oleh

OPINI: Ars Longa Vita Brevis, Refleksi almarhum Anregurutta Sanusi Baco Lc

Editor :Armansyah-Berita, Best People, Opini-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Hidup ini memang terkadang tidak bisa memilih. Kita tidak bisa menghindar dari kehilangan orang yang sangat dicintai. Sudah menjadi sunnatullah bahwa sesuatu yang berawal pasti akan kembali menjadi tiada.

‎كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ   وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (55):26-27)

Panta Rei demikian filosofi Heraclitus dunia ini ibarat gelombang yang fluktuatif dan pasang surut. Hari ini bahagia, besok bersedih. Inilah hukum aksioma kehidupan.

Bagi seorang mukmin sudah diberikan efektor agar tercipta homeostatis dalam hidup.

‎اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ

Jangan manusia mengira bahwa mereka mengatakan, “Kami telah beriman,” padahal mereka belum diuji.

Berarti ujian Allah berupa *alkhaeri* wa *assyarri* untuk menakar kadar keimanan seorg mukmin. Sejatinya seorang mukmin memiliki sifat ridha bilqadha, menerima dengan senang hati segala bentuk pemberian Allah. Hal ini juga disabdakan Rasulullah SAW

‎عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ. “

Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Manakala ditimpa suatu musibah ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Kemudian, Parameter Religiusitas seorang mukmin ketika mampu memadukan dalam qalbunya rasa syukur dan Sabar. Ibarat dua sisi mata coin yang tidak dapat dipisahkan dalam menciptakan kebahagian lahir dan bathin.

Kesabaran berasosiasi dengan ketegaran. Buah kegegaran itu melahirkan hikma kehidupan bahwa apa pun yang terjadi diatas persada ini menjadi prerogatif Puang Allah Swt. Demikian Prof Dr Farid Wajedi.

Ada 3 hal yang tidak dapat dipungkiri sebagai hukum sunnatullah. Semakin lama seseorang hidup, pasti semakin tua. Seseorang yang menjadi tua akan menjadi lemah. Ketika fisik sudah renta pasti bertemu kematian, demikian tambahan Anregurutta.

Syukur melahirkan positivisme hidup. Sehingga seorang muslim yang selalu bersyukur tampak aura wajahnya berseri dan ceria setiap saat. Dalam dirinya mengalir prinsip: saya tidak selalu dapat apa yang saya suka, karena itu saya suka apa yang saya dapat.

Dua Sayap kehidupan sabar dan syukur ini membuat seorang mukmin melanglang buana mengelilingi petala bumi penuh ceria.

Suatu saat bila tiba masanya sang hamba menghadap ilahi, baginya kematian merupakan hadiah. Tutup Prof Dr Syamsul Bahri Galigo

الموت تحفط الموءمن

Kematian bagi seorang mukmin adalah Anugerah.

Allah Swt mengundang kita selaku tamu berkunjung diatas persada bumi ini. Sebagai tradisi pemberian kemuliaan dan ihtiram tuan rumah ketika tamunya yang hendak pergi dianugerahkan buah tangan atau tuhfaton berupa kaffarah atas segala dosa-dosanya.

Anregurutta almarhum Dr Sanusi Baco LC adalah sosok pendidik sejati dan pendakwah yang sangat tulus. Beliau adalah aktor peradaban umat yang melakonkan kehidupan sesuai perspektif alquran. Lebih tepat untuk kita sebut *ars longa vita brevis* karya dan citra hidupnya sangat panjang dibanding usianya.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Namamu selalu terpatri dalam sanubari kami, selamat jalan guruku. (*)