oleh

PPP Sulsel Berpeluang Dipimpin Pemuda 25 Tahun

Editor :Armansyah-Berita, HL, Partai, Politik-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Imam Fauzan Amir Uskara menjadi satu-satunya calon Ketua DPW PPP Sulsel yang masuk tujuh anggota formatur. Satu calon lainnya sudah tersingkir, yakni petahana Muhammad Aras. Dia tidak masuk formatur.

Jika diberikan amanah, Imam Fauzan akan mencetak sejarah sebagai ketua partai termuda di Sulsel. Anggota DPRD Sulsel itu baru berusia 25 tahun.

Target tinggi pun dipatok pria kelahiran 28 Oktober 1996 ini. Salah satunya meningkatkan jumlah kursi di DPRD Sulsel maupun DPRD kabupaten/kota di Sulsel. Pada periode 2019-2024, PPP hanya mengoleksi enam kursi di DPRD Sulsel.

“Pada Pileg nanti kita target raihan kursi di DPRD Sulsel bisa mencapai 9 kursi,” kata Imam Fauzan.

Imam juga berjanji akan merangkul seluruh kader-kader partai berlambang Kakbah ini. “Jadi saya akan rangkul semua baik itu yang memiliki pandangan yang sama maupun yang tidak,” jelasnya.

Menurutnya, kalangan anak muda atau milenial bisa berkontribusi membesarkan partai, apalagi zaman sekarang sudah memasuki era 4.0.

“Jadi kita juga akan merangkul anak-anak milenial yang memiliki potensi besar,” bebernya.

“Jangan anggap remeh anak muda, nanti kita lihat hasilnya. Biarkan saya bekerja dan teman-teman pengurus buktikan,” sambungnya.

Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, jika kelak Imam Fauzan terpilih sebagai ketua PPP Sulsel, menunjukkan kuatnya patronase Amir Uskara di PPP.

“PPP Sulsel masih Amir Uskara. Modal politik ini akan berguna bukan hanya di kontestasi Muswil, tapi juga pada event-event politik selanjutnya. Masih sulit untuk melihat IF (Imam Fauzan) sebagai tokoh politik muda yang mandiri,” katanya.

“Meskipun demikian, dukungan mayoritas DPC juga menunjukkan kemampuan konsolidasi politik arus bawah sekaligus penguasaan dukungan elit yang baik, atas dinamika internal di PPP,” lanjutnya.

Kepemimpinan Imam Fauzan setidaknya diperhadapkan pada tantangan, pertama, rekonsiliasi internal, meskipun kekuatan Aras terbukti tidak cukup memberi perlawanan ketat, tetapi tanpa memberi ruang bagi gerbong politiknya di komposisi kepengurusan selanjutnya, juga tidak akan membuat PPP menjadi semakin besar.

“Terutama dari representasi organisasi sayap pendiri PPP,” ucapnya.

Kedua, Imam Fauzan hanya perlu membuktikan dirinya bukanlah bayang-bayang Amir Uskara.

“Dia (Imam) perlu memperlihatkan determinasi sebagai pemimpin muda yang memang layak memimpin partai “rumah besar umat Islam”. Perannya pada dinamika politik Sulsel semakin memperlihatkan diferensiasi dan performa kepemimpinan yang menjanjikan,” jelasnya.

Sekadar diketahui, gelaran Muswil PPP Sulsel sudah berakhir. Tujuh orang sudah ditetapkan sebagai formatur yang bertugas menyusun kepengurusan, termasuk memilih Ketua DPW PPP Sulsel.

Tujuh formatur tersebut terdiri dari satu perwakilan dari DPP, satu perwakilan dari DPW dan lima perwakilan dari DPC. Untuk perwakilan DPP, PPP mengutus Wakil Ketua DPP sekaligus Wakil Ketua MPR RI, Arsul Sani. Arsul sendiri yang akan menjadi ketua formatur penyusun kepengurusan DPP PPP.

Sementara itu, Imam Fauzan Amir Uskara menjadi perwakilan dari DPW PPP Sulsel. Lima perwakilan dari DPC adalah Syahrir Langko (Sidrap), Andi Sugiarti (Bantaeng), Askar HL (Bulukumba), Rusli Sunali (Luwu), Nursyam Amin B (Gowa).

Berdasarkan hasil rapat internal pakrt formatur, disepakati rentang waktu penyusunan struktur definitif selama 20 hari, terhitung sejak tanggal ditetapkannya mereka sebagai formatur.

”Tadi kami rapat kilat, dan kami sepakat penyusunan struktur bakal dilakukan selama 20 hari sejak ditetapkan sebagai formatur,” ucap Arsul Sani.

Formatur ini sendiri bakal berunding dan bermufakat untuk memilih siapa yang berhak menduduki struktur jabatan di DPW PPP Sulsel. Hasil musyawarah itulah yang bakal diajukan ke DPP. Pihak DPP kemudian menyepakati dan menetapkan struktur kepengurusan yang telah diusulkan oleh tim formatur.

Asrul Sani menyampaikan apresiasi atas capaian suara partai Kakbah dalam lima tahun kepengurusan wilayah Sulsel. Menurutnya Sulsel adalah barometer PPP secara nasional.

Asrul mengatakan meski jumlah kursi PPP Sulsel turun, namun raihan suara dinilai bagus. Di Pemilu 2014, PPP meraih 3 kursi DPR RI di Sulsel. Jumlah itu turun menjadi 2 kursi di Pemilu 2019.

“Secara suara kita bagus di Sulsel, jadi Sulawesi Selatan ini termasuk barometer PPP secara Nasional,” katanya.

Ia berharap Ketua DPW PPP Sulsel yang terpilih dalam Muswil kali harus mengembalikan raihan tiba kursi DPR RI pada Pemilu 2024 mendatang. Kedua, Arsul Sani juga berharap PPP mampu menaikkan jumlah kursi di DPRD Sulsel.

“Yang pertama tentu ya kursinya harus kembali 3, yang kedua di DPRD Provinsi harus meningkatkan,” jelasnya.

Arsul Sani mengatakan kepengurusan Muh Aras sudah resmi dinyatakan demisioner seusai membacakan laporan pertanggungjawaban. “Sudah demisioner, begitu LPj diterima atau ditolak, maka dengan sendirinya pengurus itu sudah demisioner. Itu hukum organisasi,” katanya.

Sementara itu, Muh Aras mengatakan Muswil PPP Sulsel adalah persembahan maksimal dari pengurus DPW PPP Sulsel Periode 2016-2021.

“Ini persembahan terakhir dari pengurus DPW PPP Sulsel Periode 2016-2021. Jadi hasilnya harus maksimal,” kata Aras.

Anggota DPR RI Komisi V itu juga berharap pengurus baru harus lebih baik dari kepengurusan sebelumnya. (*)

Komentar