oleh

Hari ke-22, Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Raih Taqwa dan Gapai Fitrah

Editor :Armansyah-Berita, Kampus-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Pesantren Ramadan virtual Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memasuki hari ke-22. Materi kali ini membahas Meraih Taqwa dan Menggapai Fitrah” dengan narasumber Dr. Muli Umiati Noer, M.Hum, Selasa (4/5).

Selain Direktur Akademi Bahasa Asing UMI itu, juga dihadiri Wakil Dekan Fakultas Kedokteran UMI Dr. dr. Nasruddin Andi Mappawere, Sp.OG, Wakil Dekan I FAI UMI, Para Kajian UPT PKD UMI, para Wakil Dekan IV UMI, KTU UPT PKD UMI serta sejumlah dosen dan mahasiswa UMI, dipandu Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr. Nurjannah Abna.

Dr. Muli Umiati Noer menjelaskan di bulan Ramadan dalam menjalankan puasa dan berbagai ibadah lainnya, tujuannya adalah meraih derajat taqwa. Selain itu, orang yang paling mulia disisi Tuhan, adalah yang paling taqwa.

“Dengan meraih derajat taqwa menjadikan umat Islam mendapatkan fitrah, yakni suci bersih, bagaikan lahir dari perut ibu,” jelas Muli.

Host Dr. M.Ishaq Shamad mempertanyakan bagaimana ciri-ciri atau indikator seseorang dikatakan bertaqwa? Sebab jika hanya mengatakan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, kelihatannya hal ini sangat umum.

“Dibutuhkan ciri orang bertaqwa yang lebih spesifik, sehingga Ketika kita melihat orang tersebut, kita bisa berkata ooh, ia orang yang bertaqwa,” tukasnya.

Kabid Konseling UPT PKD UMI menjelaskan salah satu ciri orang yang bertaqwa, adalah mereka yang mampu menahan lisannya untuk tidak berbohong, menahan semua panca indranya agar tidak melakukan perbuatan dosa, sebutnya.

Sementara itu Kabid Kajian UPT.PKD UMI Bambang Sampurno, menambahkan bahwa ciri orang bertaqwa sesuai yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an, adalah orang yang lebih humanis dalam hidupnya, ia ringan tangan membantu sesama, suka memaafkan, dan ia memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada kemanusiaan.

Sementara itu Dr.dr.Nasruddin menjelaskan ciri orang bertaqwa, adalah orang yang senantiasa takut berbuat jahat, dimanapun ia berada, apakah ia bersama orang lain atau Ketika ia sendirian, apakah ia di kantor atau di rumah, atau dimana saja ia selalu merasa Bersama Allah Swt.

Ia menceritakan bagaimana pengalamannya ketika ia menolong ibu melahirkan anaknya. Ia tidak memandang, apakah ibu ini sebelumnya pernah bezina atau berbuat baik, tetapi anak yang akan ditolong, adalah anak yang fitrah dan bersih dari segala dosa, dan saat menolongnya ia berusaha menghadirkan Allah Swt, sehingga alhamdulillah, Allah menolong anak-anak tersebut lahir ke dunia.

“Intinya, salah satu ciri orang bertaqwa, adalah dengan selalu menghadirkan Allah Swt dimana saja, disertai dengan niat dan menjalankan tugas secara professional sesuai dengan kompetensi yang dimiliki,” jelasnya.

Namun demikian, dipertanyakan bagaimana dengan dosa-dosa yang pernah diperbuat, apakah betul-betul ketika diampuni oleh Allah, dosa-dosa tersebut hilang? Bagaimana dengan “CCTV” Allah Swt melalui Malaikat Atid dan Rakib?

Host Dr.M.Ishaq Shamad menjelaskan bahwa dosa dan pahala manusia pasti tercatat dengan rapih oleh Malaikat Atid dan Rakib, namun di hari akhirat, bagi orang yang diampuni dosanya oleh Allah Swt, hanya sekedar diperlihatkan saja (ibaratnya seperti layer tancap), kemudian dihapus, sehingga yang tinggal, hanya amal baiknya saja.

Host Dr.Nurjannah Abna menutup dengan mengemukakan bahwa anak yang lahir memiliki fitrah kesucian, sehingga anak-anak tidak akan menanggung dosa dari kedua orang tuanya.

“Tetapi sebaliknya setiap orang akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah Swt, tutupnya. (*)