribu dolar Singapura pada 2019.

“Benar uang itu dibawa oleh Pak Anggu dan itu untuk kepentingan Pilkada Bulukumba,” ujar Nurdin Abdullah menjawab pertanyaan JPU KPK Ronald.

Ia mengatakan, uang sebanyak 150 ribu dollar Singapura itu diterimanya untuk pemenangan salah satu pasangan calon Bupati Bulukumba Tommy Satria-Andi Makkasau pada Pilkada 2020.

Nurdin membantah jika uang 150.000 dolar Singapura itu digunakan sebagai suap untuk mendapatkan proyek infrastruktur yang dilelang oleh Pemprov Sulsel.

“Uang itu tidak ada hubungan dengan segala jenis proyek, uang itu untuk memenangkan pasangan calon kita di Bulukumba,” katanya.

Dia menyatakan, uang 150 ribu dolar Singapura atau setara 1,5 miliar rupiah itu akan digunakan untuk membayar upah saksi dari pasangan calon juga membiayai kegiatan partai politik.

Jaksa yang mendengar kesaksian dari Nurdin Abdullah pun mencecarnya dengan pertanyaan lain termasuk motif memberikan uang tersebut, bilamana ada maksud lain dari kepentingan politik.

“Itu murni untuk kegiatan politik, tidak sangkut paut dengan proyek-proyek. Pak Anggu selain kontraktor, juga sebagai pengurus salah satu parpol di Bulukumba,” ucapnya. (*)

Komentar