oleh

OPINI : AG. KH. Sanusi Baco dan Pesantren IMMIM

Editor :admin 1-Berita, Best People, pendidikan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Meninggalnya ulama karismatik Sulsel beberapa hari lalu, adalah kehilangan kita semua. Cahaya ilmu di bumi kian meredup dengan berpulangnya ulama. Beliau sosok yang sejuk dan bersahaja. Direktur Kedua Pesantren IMMIM, guru dan ayahanda para santri dan juga santriwati.

Malam ini, ingatan kami terbang jauh ke beberapa tahun silam. Saat mondok di Pesantren IMMIM Putra Makassar dulu, ada dua pesan yang saya ingat betul. Pertama, pesan yang tertulis di sarung bantal hijau pembagian saat pertama masuk, “Sabar dan Tabahlah Agar Kamu Sukses”. Kedua, motto yang terpampang di dinding aula, “Bersatu dalam aqidah, toleransi dalam masalah furu’ dan khilafiyah”.

Pesan pertama kami jaga betul saat di pondok. Alhamdulillah 6 tahun dapat dilalui dengan baik. Cerita² tetang kehebohan di asrama, celana mandi di sumur, dan ikan mairo goreng setiap pagi adalah bagian dari kisah kesabaran dan ketabahan itu.

Pesan kedua, akan terus dipegang para alumni setelah tamat dan berbaur dengan ummat luas. Makanya, karakter asli alumni IMMIM itu adalah tegas soal aqidah dan bersikap toleran untuk menerima perbedaan pendapat dalam persoalan furu’ (cabang) dan khilafiyah syariat. Tidak suka ribut hanya karena masalah qunut subuh, tapi lantang soal iman. Menjadi penyejuk di tengah ummat, bukan justru menyulut api dengan memperuncing persoalan² furuiyah.

Kyai kita telah berpulang, namun ia telah meninggalkan ilmu dan keteladanan. Jadilah seperti beliau. Para santri yang teduh, tapi KOKOH di atas IMAN dan ISLAM. Rahimahullahu rahmatan wasiah, wa askanahu fasiha jannatih. Amin…Penulis.M.Yamin Saleh ,Alumni pesantren IMMIM Putra priode 1998-2004.