oleh

Dorong Pemulihan Ekonomi Nasional, Bea Cukai Parepare Beri Bekal Pengusaha agar Produk Bisa Ekspor 

Editor :Armansyah , Penulis : Ilham-Berita, Daerah, Soppeng-

SOPPENG, RAKYATSULSEL.CO – Sekertaris Daerah (Sekda) Soppeng, Tenri Sessu menghadiri kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Kinerja Kawasan Industri Hasil Tembakau Kabupaten Soppeng, di Triple 8 Resort Soppeng, Jumat (4/6).

FGD in diselenggarakan Bea Cukai Parepare tersebut bertujuan untuk pemulihan ekonomi nasional. Sekda HA Tenri Sessu dalam sambutannya mengatakan Soppeng merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan  yang mempunyai kawasan tembakau.

“Dengan hal tersebut, tentunya  Pemda akan mendukung penuh KIHT di Soppeng. Baik dari pengusaha tembakau dan termasuk pemasarannya,” kata Tenri Sessu.

Selain itu, pihaknya juga akan upayakan fasilitas yang bisa mendukung produksi hasil tembakau Soppeng. “Artinya bukan menambah modal atau menambah aset, tapi kita mau dukung itu yang bisa mendorong produksinya,” ujarnya.

Sementara Kepala Bea Cukai Pare-pare, Nugroho Wigijarto mengatakan pandemi Covid ini benar-benar mempengaruhi ekonomi nasional karena adanya pembatasan-pembatasan di segala bidang.

Salah satu bentuk program Pemerintah untuk mengurangi dampak Covid adalah pemulihan ekonomi nasional. Namun, pemulihan ekonomi nasional ini tidak hanya dilakukan hanya sektor industri dan perdagangan saja tapi semua sektor.

“Saya kira KIHT ini merupakan program yang sangat tepat untuk pemulihan ekonomi nasional. Meskipun KIHT ini direncanakan sebelum adanya Covid, tapi saat ini waktu paling tepat kita dorong untuk pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

“Ini menjadi tugas bersama untuk mendorong hal tersebut. Kami dari Bea Cukai siap membantu dan akan memberikan pembekalan-pembekalan ke para pengusaha agar produk dari daerah bisa di ekspor,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Nugroho juga memberikan masukan-masukan kepada para pengusaha, agar usahanya bisa berjalan atau berkembang lebih baik lagi.

“Memang perlu kejelian para pengusaha dalam mengembangkan usahanya. Jadi ini komitmen bersama agar KIHT di Soppeng bisa berkembang,” ucapnya.

Menurutnya, Soppeng mempunyai nilai lebih dan berpotensi sangat besar. Karena Soppeng berada di wilayah pemasaran.

“Buktinya penerimaan cukai hasil tembakau tahun 2020 itu sebesar Rp21 Miliar. Tahun 2019 sebesar Rp17 Miliar. Sedangkan untuk tahun ini belum selesai. Namun kami ditargetkan dari kantor Pusat untuk wilayah cukai Pare-pare sebesar Rp17 Miliar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Nugroho mengungkapkan bahwa KIHT Soppeng adalah paling pertama di Indonesia. Dan saat ini hanya baru ada dua yaitu Soppeng dan Kudus, Jawa Tengah.

“Saya harap para pengusaha tembakau di Soppeng bisa berkembang lebih baik lagi,” harapnya.

Sekedar diketahui, dalam kegiatan FGD ini turut dihadiri, Dirut Perusda Soppeng Muhammad Jufri, Kadis Koperindag dan UKM Soppeng A Makkarakka, Asisten II Soppeng Firman dan para pelaku usaha tembakau. (*)