oleh

Pupuk Bersubsidi Bermasalah, Dewan Duga Ada Manipulasi Data Penerima

Editor :Armansyah , Penulis : Salahuddin-Berita, Bulukumba, Daerah-

BULUKUMBA, RAKYAT SULSEL.CO – Penyaluran pupuk bersubsidi di Bulukumba bermasalah. Data penerima pupuk bersubsidi tidak sesuai dengan kouta yang ada.

Ada selisih kuota. Jumlahnya pun tidak sedikit. Angkanya mencapai 280 ton. Petani pun dirugikan akibat adanya selisih kuota pupuk bersubsidi.

Komisi B DPRD Bulukumba yang menangani pupuk bersubsidi ini, tidak tinggal diam. Rapat dengar pendapat (RDP) digelar. Dewan memanggil pejabat berwenang.

Mereka masing-masing, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Perdagangan dan Perindistrian, Inspektorat serta Distributor dan Pengecer.

Ketua Komisi B DPRD Bulukumba, Fahidin menyebut tidak ada kelangkan pupuk. Justru, legislator fraksi PKB ini ada manipulasi data penerima pada sistem Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK). Akibatnya, ada selisih dalam penyaluran pupuk bersubsidi.

Mekanisme penyaluran pupuk bersubsidi sendiri diatur dalam petunjuk teknis (juknis) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian bahwa penerima pupuk bersubsidi harus terdaftar pada sistem RDKK.

Ada perbedaan data penerima pupuk bersubsidi yang dimiliki oleh Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura dengan produsen/distrubutor pupuk, sehingga ada selisih 280 ton. Selain itu, ada juga beberapa anggota kelompok tani yang datanya tidak terinput pada sitem RDKK.

Terpisah, Salah seorang pengecer, Yuriadi, menilai Dinas Pertanian melakukan kesalahan dalam penginputan data pada sistem RDKK). Hal itu terjadi karena waktu penginputan sangat sempit.

Kepala Seksi Pupuk dan Pestisida Dinas Pertanian, Mappaenre, mengakui pelaporan penyaluran pupuk bersubsidi melalui e-Verval dilakukan dibulan Januari dan Februari 2021.

Ada beberapa penyaluran yang tidak terinput keserver karena beberapa hal. Seperti, adanya penyaluran pengecer yang tidak lengkap berkas, perbedaan data pengecer dengan distributor, penyaluranpupuk yang tidak sesuai dengan e-RDKK.

“Kemudian, beberapa kios pengecer yang terlambat menyerahkan laporan ke admin e-Verval, serta ada kios pengecer menyalurkan pupuk melebihi dari kuota e-RDKK,” jelasnya. (*)