oleh

Hilangnya Wilayah Tangkap Nelayan Kodingareng

Editor :mahar ansar , Penulis : Ashar Abdullah-Ekonomi & Bisnis, Feature, Kota, Megapolitan, Pemerintahan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Seorang lelaki paruh baya sibuk memperbaiki kapal dan alat tangkap ikannya di pesisir Pulau Kodingareng, Kelurahana Kodingareng, Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar.

Mulai dari merapihkan jaring yang kusut, pancing, lampu, hingga mengisi bahan bakar. Dibawah terik matahari, tubuhnya tampak berkeringat.

Ia terlihat semangat untuk kembali melaut setelah sempat vakum kurang lebih sepekan dalam rangka perayaan Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah.

Persiapan melaut kali ini harus betul-betul matang. Karena pencarian ikan semakin jauh dari biasanya. Hal ini setelah wilayah tangkap andalan mereka bernama Coppong yang berjarak 8 mil dari Pulau Kodingareng hancur karena penambangan pasir. Dengan kata lain, nelayan disana harus menempuh kurang lebih 22 mil agar bisa mendapatkan ikan.

Tak sampai disitu, sebanyak 4.526 jiwa dari 1.081 Kepala Keluarga (KK) masyarakat di Pulau Kodingareng kini merasakan dampak dari penambangan pasir yang dilakukan oleh kapal PT Royal Boskalis yakni Queen of the Netherlands di kepulauan Spermonde pada Februari-Agustus 2020 lalu.

Masyarakat disana kini harus merasakan pil pahit karena hasil tangkapan mereka kian merosot. Dampaknya pun beragam, mulai dari tunggakan pembayaran sekolah, biaya melaut, hingga investasi kian menipis.

Koordinator Nelayan Pulau Kodingareng, Iqbal Usman mengemukakan, sejak adanya penambangan pasir untuk proyek strategis Makassar New Port (MNP), laju perekonomian masyarakat mengalami penurunan. Pasalnya, kata dia, Queen of the Netherlands melakukan penambangan di Taka Copong. Ia menjelaskan, Copong adalah nama wilayah tangkap nelayan menjadi primadona. Disana, terdapat banyak jenis ikan.

 

“Saat penambangan beroperasi, bahkan hingga saat ini, populasi ikan di perairan Spermonde terutama di wilayah Copong telah menurun drastis. Ikan tak lagi dijumpai disana. Mereka harus ke wilayah tangkap lainnya, namun tetap saja hasil tangkapan nelayan tak sama dengan Copong. Padahal wilayah tersebut merupakan zona tangkap utama bagi ribuan nelayan, tidak hanya yang di Pulau Kodingareng, tetapi juga nelayan di pulau-pulau kecil lainnya”, katanya saat dikonfirmasi, Minggu (16/5/2021).

Kini, meski aktivitas penambangan pasir laut telah berhenti, namun nelayan masih kesulitan melaut. Selain itu, hasil tangkapan para nelayan juga belum kembali normal seperti sebelum adanya penambangan. Penyebabnya adalah peningkatan gelombang air laut yang semakin tinggi serta kekeruhan air laut yang masih terjadi dan terus menyebar ke wilayah lain dan mengendap di karang.

“Sekarang kondisi di Copong itu telah berubah sejak kapal pengeruk pasir beroperasi di perairan Spermonde. Daerah tangkapan ikan sekitar Copong selalu keruh seperti air cucian beras. Para nelayan pun sangat sulit mendapatkan hasiltangkapan seperti dulu,” paparnya.