oleh

BAIN HAM RI Parapare Tarik Diri Sebagai Pendamping Hukum Dugaan Pelecehan di Barru

Editor :Ridwan Lallo-Megapolitan-

BARRU, RAKYATSULSEL.CO – Badan Advokasi Investigasi Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (BAIN HAM RI ) DPD Parepare menyatakan menarik diri dari pendampingan 4 korban dugaan pelecehan yang diduga dilakukan salah satu kepala dinas di Kabupaten Barru.

Ketua DPD BAIN HAM RI Parepare, Darussalam mengatakan, ada beberapa alasan sehingga pihaknya menarik diri sebagai pendamping 4 korban tersebut. Salah satunya setelah melakukan penggalian fakta dengan melakukan interogasi terhadap pelapor dan korban lainnya menemukan adanya keterangan yang berubah-ubah.

“Jadi keterangannya itu berubah-ubah. Kami menemukan adanya keterangan tidak pasti dan tidak fokus pada pelecehan yang di alami,” kata Darussalam.

Darussalam menduga jika kasus ini bukan murni kasus pelecehan, tapi ada unsur lain, termasuk soal jabatan. “Kenapa? Karena pada saat korban ditanya kenapa waktu kamu merasa mendapat perlakuan dugaan pelecehan tidak langsung melapor di polisi, kenapa melapornya ke sekda, salah satu dari mereka dengan spontan menjawab karena kita mau kalau pak kadis dicopot atau di pecat. Kami pikir ada unsur lain dalam kasus ini. Mungkin soal jabatan, ada dalang dari semua itu,” ucap Darussalam.

Darussalam menegaskan, BAIN HAM RI selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan di atas segalanya. “Kami tidak mau dikuasai oleh nafsu untuk menjastis seseorang bersalah tanpa dasar dan bukti yang kuat,” tegasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Sekretaris Umum DPD BAIN HAM RI Parepare, Anton Malolo. Menurutnya, kasus ini bermuatan politis. Pasalnya, saat mengambil keterangan, para korban memberi jawaban yang berubah-ubah.

“Korban memberikan keterangan selalu berubah-ubah dan dari keterangan korban juga kami menduga kalau masalah ini tidak subtansi dan arahnya ke masalah jabatan indikasinya lebih pada politis dan dipaksakan, sehingga kami sebagai pendamping mereka menarik diri,” tegas Anton. (*)