oleh

Angka Terorisme di Sulsel Tertinggi di Indonesia

Editor :Armansyah , Penulis : Ami-Berita, HL, Hukum-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Provinsi Sulawesi Selatan mejadi perhatian. Dalam waktu sepekan tiga Menteri telah bertandang ke Sulsel, mulai dari Menteri Sosial Tri Rismaharini pada Selasa lalu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian Rabu-Kamis, serta Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Kemananan (Menkopolhukam) Mahfud MD.

Dalam konferensi Pers yang digelar di Gereja Katedral, Mahfud MD menyebut, Sulsel menjadi daerah tertinggi jumlah terorisnya. Dimana dari 83 terduga teroris yang sudah ditangkap 33 diantaranya berasal dari Sulawesi Selatan.

“Jadi ini jadi catatan ternyata di sini paling banyak, di daerah lain ada Jogja, Jakarta, Semarang dan sebagainya,” sebut Mahfud, Jumat (23/4).

Langkah konkret telah dilakukan pemerintah kata Mahfud, sudah ada prosedurnya dan ada langkah hukum oleh aparat. Hanya saja, penangkapan teroris dilakukan secara berhati-hati.

“Harus ada bukti kalau mau tangkap orang, beda dengan teroris, kan teroris tidak pakai aturan, kalau mau bom bom aja,” ujarnya.

Mahfud menjelaskan, terorisme tidak mewakili agama tertentu. Agama dimanapun mengajarkan kebaikan umat manusia, selain mengabdi atau melayani tuhan, agama itu juga mengabdi demi kebaikan manusia.

Terorisme merupakan kejahatan yang sangat luar biasa dan musuh semua agama sehingga harus dilawan secara bersama.

“Bahwa pelakunya mengaku berjuang atas nama agama, bagi paham dan kesadaran normal itu adalah paham sesat kalau memperjuangkan agama melalui teror,” sebutnya.

Sementara Uskup Agung Johannes Liku Ada, menyampaikan kunjungan Menko Polhukam menjadi dukungan bagi masyarakat. Ia berharap, agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi di Makassar.

“Kita percaya pemerintah sungguh serius terkait itu,” jelasnya.

Tugas saat ini memberikan kesadaran kepada umat masing-masing bahwa tindakan terorisme tidak dibenarkan oleh semua agama.

“Kami khususnya pelayan mempunyai tugas luhur memberi kesadaran kepada umat masing-masing yang sebenarnya tidak ada agama yang membenarkannya,” jelasnya. (*)