oleh

Staf Halal dan Jasa Teknik Balai Besar Industri Hasil Perkebunan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Sejalan dengan amanat UU No 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal bahwa seluruh produk yang diperdagangkan ataupun yang disebarluaskan di Indonesia wajib bersertifikat halal. Pengembangan riset di berbagai sektor seyogyanya diselaraskan dengan kebutuhan halal, khususnya dalam penyediaan subtitusi/bahan pengganti untuk bahan-bahan non halal. Hal tersebut menjadi upaya untuk membantu para pelaku usaha dalam memenuhi standar kehalalan bahan dari produknya.

Salah satu sektor yang perlu diperhatikan adalah ekspor dan impor bahan baku industri di tanah air. Tantangan terbesar dihadapi dalam kegiatan impor misalnya, dimana ada keterbatasan dalam memenuhi bahan baku industri khususnya bahan baku industri halal. Olehnya perlu mengembangkan riset dengan memanfaatkan bahan baku halal lokal sebagai subtitusi bahan baku halal impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku di berbagi industri. Riset di Industri halal menjadi bagian penting saat ini, mengingat trend halal menjadi perbincangan hangat di dunia bisnis internasional.

Berdasarkan data dari ““The Global Islamic Economy Report tahun 2019-2020” menyatakan bahwa sektor makanan halal mengalami evolusi yang besar saat ini dimana pengeluaran konsumen muslim untuk makanan dan minuman senilai 1,4 triliun USD pada tahun 2018 dan diperkirakan akan mencapai 2,0 triliun USD pada tahun 2024. Diprediksi ada 1,8 miliar penduduk muslim di dunia yang membutuhkan sertifikat halal ketika ingin membeli dan mengkomsumsi suatu produk. Jika saja Indonesia mampu mengambil bagian dan berkontribusi pada hal tersebut tentunya akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional.

Riset bahan baku halal menjadi penting mengingat pemalsuan bahan halal dengan bahan haram sangat mungkin dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab karena tuntutan ekonomi. Dalam sektor pangan misalnya, perlu dianalisa lebih lanjut untuk mendeteksi bahan baku ataupun campuran bahan yang dikategorikan sebagai bahan yang haram. Bahan haram seperti babi dan turunannya menghadirkan isu global karena banyak digunakan sebagai bahan tambahan pada industri makanan, obat-obatan dan kosmetika. Pada dunia pangan, turunan babi yang mungkin paling banyak digunakan adalah gelatin dan asam lemak.

Di industri farmasi dan kosmetik, turunan babi yang paling banyak digunakan adalah gelatin dan kolagen. Gelatin digunakan untuk bahan pada pembuatan kapsul keras dan kapsul lunak,enkapsulasi vitamin, bahan penyalut, substitusi serum dan lain-lain. Pada kosmetik, turunan babi digunakan pada bentuk sediaan cream dan lotion (diolah dari berbagai sumber).
Kegiatan riset pada dasarnya berperan mensinergikan pertimbangan ilmiah dengan kebijakan pemerintah. Peran pemerintah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan nilai-nilai agama, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa adalah sebuah tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan sebaik-baik dan seadil-adilnya.

Sehingga kegiatan riset, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun
non-pemerintah, memiliki peran penting dalam memajukan sebuah bangsa. Negara-negara maju di dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia akan lebih unggul secara ekonomi, peradaban, dan ilmu pengetahuan karena lembaga risetnya kuat dan perumusan kebijakan pemerintahnya berbasis bukti ilmiah.

Melalui kegiatan riset halal yang berkeadilan dan tepat sasaran maka akan mempercepat amanat UU No 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal. Paling tidak kita masih memiliki waktu kurang lebih 3 (tiga) tahun dari sekarang sebelum batas waktu pelaksanaan jaminan produk halal pada tanggal 17 oktober 2024.

Tentunya ini tidak mudah, dibutuhkan keseriusan dan tekad yang kuat dari berbagai pihak agar peraturan pemerintah ini tidak sekedar menjadi draft yang akan kehilangan arah. Peran serta dari kita semua sebagai masyarakat dalam hal memberikan informasi, kritik dan saran sangat diperlukan untuk melancarkan ikhtiar kebaikan melalu riset halal yang berkelanjutan di negeri ini. Salamakki’