oleh

Insentif Guru Honorer di Sulsel Naik

Editor :Armansyah , Penulis : Ami-Berita, Megapolitan, Pemerintahan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Hari pendidikan nasional diperingati setiap 2 Mei. Pendidikan dari masa ke masa mengalami perubahan, apalagi dengan situasi dan kondisi pandemi covid-19 yang terkesan masih asing dimata tenaga pendidik, siswa, apalagi orangtua.

Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Muhammad Jufri mengatakan, poin Hardiknas tahun ini yakni memperbaiki kualitas guru untuk bisa melakukan transformasi digital. Setiap sekolah harus mempersiapkan pembelajaran digital di sekolah.

“Kemudian untuk sekolah khususnya SMK, ini kita dorong agar bisa meningkatkan keahliannya masing-masing di bidang peralatan yang mereka punya,” ujarnya.

Saat ini sudah ada 19 SMK berbadan layanan umum daerah atau BLUD. Tujuannya mahar sekolah tersebut mempunyai fleksibilitas dalam mengelola keuangan.

“Jadi yang punya peralatan otomotif bisa buka servis, yang punya industri roti boleh jual roti, supaya tidak diperiksa karena kumpulkan uang dari masyarakat, kita buatkan payung hukum, kita buatkan BLUD,” urainya.

Sementara soal kesejahteraan guru, mulai tahun ini upah honorer dinaikkan dari Rp10 ribu per jam menjadi Rp15 ribu per jam. Dia mengatakan kenaikan insentif bagi guru honorer sudah berjalan tahun ini.

“Kesejahteraan guru yang kita lakukan khusus tahun ini honorer dari sebelumnya 10 ribu per jam sekarang 15 ribu per jam. Mulai sekarang, yang APBD-nya. Kita minta yang dana Bos menyesuaikan,” katanya.

Mantan Dekan Fakultas Psikologi UNM, mengatakan Pemprov Sulsel dibawa Dinas Pendidikan mencatat, ada 11 ribu guru honor SMA/SMK dan sederajat tersebar di 24 Kabupaten dan Kota se-Sulsel.

Namun, kenaikan insentif ini hanya berlaku bagi tenaga honorer yang dibiayai oleh APBD. Jumlanya 3.400 orang. Saat ini jumlah guru honorer yang tercatat mencapai 11.000 orang.

“Kan ini dari 11 ribu (guru honorer) itu ada 3,400 dibayar di APBD. Sisanya itu dibayar melalui dana bos sekolah. Nah untuk dana bos diharapkan menyesuaikan keputusan yang kita ambil Rp 15 ribu per jam,” sebutnya.

Sementara untuk guru honorer yang diangkat melalui sekolah akan dibackup melalui dana bos 6.000 lebih guru honorer diangkat melalui sekolah.

Jufri berharap gaji mereka juga dapat menyesuaikan seperti gaji guru honorer yang dibiayai oleh APBD. Untuk anggaran, gaji honorer, Jufri mengaku pihaknya menyediakan alokasi insentif sebanyak Rp 38 miliar.

Sementara itu Asisten 1 Pemprov Sulsel Andi Aslam Patonangi menilai perayaan Hardiknas sebenarnya merupakan refleksi semangat. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, sekolah digital merupakan sesuatu yang sangat krusial.

Meski secara terbatas sudah ada sekolah yang melakukan kegiatan sekolah tatap muka, digitalisasi pendidikan tetap menjadi suatu hal yang mutlak. Hanya saja, fasilitas atau prasarananya masih sangat terbatas.

Untungnya kata Aslam, ada banyak pihak atau instansi yang membantu, misalnya bantuan gadget dari PT Telkom, bantuan kota gratis yang tercover dalam dana BOS, hingga program merdeka belajar dari Mendikbud.

“Disini diperlukan kreativitas teman-teman guru, tenaga pendidik harus mencurahkan segenap pemikiran agar keluar pemikiran kreatif sehingga sekolah daring pun tidak kalah kualitasnya. Bahkan kita berusaha lebih baik dibandingkan sekolah tatap muka. Namun harapan untuk menuju sekolah tatap muka tetap ada tapi kita masih exercise tugas sekolah,” jelasnya.

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah distribusi guru. Aslam menegaskan, guru-guru harus merata. “Jangan ada sekolah yang guru ASN nya hanya 3, ada juga yang 10. Ada satu sekolah guru matematikanya 10 misalnya, tapi ada juga sekolah yang 1 guru matematikanya, itu perlu dirasionalisasi,” tegasnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim menyampaikan, dalam rangka Hardiknas, terlalu lama pemikiran Bapak Pendidik Indonesia Ki Hajar Dewantara tidak dimanfaatkan sepenuhnya, pemikiran tersebut harus dijiwai dan dihidupkan kembali agar tercipta pendidikan berkualitas tinggi.

Pendidikan di Indonesia semakin bertransformasi, Nadiem berharap pelajar Indonesia tetap berpegang teguh pada falsafah Pancasila, pelajar yang merdeka sepanjang hayatnya, dan mampu menyongsong masa depan dengan percaya diri.

Kata Nadiem, salah satu terobosan Mendikbud di tengah transformasi pendidikan yakni merdeka belajar. Ada empat elemen dari program tersebut, ialah perbaikan infrastruktur dan teknologi, perbaikan Kebijakan, prosedur, dan pendanaan serta memberikan otonomi lebih bagi satuan pendidikan.

“Sepuluh episode merdeka belajar telah diluncurkan dan akan masih banyak lagi terobosan-terobosan merdeka belajar lainnya yang akan dilakukan,” ucap Nadiem Makarim, Minggu (2/Mei).

Krisis pandemi dijadikan sebagai ladang untuk memacu optimisme. Bagi Nadiem, krisis adalah kesempatan untuk menuai kemajuan. Bukan hanya pandemi, di depan masih banyak tantangan yang menanti, karena itu ia mengajak seluruh masyarakat untuk menemukan solusi dan terus berinovasi. Untuk mewujudkan merdeka belajar perlu gotong royong.

“Saat ini ada sebagian yang sudah menerapkan pembelajaran tatap muka secara terbatas, ada juga yang tengah bersiap. Saya bersemangat melihat masyarakat sadar bahwa kita harus terus bergerak maju,” jelasnya. (*)