oleh

Sulsel Mundur Jadi Tuan Rumah PON 2022

Editor :Armansyah-Berita, Megapolitan, Pemerintahan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Pemerintah Provinisi Sulawesi Selatan melakukan kegiatan rencana kerja (renja) tahun 2022. Seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memaparkan program-program yang akan dijalankan tahun depan.

Di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) misalnya, urusan perbaikan jalan dan pembangunan jalanan baru masih menjadi prioritas. Meski begitu, proyek yang menemui kendala seperti ruas jalan Bua-Rantepao Toraja/Luwu tetap harus diselesaikan.

Di Dinas Perhubungan, Muhammad Arafah memaparkan terkait rencana pembangunan, perbaikan dan pengembangan bandara di beberapa daerah. Misalnya di Bulukumba, Bone, Selayar, dan bandara Sorowako hibah dari PT Vale.

OPD lainnya, Dinas Pemuda dan Olahraga, Andi Arwin Asiz menjelaskan butuh anggaran Rp800 miliar lebih ditahun 2022 untuk melaksanakan empat program yang tediri dari 16 kegiatan dan puluhan sub kegiatan.

Yang paling krusial adalah sarana olahraga, minimnya sarana olaraga membuat Sulsel harus mengundurkan diri sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun depan.

“Kita menyerah jadi tuan rumah karena tidak sanggup membiayai, tidak punya sarana olahraga yang representatif. Coontohnya sepak bola, kita belum ada stadion, begitu juga lapangan bulutangkis, basket, hampir semua cabor kita tidak punya (lapangan),” bebernya.

Sementara itu, Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman mengatakan, program prioritas yang disasar tahun depan Ialah jalan infrastruktur Provinisi. Bangunan masjid 99 kubah, hingga pembangunan stadion Mattoanging.

“Jalan infrastruktur Provinisi kita mau pertajam, bagaimana jalan rusak berat, ringan, sedang, untuk aksesibilitas antar kabupaten dengan lainnya itu penting,” tutur Sudirman.

Begitu juga soal irigasi, harus dilakukan pembenahan guna menaikkan indeks sistem irigasi Sulsel.

“Ada juga masalah program wisata, kita mau lihat wilayah wisata strategis di Makassar dan lainnya yang mana mau kita kembangkan, dan berpotensi. Sisa dipercantik, kita mau yang efektif sehingga manfaatnya lebih cepat,” sebutnya.

Kegiatan renja ini kaya dia merupakan bagian dari sinkronisasi program, meski masih draft setidaknya ada link and match antara program OPD satu dengan yang lainnya agar tidak saling tumpang tindih.

“Saling mendukung kalau misalnya ada pembebasan lahan di suatu tempat, bangunananya dimana, jangan sampai dibangun baru lahannya tidak ada,” jelasnya.

Dengan begitu, tidak ada lagi pekerjaan yang dilakukan tanpa terencana dengan baik. “Kita mau tau sebenarnya program yang efisiens dan efektif, apalagi kita kondisinya pandemi, kita harus melihat setiap rupiah yang kita keluarkan terencana dengan baik,” tegasnya. (*)