oleh

Cak Imin Punya Kans Besar mendapat dukungan dari GenZ. Kok bisa?

Editor :Armansyah , Penulis : Suryadi-Berita, Best People, Komunitas-

JAKARTA, RAKYATSULSEL.CO – Institute Kebangsaan menggelar ngobras Ramadhan dengan menghadirkan direktur lembaga survey Alvara institute dan direktur lembaga riset dan advokasi Lanskap Indonesia di Kafe Kala Tebet, Jumat (30/4) malam.

Menurut, Hasanuddin Ali Direktur Lembaga Survey Alvara Institute bahwa Generasi Milenial Indonesia akan menajdi populasi terbesar saat indonesia memasuki usia emas 2045. Potensi suara mereka yang sangat besar selalu menarik jika dikaitkan dengan pilpres 2024.

“Kita akui sekalipun pilpres masih lama, 3 tahun lagi, namun semua hiruk pikuk hari ini pasti terkait dengan pilpres 2024,” ujar Hasanuddin Ali mengawali paparannya.

Saat ini publik menangkap polarisasi yang semakin meruncing. Setelah pilpres yang awalnya dianggap selesai, ternyata tidak. Maka dibutuhkan politik yang sehat dimasa depan. Dibutuhkan jalan lain untuk membaw politik yang segar di Indonesia.

Pada tahun 2024. Separuh lebih pemilih adalah gabungan generasi milenial san GenZ/pemilih muda. Dan harus diakui untuk mendapat atensi kelompok pemilih muda ini tidak muda.

“Jadi kalau ditanya ke milenial, figur seperti apa yang akan dipilih, susah dijelaskan. Dibutuhkan cara yang jitu untuk bisa berhubungan dengan generasi ini,” ujarnya.

Beberapa studi lembaga dunia, salah satunya World Economic Forum, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang akan mendapatkan atansi bagi pemilih muda. Pertama Isu dan perhatian terhadap kwalitas pendidikan. Kedua Isu ketenagakerjaan. Ketiga Isu lingkungan, perubahan iklim dan pembangunan rendah karbon. Keempat Isu transparansi tata kelola pemerintahan.

“Jadi kuncinya, figur-figur yang bisa bicara dengan jelas soal 4 hal ini pasti mendapatkan perhatian generasi milenial dan GenZ,” ujar direktur Alvara research itu.

Tidak muda mendpapatkan perhatian dari milenial. Mereka cenderung apatis namun juga mereka sebenarnya memperhatikan kondisi politik. Suara milenial juga susah ditebak, sebab mereka seringkali baru memutuskan dihari hari terakahir menjelang pencoblosan.

Yang penting tidak dimusuhi anak anak milenial. Sekali mendapatkan atensi dan perhatian, maka peluang mendapatkan suara dari pemilih milenial akan besar. Berteman bergaul dengan milenial adalah kunci.

“4 hal diatas adalah isu yang  banyak diperbincangkan anak anak milenial. Maka jika seorang capres hadir  dalam tema perbincangan diatas, maka otomatis seorang capres akan mulai dikenal dikalangan milenial,” terang Hasanudin Ali.

*Digital dan milenial*.

Digital adalah tools. Dia bisa berdaya guna saat digunakan dengan tepat. Jadi kandidat capres harus paham digital? Harus. Sebab digitalisasi dan platform digital sudah digunakan hampir 88 pemilih milenial dan okeh 94 persen GenZ. Mereka adalah digital native generation.

“Karena itu menggunakan platform digital adalah pilihan yang harus digunakan oleh seorang capres atau sosok pemimpin,” papar Hasanudin Ali memberikan referensi di Jakarta.

Sedangkan, Agung Wasana Direktur lembaga riset dan advokasi Lanskap Indonesia menuturkan, Genz juga tidak kalah menarik untuk kita perhatikan. Sebab mereka jumlahnya amat besar. Jumlah mereka mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen.

Dengan jumlah yang sangat besar pengaruhnya terhadap kemenangan seorang capres pada pemilu 2024 juga sangat besar. Dukungan terhadp GenZ akan sangat berpengaruh terhadap kemenangan seorang kandidat calon presiden.

“Kalau menggunakan parameter capaian kinerja dan legacy pasti GenZ belum memiliki. Karena itu yang dibutuhkan oleh GenZ adalah dukungan dan kesempatan,” katanya.

Dikatakan, seorang pemimpin yang dapat memberikan apresiasi terhadap  posisi dan potensi GenZ  akan mendapatkan dukungan dari mereka.

Menurutnya, Gus Ami memiliki posisi politik yang unik. Sebab menjadi Ketua umum partai politik sekaligus wakil Ketua DPR RI bidang koordinator Kesejahteran Rakyat.  Konsistensi Gus Ami dalam memperjuangkan pendidikan murah dan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup bisa menjadi modal besar mendapatkan dukungan dari milenial. (*)