oleh

OPINI: In Memoriam AGH. DR. (HC) Sanusi Baco, LC

Editor :Armansyah-Berita, Best People, Opini-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Masih segar dalam ingatan, beberapa waktu lalu di Aula Rektorat, ketika UIN Alauddin memprakarsai MoU dengan beberapa ormas Islam, seperti MUI Sulawesi Selatan, DPP IMMIM, PW Nahdatul Ulama, PW Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah.

Saat inilah saya bertemu Gurutta, kebetuln tempat duduk saya berdampingan dengan Gurutta, sehingga saya bisa berbincang banyak dengan beliau. Saya tidak tahu bahwa pertemuan itu akan menjadi pertemuan terakhir dengan beliau.

Apalagi, Gurutta memancing perbincangan dengan mengingatkan memori masa lalu “Mana dulu itu anakmu di Taman Kanak-kanak Alauddin yang selalu menarik Ibunya minta cepat-cepat pulang?” Sambil Guruttta menambahkan, “Dia tidak tahu bahwa kami sementara menunggu antrian penerimaan gaji di kampus I IAIN Alauddin, anak itu tidak mau tahu bahwa gaji itu menentukan hidup selama sebulan.

“Saya jawab pada Gurutta, “Anak itu sudah besar kerja di Bank Sulselbar Majene dan sudah kawin di sana serta punya tiga anak.”

Sekembali pada pertemuan itu, saya ceritakan pada Ibunya. Sambil saya ingatkan bahwa Gurutta sangat menaruh perhatian pada peristiwa tersebut walau sudah berlangsung lebih 30 tahun lewat.

Sebenarnya, saya mengenal Gurutta sejak awal pertama hijrah dari kampung ke Makassar untuk melanjutkan studi pada tahun 1973. Pada semester III di Fakultas Adab, beliau langsung mengajar saya tentang mata kuliah Usul Fikhi.

Namun yang paling menarik perhatian saya pada Gurutta adalah sikap lapang dada dan toleransi kepada orang yang tidak sepahan dan semazhab dengan beliau. Benar apa kata kaidah sosial, “Semakin luas wawasan seseorang akan semakin toletansi pada perbedaan.”

Bahkan beliau mengingzinkan almarhum Ishak Ngelyaratan (non-muslim) memberi ceramah di ruangan bawah Masjid Raya Makassar.

Di sebuah peristiwa almarhum K.H. Dr. Jalaludsin Rakhmat, M.Sc. datang di Masjid Raya Makassar dengan membawa seorang Ayatollah dari Iran. “Gurutta dengan sikapnya yang lapang dada dan toleransi memberi kesempatan pada Ayatollah berceramah di depan jamaah dalam bahasa Persia yang diterjemahkan K.H. Dr Jalaluddin Rakhmat ke dalam bahasa Indonesia,” demikian cerita almarhum Jalaluddin Rakhmat pada saya di suatu saat.

Sikap toleransi beliau, membuatnya tetap jadi Pembina Pengurus DPP IMMIM sampai sekarang. Pertanyaannya, kenapa beliau berbeda dengan kebanyakan ulama? Menurut asumsi saya, Gurutra adalah alumni al-Azhar, Mesir yang terbiasa mempelajari muqarana al mazahib fi al-Islam sejak beliau masih mahasiswa al-Azhar.

AKHIRNYA!, SELAMAT JALAN PADA GURUKU YANG TERCINTA MENEMUI KEKASIHNYA YANG MAHA ABADI. SEMOGA KELUARGA YANG DITINGGALKAN DIBERI KETABAHAN MENGHADAPI MUSIBAH INI. AMIN! (*)