oleh

OPINI: Upaya Pemerintah dalam Penanganan Covid-19 Selama Ramadan dan Idul Fitri

Editor :Armansyah-Opini-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Kasus Meningkat. Diakhir jabatannnya Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 sekaligus Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan kekuatirannya dan menyebut akan adanya peningkatan kasus positif Covid-19 seusai lebaran.

Berkaca pada libur Lebaran tahun lalu kasus aktif Covid-19 mencapai 119 persen dibandingkan hari normal. Pada pertengahan Juni mendatang, kasus positif diperkirakan kembali meningkat. Dalam dua hari terakhir saja, kasus positif Covid-19 di Indonesia meningkat.

Dari yang semula sekitar 4.000 kasus positif per hari menjadi 5.000-6.000 kasus positif per hari. Kasus positif melebihi rata-rata kesembuhan yang masih 4.000 orang per hari. Angka kematian akibat Covid-19 dalam periode yang sama meningkat dari 2,71 persen menjadi 2,78 persen (Kompas, 23/05/2021).

Tren grafik kasus Covid-19 selalu berfluktuasi, tergantung situasi dan kondisi daerah yang bisa menyebabkan warna zona berubah. Pada Ramadan akhir April 2021 zona merah meningkat pesat, namun menurun lagi awal Mei.

Inilah yang dikuatirkan jika prediksi mantan kepala BNPB tersebut benar, maka bangsal-bangsal di RS akan terisi banyak lagi pasien Covid-19. Syukurnya kita di Sulawesi Selatan tidak terjadi peningkatan kasus usai lebaran.

Namun kita harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan karena penularan virus corona penyebab Covid-19 masih terjadi di sekitar kita. Dalam menjaga komitmen untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, pemerintah dengan segala macam cara berusaha menekan penularan tersebut.

Peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 2020 tentang penepatan kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19 sampai saat ini masih dilaksanakan. Bahkan Pemerintah membuat penanganan semakin ketat selama bulan suci Ramadhan.

Seperti diketahui bulan ramadan disinyalir adalah waktu dimana terdapat banyaknya situasi keramaian terutama pada malam hari di mesjid. Itulah sebabnya ramadan tahun ini pengawasan diperketat.

Pemerintah berupaya untuk membatasi mobilitas jangan sampai terjadi ledakan dan peningkatan kasus seperti yang terjadi di India. Tentu kita tidak ingin terjadi gelombang kedua melanda Indonesia karena abai dan protokol Kesehatan tidak dilaksanakan dengan baik.

Antisipasi selama ramadan dan Idul Fitri, beberapa ruang lingkup penanganan yang telah diatur seperti protokol kesehatan umum, dengan mematuhi instruksi penerapan 5M. Seperti, mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan serta mengurangi mobilitas.

Kemudian, interaksi dengan tetap mematuhi tuntunan syaria’t islam dengan penuh ikhlas, iman dan khusyuk selama bulan suci ramadan. Selama bulan ramadan pengendalian kegiatan ibadah sampai masuk Idul Fitri sudah dilakukan semaksimal mungkin dengan melibatkan.

Selain Satgas Covid, juga dibantu petugas dari Polri dan TNI untuk menjaga keamanan terutama saat shalat tarawih. Setiap mesjid diawasi dengan baik agar jamaah yang menjalankan ibadah di masjid mematuhi protokol kesehatan, seperti wajib menggunakan masker, mencuci tangan sebelum masuk dan menjaga jarak saf.

Walaupun demikian masih banyak masjid yang tidak disiapkan petugas, bahkan pengurus masjid sendiri tidak menerapkan prokes. Sayangnya peraturan yang telah di buat oleh pemerintah belum optimal realisasinya. Sebagian masyarakat kita banyak yang abai, bahkan lebih mempercayai berita hoaks tentang Covid-19 dan menganggap enteng.

Sebagian lagi euphoria karena memahami jika vaksin sudah ada, maka seolah Covid-19 juga akan hilang. Selain itu juga kurangnya pengawasan pada aturan yang dibuat sehingga masyarakat masih menyepelekan kejadian COVID-19.

Selain itu himbauan pemerintah untuk tidak mudik Lebaran masih banyak yang dilanggar. Hal ini terkait karena kurangnya penegasan dan tidak disiplinnya masyarakat yang nekad pulang kampung.

Beberapa daerah di Indonesia sangat ketat pemeriksaan dan pembatasan yang menyebabkan berkurangnya pemudik yang mau pulang kampung lebaran. Seperti yang dilaporkan Menko PMK Muhadjir Effendy yang mengklaim jumlah pemudik tahun ini berkurang secara signifikan dibanding tahun lalu.

Hal ini menandakan bahwa aturan larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah berjalan cukup efektif. Dengan demikian harapan pemerintah penularan Covid-19 pada bulan suci Ramadan lalu dan lebaran Idul Fitri dapat terkendali dengan baik.

Walaupun disadari akan ada peningkatan kasus Covid dan diharapkan trackingnya tidak ada peningkatan signifikan akibat mobilitas mudik.
Menjaga Makassar. Menjaga stabilitas kasus Civid-19 stagnan di Sulawesi Selata, terutama kota Makassar terus dijaga.

Jangan sampai fenomena ping pong, dimana terjadi pergerakan tik-tok, bolak-balik antara kota dan desa dalam mengoper virus corona dapat terjadi. Ibaratnya jika di Makassar sudah bagus lalu sebagian masyarakat dari daerah masuk kota.

Tradisi bertambahnya penduduk kota usai lebaran tidak bisa dielakkan karena arus urbanisasi. Apalagi jika kondisi Covid-19 di kota dapat ditekan, kurvanya melandai, banyak orang dari daerah kembali memasuki kota untuk mencari dan memperbaiki hidup.

Dengan optimalisasi pelaksanaan fungsi posko COVID-19 yang dilakukan pemerintah selama bulan suci Ramadan sampai masuk Idul fitri 1442 H oleh seluruh Satuan tugas posko cukup optimal.

Masyarakat dapat merasakannya, walaupun sebagian dari mereka kecewa karena adanya larangan mudik, dimana Covid-19 dapat dikendalikan dan tidak terjadi peningkatan kasus.

Semua ini tentu karena adanya upaya pemerintah dalam mengendalikan dan mengantisipasi sehingga hal-hal yang tidak diinginkan, terutama akan naiknya kasus Covid dapat dicegah. Namun semua itu tidak berarti apa yang dilakukan pemerintah, jika masyarakat tidak patuh pada prokes dan menyadari bahwa ovid-19 adalah musuh kita bersama. (*)