oleh

Pusat Belanja Rawan Penyebaran Covid-19

Editor :Armansyah-Berita, HL, Megapolitan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Tidak bisa dipungkiri, animo masyarakat untuk berbelanja jelang hari Raya Idulfitri sangat tinggi. Belakangan ini, pusat perbelanjaan khususnya di Kota Makassar dipadati pengunjung.

Masyarakat dari berbagai daerah di Sulsel bahkan memanfaatkan waktu yang tersisa beberapa hari sebelum adanya pembatasan atau pelarangan perjalanan.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu warga kabupaten Barru, Amelia. Ia mengatakan, sengaja berkunjung ke Makassar untuk berbelanja sebelum pelarangan mudik berlaku tanggal 6 Mei mendatang.

“Ke Makassar mau belanja persiapan lebaran. Sudah banyak berita-berita kalau tanggal 6 Mei dilarang bepergian,” ucapnya saat ditemui di salah satu mall di Makassar.

Merespon padatnya pusat perbelanjaan di Makassar, Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman khawatir terjadi ledakan kasus, atau muncuknya klaster baru Covid-19. Apalagi, saat ini kondisi Covid-19 di Sulsel sudah mulai menurun.

“Sekarang kita bisa lihat, masyarakat sudah mulai memadati pusat-pusat perbelanjaan untuk beli baju baru dan keperluan Lebaran,” kata Andi Sudirman, Minggu, (2/5).

Ia mengungkapkan, masyarakat tidak boleh abai di tengah pandemi Covid-19. Warga tidak seharusnya berdesak-desakan seperti itu, tanpa menjaga jarak, apalagi tidak memakai masker.

Andi Sudirman juga mengimbau masyarakat agar tidak berkerumun dengan memadati pusat perbelanjaan.

“Kondisi sekarang sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.

Andi Sudirman akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, untuk melakukan penertiban. Ia akan memanggil Pemerintah Kota Makassar, juga para pengelola pusat-pusat perbelanjaan, untuk mencari solusi.

“Kita akan segera melakukan rapat dengan semua stakeholder. Kita cari solusinya bersama sama,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemerintah sudah berupaya memutus angka penularan Covid-19 dengan mengeluarkan aturan larangan mudik. Karena itu, harus didukung dengan upaya-upaya lain, khususnya mengatasi fenomena jelang Lebaran Idulfitri ini.

“Masyarakat harus terus diberi pemahaman bahwa Covid-19 itu masih ada. Mereka harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumuman, hingga membatasi mobilitas,” terangnya.

Tim Ahli Daya dan Epidemiolog Gugus Tugas Sulsel, Ridwan Aminuddin mengingatkan, Hari Raya Idulfitri menjadi momen yang patut diwaspadai. Berkaca pada lebaran tahun lalu, angka positif Covid-19 melambung tinggi meski ada pemberlakuan pembatasan sosial.

“Masyarakat harus berhati-hati, jangan menganggap enteng virus Corona, ini sangat berbahya. Jangan sampai kita terserang bom Covid-19,” tegasnya.

Ditambal lagi, virus varian baru asal India sudah masuk di Indonesia, sepuluh orang dinyatakan terinfeksi, karena itu masyarakat tidak boleh abai. Protokol kesehatan harus tetap bisa ditegakkan.

“Kalau masuk di Indonesia itu gawat, karena daya tularnya jauh lebih cepat dibandingkan varian lama,” sebut Ridwan Aminuddin.

Virus varian baru ini memiliki daya tular yang sangat tinggi, celakanya saat terinfeksi tidak sama sekali gejala yang ditimbulkan, virus ini langsung menyerang paru-paru manusia.

“Mutasi virus ini terjadi karena varian lama tidak mampu bertahan pada situasi yang ada, karena itu dia mengubah diri untuk lebih memiliki daya tahan tinggi. Itulah daya tahan tinggi juga memiliki daya serang tinggi,” paparnya.

Karena itu Indonesia tida boleh tinggal diam, langkah pemutusan covid varian baru ini harus segera dijegat agar tak memakan banyak korban. Apalagi dua pekan ini kasus Covid-19 di Indonesia mulai bergerak naik.

“Harus diwaspadai karena satu dua pekan kasus nasional mengalami peningkatan meskipun di Sulsel zona kuningnya banyak, yang oranye sisa tiga daerah,” ulasnya.

Beberapa masukan dari ketua tim konsultan Gugus Tugas Covid Sulsel ini, yakni pemerintah harus memperketat pengawasan terhadap orang yang keluar masuk Indonesia, pemerintah harus menggalakkan kembali program karantina atau isolasi.

Yang paling penting adalah meningkatkan tracing kontak, kata Ridwan tracing kontak sejauh ini sudah mulai kendur, padahal upaya ini sangat penting untuk mencegah penularan virus corona.

“Kalau kendur berarti tidak tertangkap kasus-kasus lain. Kita harap refocusing anggaran bisa meningkatkan tracing pada tingkat komunitas atau kelompok berisiko tinggi,” tutupnya. (*)

Komentar